**************************************************
I. Siapa?
Entah sejak kapan aku berada di ruangan yang asing bagiku ini. Nyala
sebuah lampu kecil di tengah langit langit tak cukup untuk menerangi
tempat ini, semuanya remang remang dan tak begitu jelas. Hawa dingin
yang kurasakan membuatku kadang menggigil, padahal saat ini aku
berpakaian lengkap. Aku mengenakan salah satu stel pakaian santai yang
cukup sering kupakai kalau aku berpergian ke mall.
Namun yang membuatku merasa takut, sekarang ini aku duduk di sebuah
kursi, tak bisa bergerak bebas. Kedua pergelangan tanganku yang menyatu
di belakang sandaran kursi ini terikat erat. Sedangkan kedua
pergelangan kakiku terikat erat pada ujung kiri dan ujung kanan kaki
kursi ini. Perutku ini juga terikat pada sandaran kursi, hingga aku tak
bisa ke mana mana lagi.
![]() |
Eliza |
Oh, apa yang terjadi padaku? Apakah aku diculik?
Selagi aku berusaha mengingat ingat mengapa aku sampai berada di
tempat ini, tiba tiba pintu ruangan ini terbuka, dan aku melihat ada
seseorang yang masuk dan mendekatiku.
“Siapa?” tanyaku dengan sedikit panik.
Tak ada jawaban. Dan yang makin membuatku merasa ngeri, pakaian
orang itu serba gelap. Bahkan ketika ia sudah cukup dekat, aku baru
melihat kalau orang itu ternyata memakai topeng yang menutupi bagian
lingkar kedua matanya, hingga rasanya aku tak mungkin bisa mengenali
wajahnya.
“Kamu siapa? Ka… kamu mau apa…?” desisku ketakutan tanpa bisa berbuat apapun.
Orang itu seperti tak perduli dengan pertanyaanku, ia malah
membelai rambut dengan lembut. Aku tertegun sejenak, dan belum sempat
aku berpikir atau berbuat sesuatu, tiba tiba wajah orang bertopeng ini
sudah berada sedekat ini di hadapan wajahku, hingga membuatku terhenyak
dan menahan nafasku.
Sempat kuperhatikan, bentuk bibir, dagu, hidung, dan lingkaran
serta bulu matanya, dan aku yakin kalau ia adalah seorang wanita. Aku
melihat ia tersenyum padaku, lalu ia mulai mencumbuiku wajahku dengan
lembut. Diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita yang aku tak tahu
berwajah seperti apa, dan entah kukenal atau tidak, jantungku berdegup
kencang dan wajahku terasa panas.
Setelah beberapa lama, kini aku antara pasrah dan menikmati cumbuan
ini, dan tiba tiba bibirku dipagutnya dengan mesra. Aku sudah tak bisa
berpikir lagi. Dengan memejamkan mata, aku langsung membalas pagutan
wanita yang mengenakan topeng itu dengan penuh perasaan.
Kami berdua saling berpagut dengan panas, dan baru berhenti setelah
akhirnya kami sama sama kehabisan nafas. Aku membuka mataku, dan kini
wajah kami berdua tetap saling berhadapan hingga kami bisa saling
merasakan hangatnya dengus nafas kami selagi saling bertatapan seperti
ini.
“Kamu siapa?” dengan suara pelan aku memberanikan diri untuk
bertanya lagi pada wanita itu, dan memang sebenarnya aku penasaran ingin
tahu siapa wanita yang baru saja bercumbu denganku ini.
Tapi jawaban yang kuterima hanyalah sebuah kecupan lembut pada
bibirku. Lalu ia meraba pipiku dengan mesra, membuatku merasa sedikit
jengah, namun aku hanya bisa pasrah saja. Dan aku memejamkan mataku
ketika ia mengecup pipi kananku, dan ia terus melanjutkan cumbuannya
sampai ke telinga kananku hingga aku sedikit menggigil kegelian.
“Eliza… Cie Cie bukain bajumu ya,” kudengar bisikan yang lebih mirip desahan di telinga kananku.
Cie Cie? Cie Cie siapa? Aku menatapnya sejenak, heran karena ia
mengetahui namaku. Apakah aku juga mengenalnya? Tidak, aku tak bisa
mengenali suara Cie Cie ini. Tapi entah kenapa tiba tiba aku merasa
aman, dan tanpa ragu aku mengangguk pasrah.
Dan berikutnya ia membuka kancing bajuku, satu persatu. Ia
melakukan itu dengan perlahan, membuatku merasa begitu sexy saat bajuku
sudah terbuka sampai setengah bagian.
Remasan lembut pada kedua payudaraku ini membuatku terbakar gairah.
Dalam keadaan terikat di kursi seperti ini, aku balas mencium leher Cie
Cie itu yang kebetulan berada di hadapan wajahku selagi Cie Cie itu
mengecup telingaku.
“Ooh…” Cie Cie itu merintih mesra.
Kami kembali saling bertatapan, dan Cie Cie itu memagut bibirku
dengan penuh nafsu. Aku membalas pagutan itu dengan sejadi jadinya.
“Cie… Cie Cie ini siapa?” aku bertanya lagi di tengah nafasku yang memburu setelah kami saling melepaskan pagutan ini.
Lagi lagi ia mengecup bibirku dengan lembut tanpa menjawab.
Kemudian ia malah mengeluarkan sehelai kain hitam, yang lalu dilipatnya
beberapa kali hingga kain itu berukuran kecil dan memanjang. Aku
memejamkan mataku ketika ia menutupkan kain itu pada kedua mataku, dan
aku diam saja ketika kain itu dilingkarkan dan diikatkan di belakang
kepalaku.
Aku tak bisa melihat apa apa lagi. Kini aku hanya bisa pasrah
menunggu dan menebak nebak apa lagi yang kira kira akan dilakukan Cie
Cie itu padaku. Tiba tiba kepalaku jadi sedikit pening saat aku mencoba
mengingat mengapa aku sampai berada di tempat ini.
-x-
II. Penyesalanku Akibat Berpura Pura Tidur
“Yul… Yulita! Nanti Eliza bangun!” samar samar kudengar sebuah suara yang kukenal, yaitu suara Cie Natalia!
“Nggak apa apa deh Nat… kalau bangun, biar nanti kuajak bercinta
sekalian,” kudengar suara seorang gadis yang dipanggil dengan nama
Yulita itu, dan dari caranya memanggil Cie Natalia, sepertinya Cie
Yulita ini teman sebaya Cie Natalia.
Entah apa yang terjadi, sekarang ini aku sedang dalam keadaan
terbaring, bukan dalam keadaan duduk terikat. Walaupun kini tak ada
ikatan yang membelenggu kedua tangan dan kakiku, aku sedikit merasa aneh
dan kuatir, karena dari tadi rasanya aku tidak bergerak sedikitpun,
juga rasanya tak ada yang sempat memindahkanku untuk berbaring di sini.
Eh? Di mana ini? Dan mengapa aku masih tak bisa melihat apapun? Apa yang terjadi padaku?
Tapi sekarang aku mulai mengenali aroma ruangan ini. Aku masih
berada di kamar Cie Natalia. Dan aku mulai memikirkan tentang perkataan
Cie Natalia dan Cie Yulita tadi.
Seketika aku menyadari tadi itu semua cuma mimpi, dan kini aku
sudah terbangun. Dan mendengar suara Cie Natalia tadi, aku tahu ia ada
di dekatku, maka aku jadi merasa sedikit tenang.
Tentang mengapa aku tak bisa melihat, kini aku menyadari ada
sesuatu yang menempel dan menutupi pandangan kedua mataku. Mungkin ini
adalah kain hitam, seperti dalam mimpiku tadi, tapi rasanya bukan kain
biasa.
Sebuah kecupan lembut hinggap di bibirku. Aku hanya diam saja, tak tahu harus berbuat apa.
“Yuul… kamu kok ngawur sih!” aku mendengar bisikan Cie Natalia lagi.
Tapi kecupan ini malah berubah menjadi pagutan hingga aku menahan
nafas saat jantungku berdetak kencang dan gairah mulai menghinggapi
diriku.
Kalau yang disebut oleh Cie Natalia sejak tadi adalah Cie Yulita,
berarti yang sedang memagut bibirku ini adalah Cie Yulita. Dan aku tetap
diam, bahkan aku berusaha tak bereaksi sambil tetap menahan nafasku.
“Yul… kamu gila ya? Jangan terusin ah!” Cie Natalia mulai mengomel walaupun dengan nada berbisik.
“Mmmhh…” desah Cie Yulita di tengah nafasnya yang tersengal sengal
setelah melepaskan pagutannya yang kurasakan begitu mesra itu pada
bibirku.
Aku sendiri sudah hampir meronta karena dadaku terasa sesak, bahkan
mungkin aku akan terbatuk batuk kalau ciuman tadi berlangsung beberapa
detik lebih lama. Untung saja Cie Yulita sudah melepaskan pagutannya
pada bibirku. Dengan sebisanya aku mengatur nafasku yang juga sempat
tersengal ini, dan setelah aku berhasil menenangkan nafasku, aku tetap
berusaha untuk berpura pura masih dalam keadaan tidur.
“Yul… kamu ini gimana sih! Liat tuh, hampir aja Eliza bangun!”
kudengar Cie Natalia mengomel dengan berbisik setelah mereka berdua
sempat terdiam beberapa saat, mungkin karena tadi mereka melihat nafasku
yang sempat tersengal sesaat.
“Tenang deh Nat, sleeping beautymu ini masih tidur kok,” jawab Cie Yulita pelan dengan nada yakin.
Saat itu juga aku merasakan belaian lembut pada rambutku, pipiku,
dan akibatnya getaran halus kembali menjalari tubuhku, menambah siksaan
padaku yang sudah cukup terangsang akibat pagutan bibir Cie Yulita yang
semesra itu pada bibirku tadi.
“Tapi Yul…” Cie Natalia kembali berbisik dengan nada kuatir.
“Nat… kamu kenapa sih?” tanya Cie Yulita balik dengan berbisik pula. “Kamu cemburu ya?”
“Eh? Yu… Yul… mmmhh…” kudengar Cie Natalia merintih lemah.
Kini aku mendengar rintihan tertahan dari mereka berdua. Aku
membayangkan mungkin tadi itu Cie Yulita menyergap Cie Natalia, dan
sekarang ini mereka pasti sedang saling berpagut bibir dengan panasnya.
Dan, mereka tega membiarkan aku yang kini jadi sedikit kecewa, karena
sekarang ini aku sudah mulai terbakar gairah, namun aku tak tahu harus
berbuat apa dalam kesendirianku ini.
Tiba tiba aku jadi ingin tahu, seperti apa ya Cie Yulita itu? Apakah ia juga secantik Cie Natalia?
Tapi aku tak bisa melihat apa apa, sedangkan kalau aku nekat
membuka kain yang menutup mataku ini dan mereka tahu kalau aku sudah
bangun, entah apa yang akan terjadi.
Mungkin saja kami bertiga jadi saling bermesraan dan bercumbu, bahkan saling bercinta dengan panas malam ini.
Tapi mungkin juga kami bertiga malah menjadi canggung, karena Cie
Natalia itu masih sepupuku sendiri, dan aku juga belum mengenal Cie
Yulita.
Mengingat akan adanya kemungkinan yang terakhir itu, aku memutuskan
untuk tetap diam, karena selain aku tak ingin merusak suasana, aku
menyadari tadi itu aku amat menikmati sentuhan dan cumbuan Cie Yulita
pada wajahku saat aku dalam keadaan tak bisa melihat apa apa. Dan aku
menginginkan hal itu terjadi lagi.
Aku memang tak tahu bagaimana wajah Cie Yulita, bentuk matanya,
bibirnya, ataupun bentuk tubuhnya, tapi itu semua malah menambah sensasi
buatku saat Cie Yulita mencium bibirku tadi. Dan aku berharap akan
diperlakukan seperti itu lagi kalau Cie Yulita mengira aku masih tidur.
“Ngghhk… Yuul…” rengek Cie Natalia mesra.
Sedang apa ya mereka?
Duh, kalau begini kan mereka itu membuatku makin iri aja.
“Mmphh… Yul… udah dong… Kalau Eliza sampai bangun, terus dia liat
kita begini, nanti aku kan yang repot!” kudengar suara Cie Natalia
memprotes.
Suasana jadi hening sejenak.
“Tapi Nat… aku…” Cie Yulita mengeluh.
“Udah, jangan terusin lagi, please Yul… besok besok kan masih
bisa?” protes Cie Natalia. “Lagian, sekarang ini udah jam dua belas
malam. Kamu nggak pulang ta Yul?”
Suasana kembali hening. Ternyata sekarang ini baru jam dua belas
tengah malam. Ini artinya aku cuma sempat tertidur sekitar hampir satu
jam saja.
“Ya udah deh… aku pulang sekarang. Tapi antarin aku sampai ke mobil ya sayang…” rengek Cie Yulita.
“Iya iya…” jawab Cie Natalia dengan nada suara seperti menghibur anak kecil yang manja.
‘klik’, kudengar handel pintu kamar ini terbuka, dan mereka
meninggalkanku sendirian di dalam sini setelah menutup pintu. Aku
menunggu beberapa saat hingga aku yakin mereka sudah turun ke bawah,
lalu aku meraba raba kain yang menempel dan menutupi kedua mataku ini,
mencoba untuk mencari tahu benda apakah ini, sampai akhirnya aku
menyadari dan bisa memastikan ini adalah sebuah blindfold.
Tapi aku tak melepaskan blindfold ini, dan aku menaruh tanganku ke
dalam bedcover kembali. Jadi Cie Natalia tak akan tahu kalau aku sudah
bangun. Dan aku diam menunggu Cie Natalia kembali. Selagi menunggu, aku
memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Aku tertidur hampir satu jam. Aku jadi bertanya tanya, sejak kapan
dan seberapa lama Cie Yulita mencumbuiku? Apakah aku bermimpi aneh
seperti tadi itu karena aku memang sudah dicumbui seperti itu oleh Cie
Yulita saat aku masih tertidur?
Mungkin saja. Dan teringat akan hal itu, tiba tiba wajahku terasa
panas. Aku tak tahu apakah aku sempat benar benar membalas pagutan Cie
Yulita selagi aku masih tertidur tadi. Dan harus kuakui, tadi itu saat
aku dicumbui oleh Cie Yulita yang belum kukenal dan juga belum kuketahui
wajahnya selagi aku mengenakan blindfold ini, adalah suatu sensasi baru
bagiku. Dan aku amat menikmatinya.
Kemudian aku teringat saat Cie Natalia dan Cie Yulita saling
merintih. Aku cukup yakin kalau waktu itu mereka sedang berciuman. Dan
dari percakapan mereka yang tadi, aku rasa mereka memang sudah terbiasa
seperti itu, walaupun entah apakah juga sudah sejauh seperti yang aku
lakukan dengan Jenny, Sherly ataupun Cie Stefanny.
Dan teringat itu semua, nafasku jadi sedikit memburu seiring
gairahku yang kembali bergejolak. Tapi aku sadar kalau aku harus cepat
menekan gairahku ini. Bagaimana aku bisa tidur kalau semua hal erotis
itu memenuhi benakku?
Tiba tiba kudengar pintu kamar ini terbuka, lalu tertutup kembali.
“Eliza…?” aku mendengar Cie Natalia berbisik pelan memanggilku.
Aku diam, bingung entah aku harus menjawab atau tetap pura pura tidur.
“Eliza…” Cie Natalia memanggilku lagi dengan suara yang sepelan tadi.
Ingin rasanya aku bangun, memeluk Cie Natalia, memuaskan gairahku
yang bangkit akibat cumbuan Cie Yulita tadi, yang lalu terputus di
tengah jalan dan tak diteruskan itu. Tapi aku takut membayangkan apa
pikiran Cie Natalia tentang diriku kalau sampai ia mengerti bagaimana
tadi aku pura pura tidur walaupun dihujani ciuman dan pagutan oleh Cie
Yulita seperti itu.
Maka aku memutuskan untuk tetap berpura pura tidur, walaupun sebenarnya aku ingin sekali bercumbu dengan Cie Natalia.
“Hmmh… untung deh kamu nggak sampai bangun gara gara Yulita tadi,”
kudengar Cie Natalia yang berkata pelan dengan nada lega, tampaknya ia
sudah yakin kalau aku benar benar masih tidur.
Sesaat kemudian aku mendengar bunyi saklar lampu yang ditekan. Tampaknya Cie Natalia sudah mematikan lampu utama kamar ini.
Aku segera memejamkan mataku ketika kurasakan Cie Natalia perlahan
melepaskan tali blindfold ini dari kepalaku. Aku berusaha menekan
gairahku, dan sebisanya aku tetap memejamkan mataku dengan sewajar
mungkin.
Namun, aku tak menyangka kalau sesaat kemudian Cie Natalia malah membuat keadaan menjadi semakin sulit buatku.
“Tapi bukan salah Yulita… abisnya kamu memang cantik…” desah Cie Natalia sambil membelai rambutku.
Dan sebuah kecupan yang begitu mesra pada bibirku membuat
perasaanku tersengat. Berikutnya ketika Cie Natalia mulai mencumbui
wajahku, perlahan sekali aku meremas sprei ranjang ini dengan kedua
tanganku. Sekuat tenaga aku bertahan agar aku tak menuruti perasaanku
untuk membalas ciuman dan cumbuan Cie Natalia, apalagi sampai memeluk
tubuh Cie Natalia yang pastinya sedang berada dalam jangkauan kedua
tanganku ini.
Entah sampai kapan aku kuat bertahan seperti ini. Pikiranku
melayang ke mana mana, apalagi aku tak pernah membayangkan dicium dengan
mesra seperti ini oleh Cie Natalia. Tapi untung akhirnya Cie Natalia
menghentikan cumbuannya.
“Tapi… kalau kamu sampai tahu Cie Cie seperti ini… Cie Cie takut
kamu nggak akan mau dekat sama Cie Cie lagi…” keluh Cie Natalia yang
lalu mengecup keningku.
Oh… kalau saja Cie Natalia tahu, aku amat suka diperlakukan seperti
ini olehnya. Kalau saja aku bisa memberitahunya… ingin rasanya aku
menjerit meneriakkan isi hatiku pada Cie Natalia, dan aku mulai menyesal
mengapa tadi aku harus pura pura tidur.
Kemudian Cie Natalia berbaring dengan perlahan di sampingku, dan
kini kami berdua berada di dalam bedcover yang sama. Beberapa kali aku
merasakan kulit tanganku bersentuhan dengan kulit tangan Cie Natalia,
dan rasanya tubuhku menggigil ketika aku harus kembali berjuang menahan
gairahku agar aku tidak berbuat sesuatu terhadap Cie Natalia.
Entah berapa lama, akhirnya Cie Natalia sudah tertidur, aku tahu
dari nafasnya yang mulai berat. Kini tinggal aku sendiri yang harus
berjuang memadamkan gairahku.
Sejak tadi aku merasa sedikit kecewa, karena sebenarnya aku sangat
ingin bercumbu atau bahkan bercinta dengan Cie Natalia kalau mungkin.
Dari kata kata Cie Natalia tadi aku merasa punya harapan Cie Natalia
tidak menolak kalau aku mengajaknya bercinta denganku.
Tapi akal sehatku masih mampu mengingatkanku tentang tujuanku menginap di rumah Cie Natalia.
Aku ingin bisa beristirahat dengan benar, paling tidak selama
beberapa hari. Walaupun jujur saja selama ini aku belum pernah sampai
merasa diperkosa oleh tiga pejantanku itu, tapi aku berpikir tubuhku ini
bisa remuk kalau harus terus menerus ngeseks dengan mereka setiap hari.
Bahkan kemarin itu, setelah gairah mereka bertiga itu terbakar
hebat akibat kenakalanku, di sore harinya mereka berhasil menangkapku,
dan mereka melampiaskan dendam padaku hingga membuatku tersiksa dalam
kenikmatan. Dan mereka bahkan membuatku pingsan, tak kuat menahan
orgasme yang terus mendera tubuhku. Masih terbayang dalam pikiranku
waktu itu mereka bertiga menggendongku begitu rupa dan dengan kompaknya
mereka menjarah tubuhku dengan seenak perut mereka sendiri.
Memikirkan semua itu, tiba tiba gairahku naik kembali. Dan hal ini
menyadarkanku untuk berhenti menambah siksaan pada diriku sendiri, atau
malah sampai bermasturbasi yang pasti semakin menguras tenagaku.
Sebaiknya aku segera tidur untuk memulihkan kondisi tubuhku yang hancur
hancuran ini.
Maka aku mencoba untuk mengusir semua bayangan tentang kehidupan
seksku yang tak karuan ini dari dalam benakku. Dengan mencoba mengingat
tentang pelajaran di sekolah, memikirkan tentang ujian kenaikan kelas di
akhir bulan depan, perlahan aku kembali mengantuk, dan tak lama
kemudian aku sudah kembali tertidur pulas.
-x-
III. Pagi Hari Yang Menyenangkan
Belaian lembut pada rambutku membangunkanku dari tidurku yang
nyenyak ini. Tapi aku masih sangat mengantuk untuk membuka mataku dan
melihat siapa yang akan menjarah tubuhku pagi ini. Aku masih ingin
menikmati tidurku selagi bisa tanpa memperdulikan ulah para pejantanku
yang akan segera berbuat sesuka hati mereka pada tubuhku ini.
Tapi setelah beberapa saat lamanya, malah aku jadi sedikit heran.
Hanya belaian lembut pada rambutku? Mana remasan yang penuh nafsu dari
tangan tangan mereka pada kedua payudaraku? Apa yang mereka tunggu,
sehingga sampai sekarang ini masih belum ada satupun jari tangan mereka
yang tercelup masuk ke dalam liang vaginaku?
Perlahan aku membuka mataku, dan aku sedikit terkejut ketika aku
melihat wajah Cie Natalia yang tersenyum manis padaku. Pikiranku segera
bercabang ke mana mana, dan aku jadi semakin bingung ketika aku sadar
bahwa kamar ini bukan kamarku.
Akhirnya aku mulai mengerti mengapa sekarang ini aku berada di
kamar Cie Natalia. Dan aku segera ingat kejadian tengah malam tadi,
tentang kecupan Cie Natalia pada bibirku. Tiba tiba aku sedikit jengah
dan wajahku terasa panas.
“Mmm… pagi Cie…” aku menyapa Cie Natalia dan mencoba bersikap sewajarnya.
“Pagi Eliza… Sorry ya Cie Cie bangunin kamu, Cie Cie mau ajakin
kamu makan pagi,” kata Cie Natalia pelan dan ia berhenti membelai
rambutku ketika aku menatap wajahnya.
Aku baru menyadari, Cie Natalia sudah berpenampilan rapi, dan tentu
saja ia jadi terlihat semakin cantik. Beberapa saat kemudian tiba tiba
aku melihat wajah Cie Natalia memerah, dan ia memalingkan wajahnya,
hingga aku sadar kalau tadi itu aku terlalu lama menatap dan menikmati
kecantikan wajah Cie Natalia.
“Eliza, kamu nggak marah kan Cie Cie bangunin kamu?” tanya Cie Natalia pelan.
“Eh… nggak apa apa Cie,” jawabku cepat sambil tersenyum malu.
Cie Natalia bangkit berdiri dan membuka gorden kamarnya. Sinar
matahari yang terang langsung menembus masuk ke dalam kamar ini,
membuatku menoleh ke arah jam dinding.
Aduh, ternyata sekarang ini sudah jam setengah delapan pagi! Tanpa
berkata apa apa lagi aku segera ke kamar mandi di kamar Cie Natalia ini
untuk menyikat gigi, lalu aku membersihkan mukaku seperlunya dan sedikit
merapikan rambutku supaya tak terlihat awut awutan.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Cie Natalia yang
menungguku, duduk manis di tepi ranjang, dan sepertinya sedang melamun,
bahkan sepertinya ia tak menyadari aku sudah duduk di sampingnya. Dan
aku perlahan memegang pundak Cie Natalia.
“Ih kamu… Cie Cie sampai kaget,” Cie Natalia menjerit kecil dan memukul tanganku dengan perlahan.
“Aduh… hihi… hayo Cie Cie melamun yaa?” aku mulai menggoda Cie Natalia.
“Eh… Cie Cie… enggak kok!” bantah Cie Natalia.
“Enggak apa sih Cie? Eliza kan cuma nanyain Cie Cie melamun apa
nggak. Eliza kan nggak tahu Cie Cie sedang ngelamun siapa?” kataku
sambil meleletkan lidah dengan senang.
“Emm…” Cie Natalia menatapku sambil menggigit bibir, lalu ia menunduk dan tersenyum malu dengan wajah yang merona merah.
Aku mulai yakin Cie Natalia sedang melamunkan seorang lelaki pujaan
hatinya. Sebenarnya aku masih ingin terus menggoda Cie Natalia,
sekalian membalas yang kemarin malam saat Cie Natalia menggodaku soal
janjiku dengan Andy. Tapi aku kasihan juga melihat Cie Natalia yang kini
tersenyum malu tanpa bisa berkata apa apa, hingga membuatku teringat
akan keadaanku di saat aku digoda habis oleh Jenny dan Sherly tentang
Andy.
“Ya udah deh, ayo kita turun Cie,” kataku sambil meraih dan
menggenggam tangan Cie Natalia, lalu aku menggandengnya turun ke bawah
menuju ruang makan.
Cie Natalia menurut saja, dan selagi menuju ruang makan kami saling
bercanda hingga suasana hari ini rasanya menyenangkan sekali. Entah
bagaimana dengan Cie Natalia, yang jelas aku merasakan getaran halus
yang menjalari tubuhku saat aku menggandeng tangan Cie Natalia seperti
ini. Tapi aku berusaha menekan perasaanku karena aku tak ingin suasana
ini jadi rusak gara gara aku.
Dan kemudian kami bersama sama menikmati sarapan pagi ini, sementara
aku diam diam mencuri pandang, menikmati kecantikan wajah Cie Natalia.
Sesekali aku menatap wajah Cie Natalia dengan cukup lama saat pandangan
mata Cie Natalia sedang tertuju ke arah makanan atau minumannya.
![]() |
Cie Natalia |
Makin lama aku makin terpesona dengan pemandangan
indah di hadapanku. Rambut panjang sebahu yang menghias wajah Cie
Natalia itu amat halus dan indah. Bibir Cie Natalia itu begitu mungil
dan menggairahkan. Kulit Cie Natalia itu begitu putih, rasanya jauh
lebih putih dariku. Lalu kedua mata itu…
“Hayo, kamu kok ngeliatin Cie Cie terus sih? Naksir ya?” tiba tiba
aku terkejut mendengar suara Cie Natalia yang ternyata sudah selesai
makan.
“Eh… iya… abisnya Cie Cie cantik sih,” jawabku sambil meleletkan
lidah untuk memberikan kesan aku sedang balas menggoda Cie Natalia.
“Dasar… Kalau gitu kamu jadi teman kencan Cie Cie ke gereja ya,” Cie Natalia menggodaku lagi sambil tertawa.
Wajahku terasa panas dan aku merasa malu. Sepertinya aku terlalu
lama memandangi wajah Cie Natalia hingga akhirnya ketahuan oleh Cie
Natalia.
Duh, bodohnya aku…
Tapi aku juga merasa senang sekali, karena dengan menggodaku
seperti tadi, berarti ada kemungkinan Cie Natalia memang tidak keberatan
kalau aku memandanginya seperti tadi. Diam diam aku mulai berharap, aku
bisa semakin dekat dengan Cie Natalia.
Dan tentang ajakan Cie Natalia untuk menemaninya ke gereja, oh… aku akan senang sekali… tapi…
“Aduh… masih sempat nggak Cie?” aku baru teringat soal ini, dan
sadar kalau aku tadi bangun kesiangan dan belum mandi, aku kembali
mencari jam dinding. “Jam berapa ya sekarang?”
“Tenang deh sayang,” kata Cie Natalia. “Masih jam delapan lebih
sedikit kok. Nanti kita ke gereja ******** aja. Misa terakhir di sana
kan masih sekitar satu setengah jam lagi.”
“Oh iya… untung deh… kalau gitu Eliza siap siap dulu ya Cie,” kataku sambil menarik nafas lega, dan Cie Natalia mengangguk.
Aku dan Cie Natalia sudah selesai makan, dan kami menaruh piring
kotor kami di dapur. Setelah bergantian menggunakan wastafel untuk
membersihkan mulut dan mencuci tangan, kami berdua segera naik ke atas
menuju kamar Cie Natalia.
“Abis itu, kalau kamu nggak ada acara, kamu temanin Cie Cie pergi
cari kado buat teman Cie Cie yang ulang tahun ya?” ajak Cie Natalia saat
akan menaiki tangga.
“Iya Cie, Eliza nggak ada acara kok sampai waktu les balet nanti” aku menerima ajakan Cie Natalia dengan senang hati.
“Thanks ya Eliza… kamu baik deh,” kata Cie Natalia sambil tersenyum, manis sekali.
“Nggak apa apa Cie, Eliza malah senang kok diajak jalan jalan,”
kataku dengan cepat untuk menutupi kecanggunganku karena saat ini
jantungku kembali berdegup kencang.
Aku dan Cie Natalia sudah berada di kamar Cie Natalia. Dan aku
membawa satu stel baju untuk berpergian dan juga handuk sebelum masuk ke
kamar mandi. Setelah selesai, aku mengeringkan tubuhku dan berganti
baju. Lalu aku membersihkan wajahku, dan memakai bedak tipis di wajahku,
dan tak lupa aku menyisir rambutku serapi mungkin.
Diam diam aku menelan obat anti hamil yang tadi juga kubawa bersama
baju gantiku. Setelah semuanya selesai, aku segera keluar dari kamar
mandi dan menemui Cie Natalia yang sedang menonton TV selagi menungguku.
“Cie… Eliza udah siap. Berangkat yuk,” aku mengajak Cie Natalia segera pergi
“Iya, ayo…” Cie Natalia mematikan TV melalui remote dan berdiri sambil menatapku, tapi tiba tiba kata katanya terhenti.
“Auw… kalau udah rapi gini kamu makin cantik deh Eliza,” sesaat
kemudian Cie Natalia memujiku. Tapi berikutnya ia juga menggodaku,
“Nggak rugi deh Cie Cie jadiin kamu teman kencan, meskipun cuma sehari.”
“Thanks ya Cie… aku juga senang kok jadi teman kencannya Cie Cie,” aku berusaha balik menggoda Cie Natalia.
Senang sekali rasanya mendapatkan pujian dari Cie Natalia, dan kata
kata Cie Natalia tentang teman kencan tadi membuat jantungku berdebar
aneh.
Tiba tiba ponselku berbunyi, menunjukkan kalau ada sms yang masuk.
Dan aku langsung mengambil ponselku, berharap itu adalah sms dari Andy.
‘Pagi Eliza. Sorry ya kemarin aku keterusan nelepon kamu sampai
malam, nggak ingat deh kalau kamu masih butuh istirahat. Gimana kamu
Eliza? Moga moga kamu udah enakan, tapi kamu jangan lupa istirahat yang
cukup ya.’
Dengan hati berbunga bunga, aku langsung mengetik balasan untuk sms dari Andy ini, supaya ia tidak mengkuatirkan keadaanku.
“Halo Eliza… gimana kamu pagi ini? Lagi ngapain? Udah makan belum?”
tiba tiba Cie Natalia yang sudah berada di hadapanku ini mulai
menggodaku.
“Cie Cieee…” aku merengek malu.
“Duh… yang lagi kasmaran… Lupa deh kalau udah mau berangkat ke
gereja. Eliza, kamu nggak usah bawa mobil deh, kamu ikut Cie Cie aja,
jadi kamu bisa balas sms kekasihmu itu di mobil,” Cie Natalia kembali
menggodaku.
“Ya ampun! Sorry Cie,” kataku sambil cepat memasukkan ponselku ke
dalam tasku, dan aku jadi malu dan merasa tak enak. “Ayo berangkat Cie.”
“Eeh… nggak apa apa kok Eliza, nggak usah sampai segitunya deh,”
kata Cie Natalia yang tersenyum manis, lalu ia menggandeng tanganku.
“Cie Cie cuman lagi godain kamu aja kok. Yuk!”
Aku menurut saja mengikuti Cie Natalia yang menuju garasi, walaupun
sekarang ini jantungku berdebar tak jelas. Selain gara gara senyuman
itu, kini… apakah benar sekarang ini Cie Natalia meremas tanganku yang
berada dalam gandengan tangannya? Atau ini cuma perasaanku saja?
Semua ini tetap menjadi teka teki bagiku, karena belum sempat aku
bereaksi lebih jauh, kami berdua sudah berada di garasi, dan aku harus
rela melepaskan gandengan tangan Cie Natalia ini. Aku masuk ke dalam
mobil bersama Cie Natalia, dan kami berdua memulai aktivitas di hari
Minggu ini.
-x-
IV. Derita Dalam Gairah
“Akhirnya… selesai!” kata Cie Natalia dengan senang saat kami selesai membungkus kado ulang tahun ini dengan rapi.
“Iya Cie, padahal tadi Eliza udah kuatir lho gara gara jalanan
macet waktu kita pulang tadi,” aku menimpali kata kata Cie Natalia
dengan lega sambil bersandar di dinding.
“Cie Cie sih nggak kuatir, kan ada kamu yang bantuin Cie Cie.
Makasih ya Eliza,” kata Cie Natalia yang tersenyum manis padaku, lalu ia
juga bersandar di sebelahku.
“Nggak apa apa deh Cie, tadi kan Cie Cie udah nraktir Eliza. Tapi,
besok Cie Cie juga harus nraktir Eliza lagi lho!” kataku sambil
tersenyum senyum.
“Memangnya Cie Cie punya hutang apa lagi sama kamu sayang?” tanya Cie Natalia heran.
“Lhoo, kan nanti malam Eliza bantuin Cie Cie jagain piano?” tanyaku balik sambil meleletkan lidahku.
“Ooh… jadi gitu ya?!” Cie Natalia mencubit kedua pipiku dengan gemas.
“Aduh… iya Cie… ampun…” aku merengek manja sampai Cie Natalia
melepaskan cubitannya, dan kami berdua tertawa geli. Lalu kami sempat
bersantai dan mengobrol tentang beberapa hal, tentu salah satunya adalah
soal bagaimana kami menemukan boneka panda yang dijadikan kado ini.
“Oh iya Eliza, kamu berangkat ke les balet nanti jam berapa?” tanya Cie Natalia.
“Jam setengah lima kurang sedikit Cie,” jawabku sambil melihat ke arah jam dinding, ternyata sekarang masih jam tiga sore.
“Ow… kalau gitu masih ada waktu bentar ya,” kata Cie Natalia sambil
melihat ke arah jam dinding.kamu mau bantuin Cie Cie bentar kan? Yuk,
ikut Cie Cie,” kata Cie Natalia yang lalu bangkit berdiri.
Aku mengangguk dan ikut berdiri, lalu aku mengikuti Cie Natalia
yang masuk ke sebuah kamar. Cie Natalia menyalakan lampu di dalam kamar
ini, dan aku baru melihat kalau kamar ini adalah ruang olahraga.
“Eliza, kamu tunggu bentar di sini ya, Cie Cie mau ganti baju dulu,” kata Cie Natalia.
“Iya Cie,” aku menjawab sambil menganggukan kepalaku.
Cie Natalia masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan ini. Aku jadi
bertanya tanya, apa Cie Natalia ingin berolahraga? Entah bantuan apa
yang diperlukan Cie Natalia dariku, yang jelas sekarang ini jantungku
jadi sedikit berdebar, karena aku mulai menebak nebak pakaian seperti
apa yang akan dikenakan Cie Natalia nanti. Apakah aku akan melihat
tubuh Cie Natalia terbalut sebuah pakaian senam yang ketat seperti
kostum baletku? Atau hanya kostum training biasa?
Eh? Mengapa aku sangat berharap Cie Natalia akan keluar dari kamar mandi dengan pakaian senam yang ketat?
Aku segera berusaha mengalihkan pikiranku. Sambil menunggu aku
mengamati ruangan ini, yang seperti sebuah gym mini saja. Fasilitasnya
cukup lengkap. Sebuah treadmill, sepasang sepeda statis, sepasang
exercise ball, dan beberapa set alat latihan angkat berat yang
sepertinya untuk Ko Honggo.
Suasana di ruangan ini cukup hangat, aku tak melihat ada AC di
sini. Empat set lampu neon panjang ditambah dengan cermin yang menutup
satu sisi dinding, membuat ruangan ini jadi terang benderang.
Aku mendengar sesuatu dan reflek aku menoleh. Mau tak mau aku
terpaku dengan pemandangan indah yang terpampang di hadapanku. Tentu
saja bukan karena aku melihat aktivitas Cie Natalia yang sedang membeber
matras.
Melebihi harapanku tadi, sekarang ini Cie Natalia hanya mengenakan
kostum training two piece yang ketat hingga aku bisa melihat jelas
keindahan lekuk pinggang Cie Natalia, juga perutnya yang putih mulus dan
begitu ramping itu benar benar membuatku kagum.
“Iih… kamu kok ngeliatin Cie Cie terus sih? Udah dong Eliza, jangan
ngeledek Cie Cie terus. Cie Cie tau kok kalau badan Cie Cie ini agak
endut. Makanya Cie Cie harus berolahraga!” tiba tiba aku mendengar Cie
Natalia mengomel panjang pendek hingga aku terkejut setengah mati.
“Eh… Cie Cie… enggak kok… aku nggak…” aku tergagap panik tak tahu harus menjawab apa.
Aku tahu Cie Natalia hanya pura pura marah, namun lagi lagi dalam
hati aku mengomeli diriku yang mengulangi kebodohanku pagi tadi.
“Hihi… kamu ini… kok jadi tegang gitu sih? Cie Cie cuma godain kamu
aja kok,” kata Cie Natalia sambil menyodorkan sebuah gulungan plastik.
“Kamu tolong bantuin Cie Cie pakai ini ya.”
“Eh… i… iya Cie. Tapi… apa ini ya?” aku bertanya di tengah kegugupanku.
“Masa kamu nggak pernah liat? Ini namanya body wrapping, Eliza. Cie
Cie kan nggak bisa balet seperti kamu, jadi Cie Cie olahraga di rumah
sendiri. Dan gunanya body wrapping ini, salah satunya bikin badan
berkeringat lebih cepat. Harapannya, lebih banyak lemak di badan Cie Cie
yang terbakar waktu Cie Cie berolahraga nanti. Yuk, Cie Cie ajarin cara
masangnya ya,” kata Cie Natalia yang mulai membuka gulungan body
wrapping itu.
Ingin aku mengatakan kalau tubuh Cie Natalia itu jelas jelas sangat
ideal. Lekukan tubuhnya itu terlihat begitu kencang, dan tentu saja
sama sekali tak ada tumpukan lemak di sana. Tapi aku takut kalau Cie
Natalia malah menggodaku lagi.
Berikutnya, aku mengikuti petunjuk Cie Natalia untuk membalutkan
body wrapping ini ke tubuhnya, mulai dari kedua paha dan betis yang
indah itu, lalu perut yang rata dan sexy itu. Jantungku berdegup semakin
kencang, dan aku merasa tubuhku sedikit gemetar saat aku membalutan
body wrapping ini pada kedua lengan milik Cie Natalia ini.
“Thanks ya Eliza,” kata Cie Natalia yang tersenyum sambil memelukku
ketika seluruh tangannya sudah terbalut dengan body wrapping ini.
Walaupun hanya sebentar saja, tapi pelukan Cie Natalia tadi sudah
lebih dari cukup untuk menambah siksaan padaku yang sedang berjuang
menahan gairahku ini.
“Mmm…” aku hanya mengguman tanpa berani menjawab.
Hatiku meronta berdebat dengan akal sehatku. Saat ini aku sudah
terbakar gairah dan ingin sekali rasanya aku balas memeluk Cie Natalia.
Perasaanku mengatakan bahwa jalan sudah terbuka lebar bagiku kalau aku
ingin meluapkan isi hatiku pada Cie Natalia. Aku membayangkan kami
berdua sudah saling bercumbu, saling berpagut bibir, atau bahkan
bercinta di ruang fitness ini.
Tapi aku masih ingat tujuanku ke sini adalah mengistirahatkan
tubuhku selama beberapa hari dari berbagai aktivitas seks yang akhir
akhir ini sudah semakin keterlaluan. Dan aku juga masih sadar bahwa Cie
Natalia ini masih sepupuku sendiri.
Lalu kalau aku mengajak Cie Natalia bermesraan, apakah ia akan
pasrah saja dan melayani gairahku seperti Cie Stefanny? Bagaimana kalau
nanti Cie Natalia malah jadi canggung, atau marah padaku?
Tapi bukankah di malam kemarin itu, Cie Natalia sempat memagut
bibirku dengan begitu mesra ketika aku terpaksa pura pura tidur?
“Eliza, masih ada waktu kan sebelum kamu les balet? Temani Cie Cie
dulu yah. Kamu pakai aja alat fitness di sini yang kamu suka. Treadmill,
bola, terserah kamu deh. Cie Cie mau warming up dulu,” kata Cie Natalia
yang sudah mulai melakukan scretching.
Tapi perhatianku tertuju pada tubuh indah Cie Natalia yang kini
bergerak meliuk dan menggeliat di hadapan pandang mataku, membuatku
makin sulit menahan gairahku. Nafasku terasa makin sesak, sedangkan aku
tak tahu harus berbuat apa.
Tak lama kemudian aku melihat Cie Natalia mulai lari di atas
treadmill. Aku memutuskan untuk duduk santai di lantai dengan bersandar
di dinding ruangan ini, sambil menonton Cie Natalia. Beberapa menit
kemudian aku melihat body wrapping Cie Natalia basah oleh keringat,
sedangkan Cie Natalia sama sekali belum terlihat lelah.
Aku jadi berpikir, masuk akal juga cara yang digunakan Cie Natalia
ini. Dan aku jadi ingin memakai cara yang sama seperti yang dilakukan
Cie Natalia ini. Tapi di rumahku kan tidak ada treadmill, masa aku lari
keliling rumah dengan mengenakan body wrapping?
Mungkin aku bisa meminta papa mama untuk membelikanku sebuah ya?
Harusnya papa mama juga nggak akan keberatan untuk membuatkan satu
ruangan khusus untuk berolahraga di rumah. Lagipula mungkin kokoku
tertarik juga.
Tiba tiba dalam pikiranku ini malah terbayang, bagaimana jadinya
kalau aku lari keliling di dalam rumahku dengan tubuhku dalam keadaan
terbalut body wrapping. Yang benar saja! Dalam keadaan berpakaian
lengkap pun aku harus sering menjadi obyek pesta seks tiga pejantanku
itu, lalu bagaimana nasibku kalau mereka melihatku berpenampilan sexy
dan menantang seperti Cie Natalia sekarang ini?
Sudah jelas kalau aku tak akan bisa berolahraga dengan benar,
karena tak akan butuh waktu lama sebelum para pejantanku itu segera
menangkapku. Lalu mereka mungkin akan langsung merobek robek body
wrapping yang membalut tubuhku, dan berikutnya aku harus merelakan tiga
liang kenikmatanku ini terisi penuh oleh penis mereka.
Atau aku bisa meminta mereka untuk membiarkan tubuhku tetap
terbalut body wrapping, hingga keringat yang keluar dari tubuhku akan
lebih banyak dari biasanya selagi mereka bertiga memuaskan hasrat
mereka. Itu berarti, lemak yang terbuang dari tubuhku juga semakin
banyak.
Duh, apa yang baru saja kupikirkan ini? Kok bisa bisanya aku
memikirkan manfaat body wrapping kalau aku terpaksa harus ‘berolahraga’
bersama tiga pejantanku itu? Memang masuk akal, tapi aku jadi malu
sendiri. Mestinya kan aku berpikir bagaimana caranya supaya aku tak
harus terus menerus melayani nafsu mereka itu terhadap tubuhku?
Aku berusaha tak memikirkan hal itu lagi, dan aku kembali memandang
ke arah Cie Natalia yang ternyata sudah selesai menggunakan treadmill.
Sekarang ini aku bisa melihat bagian tubuh Cie Natalia yang terbalut
body wrapping itu begitu basah dibandingkan dengan yang lainnya.
Walaupun begitu, aku tak menemukan tanda kelelahan yang berlebihan
dari Cie Natalia, malah wajahnya yang merona merah itu terlihat segar
sekali. Mungkin body wrapping itu memang membantu olahraga yang
dilakukan Cie Natalia menjadi lebih efektif untuk membuang lemak.
“Eliza, masa kamu cuma nonton aja? Ayo dong, kamu coba aja alat yang kamu suka,” Cie Natalia berusaha mengajakku.
“Eh… enggak deh Cie. Takutnya kalau Eliza kecapekan, nanti sakit
lagi seperti kemarin,” aku mencari alasan untuk menolak ajakan Cie
Natalia dengan halus. “Lagian, nonton Cie Cie olahraga kayaknya lebih
asyik deh.”
“Oh iya ya! Sorry Eliza, Cie Cie sampai lupa kalau kamu kemarin
abis sakit,” kata Cie Natalia yang kini jadi terlihat kuatir.
“Eh, nggak apa apa lah Cie, kemarin itu Eliza kan cuma kecapekan,”
kini aku yang jadi kuatir kata kataku tadi malah merusak mood Cie
Natalia untuk berolahraga.
“Abisnya kamu sih bikin hari ini jadi asyik buat Cie Cie. Ya udah
Cie Cie lanjutin dulu yah,” kata Cie Natalia yang lagi lagi tersenyum
manis padaku.
“Iya Cie…” aku menjawab dengan nada yang kuusahakan sewajar mungkin.
Aku sudah tak bisa memperhatikan olahraga yang dilakukan Cie
Natalia. Senyuman yang semanis itu, ditambah dengan pemandangan yang
menggairahkan di hadapanku ketika Cie Natalia menggerakkan tubuhnya yang
indah dan sexy itu, oh… aku tak ingin tersiksa lebih lama lagi.
“Cie… Eliza mau ke kamar mandi dulu ya,” kataku pelan.
“Lhoo… kan masih ada waktu setengah jam lagi Eliza?” tanya Cie Natalia.
“Nggak… anu… perut Eliza sakit… Eliza ke atas dulu Cie,” jawabku
dengan sedikit tergagap, mungkin karena aku berusaha mencari alasan apa
saja.
“Ooo… iya deh sayang,” kata Cie Natalia.
Kata kata ‘sayang’ itu membuat jantungku berdetak makin tak karuan.
Aku mengangguk sambil tersenyum, dan aku cepat cepat keluar dari ruang fitness ini.
Setelah itu aku sempat bersandar pada dinding, dan secepatnya aku
berusaha menenangkan diriku dari gairah yang berkali kali tersulut saat
aku berada di dalam tadi. Perlahan nafasku mulai teratur kembali, dan
aku mulai bisa menguasai diriku. Maka aku segera ke atas, karena aku
memang sudah harus mulai bersiap untuk pergi ke les balet.
Saat menaiki tangga menuju ke kamar Cie Natalia, kembali terbayang
dalam anganku tentang Cie Natalia yang tadi terlihat begitu sexy. Dan
balutan body wrapping pada tubuh yang indah itu benar benar membuat Cie
Natalia tampak begitu menggairahkan bagiku.
Ya ampun, kenapa sih kok sulit sekali buatku untuk tidak memikirkan Cie Natalia?
Sambil menekan gairahku, aku mulai menyiapkan semua keperluanku
untuk mandi, juga sekalian menyiapkan kostum baletku. Sebisanya aku
berusaha memikirkan yang lain, apa saja yang penting bukan tentang Cie
Natalia, juga bukan tentang semua hal yang bisa membuat gairahku semakin
terbakar. Aku tak ingin sampai lepas kontrol dan bermasturbasi di dalam
kamar mandi hingga orgasme seperti kemarin.
Kini aku sudah berada dalam kamar mandi Cie Natalia. Perlahan aku
melucuti pakaianku satu per satu lalu aku menaruh semua pakaianku tadi
ke dalam keranjang. Dan aku sempat tertegun ketika aku melihat bayangan
tubuhku yang telanjang bulat ini di dalam cermin.
“Eliza… jangan… jangan bermasturbasi…” aku membisikkan kata kata
itu dalam hatiku, berusaha mengingatkan diriku supaya aku tidak mulai
menyiksa diriku sendiri.
Aku mengerti sekali akibatnya kalau sampai jari tanganku terlanjur
masuk dan menggoda liang vaginaku. Waktu itu tak akan ada satupun yang
bisa kulakukan untuk menghentikan kenakalan jari tanganku, lalu akhirnya
aku orgasme. Kalau itu terjadi, apa artinya aku menginap di rumah Cie
Natalia?
Sesaat kemudian aku menikmati guyuran air shower yang hangat. Dan
nampaknya aku berhasil menekan perasaanku setelah aku mandi keramas
hingga tubuhku terasa bersih dan segar. Paling tidak, untuk saat ini aku
sudah tak lagi didera keinginan untuk bermasturbasi.
Rasa lelah yang menderaku beberapa hari ini sudah tak begitu
terasa. Dan tak lupa aku membersihkan liang vaginaku yang sempat terasa
lembab. Mungkin saat aku terbakar gairah berkali kali akibat
membayangkan yang tidak tidak tentang Cie Natalia tadi, liang vaginaku
jadi basah oleh cairan cintaku.
Setelah semuanya selesai, aku mengeringkan rambutku dan juga
seluruh tubuhku, lalu aku memakai bra dan celana dalam. Dan aku keluar
dari kamar mandi untuk memakai kostum baletku, kostum yang selalu
membuatku merasa sexy.
Entah kenapa, tiba tiba aku jadi ingin sedikit berdandan. Maka aku
menyaputkan lipgloss tipis pada bibirku, dan juga sedikit bedak tipis
pada wajahku.
Lalu aku memilih kaus santai dan celana jeans untuk kupakai selama
perjalanan menuju ke tempat les balet. Tentu saja tidak lucu kalau aku
harus menyetir dengan mengenakan kostum balet, karena aku tak mau lekuk
tubuhku menjadi tontonan gratis para pengamen, penjual koran ataupun
pedagang asongan yang lalu lalang saat aku terhenti di lampu merah
nanti.
Setelah itu aku menyisir rambutku hingga rapi, dan saat aku sudah
siap untuk pergi, aku melihat jam dinding. Masih jam empat kurang
sepuluh menit. Kalau aku berangkat sekarang, aku akan sampai di tempat
les baletku kira kira jam setengah lima.
Berarti aku bakal menganggur kira kira setengah jam. Tapi tak apa
lah, daripada kalau aku tetap di sini, bisa bisa aku semakin menderita
karena harus menahan gairahku terhadap Cie Natalia. Maka aku segera
turun untuk berpamitan pada Cie Natalia. Ketika aku masuk ke dalam ruang
fitness, aku melihat Cie Natalia sedang asyik mengayuh sepeda statis.
“Auw… cantiknya sepupuku yang satu ini,” kata Cie Natalia ketika tiba tiba ia menoleh ke arahku.
“Cie Cie ini… Cie, Eliza mau pergi sekarang ya,” aku berpamitan dengan wajah yang terasa panas.
“Iya… hati hati di jalan ya sayang. Mmm… oh iya jangan lupa lhoo…
nanti kan…?” kata Cie Natalia sambil menatapku seperti ingin memastikan
aku ingat tentang servis piano nanti.
“Iya, tenang deh Cie. Abis dari les balet nanti, Eliza langsung
balik ke sini kok, jagain piano Cie Cie supaya nggak dibawa lari sama
tukang servisnya. Asyik, besok ada yang nraktir Eliza lagi deh,” kataku
sambil meleletkan lidah.
“Hihihi… awas ya kamu nanti kalau Cie Cie juga udah pulang,” Cie
Natalia mengancam dengan mimik muka yang diserius seriuskan namun malah
terlihat lucu, dan sesaat berikutnya kami berdua tertawa geli.
“Ya udah… dadah Cie,” kataku sambil melambaikan tangan, dan setelah
Cie Natalia balas melambaikan tangannya, aku langsung keluar dari
ruangan yang sejak tadi berkali kali membuatku tersiksa ini, dan aku
melangkah menuju mobilku. Setelah mbak Lastri membuka pintu gerbang
rumah Cie Natalia, aku berangkat menuju tempat les baletku.
-x-
V. Insiden Di Ruang Ganti Dan Kamar Mandi
Setelah sempat merasa senang karena lalu lintas di jalanan hari
ini begitu lancar, kini aku jadi sedikit kecewa melihat rombong batagor
yang tidak dijaga oleh penjualnya itu. Masa sudah habis? Padahal dengan
satu bungkus batagor pasti akan membuat empat puluh lima menit sebelum
les balet ini jadi tak begitu membosankan.
Aku berusaha menghibur diriku sendiri, dengan berpikir bahwa aku
memang sebaiknya menjaga bentuk tubuhku agar tetap ideal, dan salah satu
caranya adalah dengan tidak mengemil. Dengan demikian aku tak perlu
merasa kecewa, bahkan aku merasa beruntung.
Tapi berikutnya aku merasa heran ketika aku melihat pak Agil sedang
berdiri mengobrol dengan salah satu tukang parkir yang menjaga parkiran
mobil di tempat les baletku ini.
Pembaca masih ingat dengan pak Agil? Buat yang lupa, atau tak tahu
tentang pak Agil karena belum sempat membaca dan mengikuti semua serial
Eliza High School Girl Series, silakan membaca serial Eliza bagian ke 6 yah ^^
Sekarang ini sudah beberapa bulan sejak kejadian yang waktu itu,
ketika aku bersama Cie Elvira mampu ‘menaklukkan’ pak Agil. Aku masih
ingat waktu itu Cie Elvira sempat memaksa pak Agil supaya berjanji untuk
tidak akan menggangguku lagi.
Aku sangat berterima kasih kepada Cie Elvira, walaupun sebenarnya
bagiku sudah tak ada bedanya kalau pak Agil masih terus menggangguku
atau tidak. Toh setelah itu aku masih harus menjalani kehidupanku
sebagai betina dari tiga pejantan di rumahku, dan aku malas mengingat
tentang berapa banyak lelaki yang telah beruntung mendapat kesempatan
menikmati tubuku.
Kembali ke pak Agil tadi, yang membuatku heran adalah aku sempat
melihat mobil Cie Elvira yang sudah ada di areal parkiran. Biasanya
kalau Cie Elvira sudah datang, pak Agil pasti ada di dalam tempat les
baletku, menikmati tubuh Cie Elvira yang memang sengaja menyerahkan
dirinya pada pak Agil. Tapi kalau pak Agil sekarang ini berada di luar
sini, bukankah itu berarti bahwa saat ini tak ada yang mengganggu Cie
Elvira di dalam sana?
Tak ada sebungkus batagor untuk meredakan rasa bosan selama aku
menunggu di luar sini, dan aku mulai merasa risih saat aku menyadari
kalau pak Agil beberapa kali memandang ke arahku selagi ia berbicara
dengan tukang parkir itu. Mengingat les balet baru akan dimulai sekitar
empat puluh menit lagi, aku berpikir tak ada salahnya kalau aku masuk ke
dalam dan mengajak Cie Elvira mengobrol.
Maka aku turun dari mobil, dan setelah memastikan semua pintu
mobilku terkunci, aku segera masuk ke dalam tempat les baletku. Saat
melewati pak Agil, aku menghindarkan kontak mata dengannya. Selain aku
merasa tak ada perlunya, aku juga jadi sedikit takut kalau tiba tiba pak
Agil berubah pikiran setelah saling bertatap mata denganku, lalu ia
mengikutiku ke dalam dan memaksaku untuk melayaninya.
Untung hal yang kutakutkan itu tak terjadi hingga aku sampai di
pintu ruang ganti di tempat les baletku ini. Aku cepat cepat mencari Cie
Elvira di dalam ruang ganti, tapi anehnya aku tak berhasil menemukan
Cie Elvira. Tak ada siapapun dalam ruang ganti ini.
Oh, makanya pak Agil itu hanya berdiri berdiri di luar. Mana
mungkin orang bejat seperti dia itu mau melepaskan kesempatan untuk
menikmati tubuh Cie Elvira kalau Cie Elvira ada di dalam sini?
Tapi, ada dimana ya kira kira Cie Elvira sekarang?
Entahlah, aku pikir sebaiknya aku bersiap untuk latihan balet saja,
dan aku masuk ke dalam ruang yang paling pojok untuk melepas kaus dan
celana jeansku, yang kemudian kulipat rapi dan kumasukkan ke dalam
tasku. Dan aku sudah akan bersiap memakai sepatu baletku ketika aku
mendengar bunyi ‘sreeek’.
Aku terkejut sekali ketika aku mendengar suara tirai di bilikku
yang tadi sudah kututupkan ini dibuka kembali. Siapa? Tenggorokanku
serasa tercekat dan aku cepat membalikkan tubuhku.
“Pak Agil!! Mau apa bapak masuk ke sini?” aku membentak dengan suara pelan, walaupun sekarang ini aku jadi takut sekali.
Sama sekali bukan karena aku takut akan diperkosa, toh pak Agil
juga sudah beberapa kali menikmati tubuhku. Yang kutakutkan adalah saat
aku harus melayani nafsu bejat pak Agil, ada teman les baletku yang lain
yang datang dan melihat semuanya. Entah apa yang akan terjadi padaku
saat itu, yang jelas setelah itu rahasiaku tersebar ke mana mana, dan
mungkin nasibku akan semakin buruk.
“Tenang non Eliza. Waktu itu non kan juga tahu bu Elvira sudah
memaksa bapak untuk berjanji supaya nggak akan macam macam sama non
Eliza,” kata pak Agil dengan santainya.
Aku diam setengah tak percaya. Tapi memang aku akan lebih senang
kalau pak Agil memang benar benar tak berbuat apapun terhadap diriku.
“Tapi bu Elvira kan nggak bilang apa apa soal Vera dan… teman teman
non Eliza yang lain,” sambung pak Agil lagi, dan ia masuk ke dalam
bilik ini.
Aku sempat terkesiap mendengar kata kata pak Agil yang barusan ini.
Apa ia bermaksud mengatakan kalau ia sudah mencicipi tubuh beberapa
teman les baletku selain Vera dan aku?
Dan saat aku menyadari kalau posisi pak Agil sudah sangat dekat
denganku, reflek aku langsung berusaha menjauhkan diriku dari pak Agil
hingga punggungku tersandar pada sekat di belakangku. Tapi rasanya
percuma saja, karena aku masih berada dalam bilik ini bersama pak Agil.
Kalau pak Agil mau, ia bisa dengan mudah berbuat apa saja terhadapku
sekarang ini, hingga aku merasa malu bercampur tegang.
“Felina, Mei Ling, dan yang satunya itu… oh iya, Viany yang manis
itu. Aah… amoy amoy di sini memang sedap, walaupun jujur saja rasanya
memeknya non Eliza ini masih lebih sedap,” bisik pak Agil di telingaku.
Mereka? Viany yang selalu terlihat ceria itu? Bahkan yang Felina kalem itu juga kena?
Dan orang ini memang benar benar kurang ajar ya! Apa perlunya
membandingkan nikmat yang ia peroleh dari liang vagina para korban
kebejatannya itu? Aku sama sekali tak tersanjung dengan pujian cabul pak
Agil tadi, bahkan aku jadi sangat mendongkol.
“Bapak ini memang kurang ajar! Apa salah kami sama pak Agil?” aku bertanya dengan setengah membentak.
“Hehe… non Eliza ini… masa non nggak tahu?” pak Agil balik
bertanya, dan ia mendekatiku dengan senyuman mesumnya itu hingga aku
kembali berusaha melangkah mundur, tapi aku baru ingat kalau tubuhku
sudah tersandar di dinding sekat bilik ini ketika aku merasakan
punggungku tertahan.
“Salah mereka itu, ya sama seperti salahnya non,” kata pak Agil sambil menyergapku. “Sudah cantik… pintar ngeseks lagi.”
Sesaat kemudian aku merintih kesakitan karena kedua payudaraku yang
berada di balik bra dan kostum baletku ini diremasi dengan kasar oleh
pak Agil. Dan selagi aku terus merintih, pak Agil mulai berusaha untuk
memagut bibirku. Aku tak bisa berbuat banyak untuk mengelak, dan ia
berhasil memagut bibirku tanpa perlawanan yang berarti dariku. Lidahnya
itu melesak masuk, mempermainkan lidahku, bahkan kemudian pak Agil
menyedot lidahku kuat kuat.
Diperlakukan seperti itu, perlahan aku melemas dan keinginanku
untuk melakukan perlawanan sudah lenyap entah ke mana. Yang ada kini aku
malah terbakar gairah dan mulai menikmati serangan french kiss pak
Agil. Kedua mataku kupejamkan selagi aku membalas permainan lidah pak
Agil.
Aku terus terhanyut dalam pergumulan ini ketika kurasakan tangan
pak Agil itu meraba raba daerah selangkanganku yang terlindung celana
dalam plus kostum baletku. Jantungku berdebar keras, dan aku mendesis
lirih ketika salah satu jari jari tangan pak Agil itu menekan kostum
baletku. Oh, bagaimana kalau jari itu benar benar berhasil masuk ke
dalam liang vaginaku? Bukankah itu berarti jari itu akan merobek
stocking yang kukenakan ini?
Saat itu tiba tiba aku tersadar dari nuansa erotis yang
menghanyutkanku ini. Bukan harga mahal dari stocking ini yang
kupermasalahkan, tetapi aku pasti akan merasa sangat tidak nyaman kalau
nanti itu aku harus mengikuti latihan balet dengan stocking yang
berlubang pada daerah selangkanganku. Belum lagi aku akan repot untuk
mencari dan membeli stocking yang baru.
Maka dengan semua sisa tenagaku yang ada, aku langsung mendorong tubuh pak Agil.
“Hentikan pak! Atau aku laporin bu Elvira!” aku mengancam pak Agil di sela nafasku yang masih tersengal sengal.
“Hehehe… padahal non Eliza suka kan?” ejek pak Agil sambil tertawa
mesum, membuatku semakin malu hingga aku terdiam tanpa bisa menjawab.
“Sayangnya bapak juga nggak bisa lama lama menemani non Eliza,” kata pak Agil lagi.
Aku tetap diam, malas menanggapi kata kata yang rasanya amat
melecehkanku itu. Dan berikutnya aku sedikit heran melihat pak Agil naik
ke kursi yang ada di bilik ini. Kursi seperti itu memang terdapat di
setiap bilik yang ada di ruang ganti ini, dan kami para peserta les
balet di sini biasanya menggunakan kursi itu untuk duduk saat mengenakan
ataupun melepas sepatu balet.
“Non Eliza, kalau non mau, non bisa naik ke kursi ini. Di sini, ada
lubang kecil yang bisa dipakai untuk melihat ke dalam kamar mandi,”
kata pak Agil yang menunjukkan jarinya ke satu titik pada bagian kiri
atas tembok. “Sebentar lagi bapak mau ke sana.”
Aku merenggutkan mukaku. Memangnya seleraku ini sudah segitu
rendahnya apa, sampai aku harus mengintip orang macam pak Agil ini di
kamar mandi???
“Sekarang ini bu Elvira lagi berada di dalam kamar mandi,” kata pak Agil.
Kini aku tertegun memikirkan kata kata pak Agil yang seperti
menjawab omelanku di dalam hatiku tadi. Jadi Cie Elvira berada di kamar
mandi? Sendirian? Sedang apa Cie Elvira di dalam sana?
Setelah pak Agil turun dan keluar dari sini, aku cepat merapatkan
tirai yang menutup bilikku ini. lalu dengan terdorong oleh rasa
penasaran, aku menguatkan hatiku dan naik ke atas kursi ini untuk
mencari lubang kecil yang dimaksudkan pak Agil tadi, lalu aku mencoba
mengintip dari situ.
Dan berikutnya apa yang kulihat dari lubang kecil itu membuatku sangat terkejut.
![]() |
Cie Elvira |
Cie Elvira dan Vera, mereka berdua sama sama telanjang bulat dan saling berciuman!
Lalu, siapa pria yang wajahnya diduduki Vera itu? Apakah ini
berarti suara kecipak yang samar samar kudengar sekarang ini berasal
dari jilatan lidah pria itu pada bibir vagina Vera?
Saat ini Cie Elvira dan Vera sendiri masih saling berpagut bibir
dengan panasnya. Dan tiba tiba saja aku merasa tak senang. Namun
perhatianku kembali tertuju pada mereka karena aku mendengar suara
ketukan yang cukup keras pada pintu kamar mandi.
“Bu Elvira, ini saya,” aku mendengar suara pak Agil.
Cie Elvira berdiri hingga aksi saling pagut dengan Vera tadi
berhenti. Dan pak Agil langsung masuk ke dalam kamar mandi begitu Cie
Elvira membuka pintu itu. Aku sempat melihat Cie Elvira mengunci pintu
itu kembali, ketika aku mendengar Vera menjerit manja.
Ternyata pak Agil yang tiba tiba sudah berada di dalam kamar mandi
itu sedang menarik Vera hingga berdiri. Ketika pria itu juga ikut
berdiri sehingga aku bisa melihat wajahnya, aku menutup mulutku yang
ternganga ini dengan tanganku. Saat ini aku nyaris tak percaya dengan
pengelihatanku.
Pria itu kan… tukang batagor langgananku?
Sempat kulihat pak Agil memandang ke arahku tempatku mengintip ini,
dengan senyumnya yang memuakkan. Walaupun rasanya pak Agil tak bisa
melihatku, tapi aku jadi kesal bercampur malu. Pak Agil seperti begitu
yakin kalau aku pasti akan mengintip melalui lubang yang baru saja
diberitahukan padaku ini.
Tapi rasa penasaranku mengalahkan rasa malu yang melandaku sekarang
ini, hingga aku masih terus mengintip untuk mengetahuhi lanjutan dari
kegilaan yang akan dilakukan oleh pak Agil dan penjual batagor itu
terhadap Vera dan Cie Elvira di dalam kamar mandi tempat les baletku
ini.
“Pak Agiiil… Vera masih mau sama pak Bakir…” rengek Vera walaupun
kelihatannya Vera sama sekali tidak terlihat keberatan diperlakukan
seperti itu oleh pak Agil.
“Sudah… sama bapak aja, non Vera. Bapak lagi pengin sama non nih,”
jawab pak Agil dengan suara yang dimesra mesrakan, dan kulihat pak Agil
kembali menatap ke arah tempatku mengintip ini.
“Iya deh… tapi pak Agil harus bikin ini Vera enak ya…” kata Vera
manja dengan jari tangannya yang menunjuk ke arah selangkangannya.
Aku sampai tertegun mendengar kata kata Vera yang terakhir itu.
Berikutnya Vera mendesah dan merintih ketika tubuhnya dijarah habis
oleh pak Agil. Sedangkan Cie Elvira tak dibiarkan menganggur oleh pak
Bakir yang kini sudah mendekap tubuh guru les baletku itu dari belakang.
Dan sesaat kemudian aku melihat kedua mata Cie Elvira yang indah itu
terbeliak, lalu meredup sayu diiringi rintihan sexy Cie Elvira saat
tubuhnya terhentak hentak dalam kekuasaan pak Bakir.
![]() |
Vera |
“Ayo dong pak Agil… cepet masukin… Vera udah gatel nih…” rengek Vera.
Rasanya aku hampir tak percaya kalau Vera bisa mengucapkan kata
kata sevulgar itu. Dan gilanya, Vera tak berhenti sampai di situ saja.
Sesaat kemudian, kedua tangan Vera itu merayap turun mencari penis pak
Agil, dan berikutnya Vera sendiri yang mengarahkan penis itu hingga
masuk dan tertelan habis dalam liang vaginanya.
“Ngghh…” sesaat kemudian Vera melenguh manja, bahkan Vera mulai
menggerak gerakkan tubuhnya, mencari kenikmatan dari penis pak Agil yang
sudah bersarang dalam liang vaginanya itu.
Semua adegan yang kulihat itu membuat jantungku berdetak tak
karuan. Rasanya tubuhku bergetar ketika kurasakan hawa panas menjalari
sekujur tubuhku. Ada apa sih dengan hari ini? Mengapa sejak pagi hari
tadi aku mengalami begitu banyak kejadian yang membuatku harus terus
tersiksa dalam gairah seperti ini?
-x-
VI. Di Balik Keceriaan Viany
Suara pintu kamar ganti yang terbuka itu membuatku berhenti
mengintip. Aku segera duduk di kursi kotak ini sambil menenangkan
nafasku yang memburu. Dan ketika aku mulai memakai sepatu baletku,
rasanya jantungku ini nyaris berhenti ketika tirai yang menutup bilikku
ini kembali dibuka. Siapa?
Ternyata yang membuka tirai sekarang ini adalah salah seorang
temanku di sekolah balet yang bernama Viany. Sekilas tentang Viany, ia
baru saja berulang tahun yang ke 17 di akhir bulan Januari yang lalu.
Viany memiliki tinggi badan sekitar lima senti lebih tinggi dariku.
Viany memiliki mata yang sipit. Wajah yang memiliki kecantikan khas
oriental itu hampir tidak pernah berhenti tersenyum, membuat Viany
selalu tampak ceria dan jenaka. Rambut yang lurus dan halus, hitam
panjang sampai ke setengah lengan itu selalu tertata rapi hingga makin
menambah pesona Viany.
![]() |
Viany |
Penampilan Viany selalu modis. Dengan kulitnya yang
begitu putih, memang bukan salah Viany kalau ia selalu tampak sexy
dengan baju apapun yang melekat di tubuhnya, apalagi kalau Viany
mengenakan kostum balet seperti ini. Namun sayangnya, semua karunia itu
mengantarkan Viany menuju nasib yang sangat buruk, yaitu menjadi salah
satu budak seks pak Agil yang bejat itu.
Viany adalah salah satu teman di sekolah baletku ini yang cukup
akrab denganku. Namun tetap saja aku menjadi kikuk ketika Viany membuka
tirai bilik kamar ganti ini selagi aku ada di dalamnya.
“Liza?” Viany yang kelihatannya sama terkejutnya denganku itu menyapaku dengan nada tanya.
“Eh… halo Vian. Aku…” dengan sedikit tergagap aku membalas sapaan Viany.
“Aduh… sorry ya Liiz, aku pikir nggak ada orang. Kok tumben sih,
masih kurang setengah jam gini kamu udah datang?” tanya Viany.
“Iya Vian, kebetulan tadi ada perlu ke rumah teman. Aku takut kena
macet, jadi dari sana aku aku langsung ke sini. Nggak tahunya malah
kepagian deh,” aku menjawab dengan sedikit berbohong, daripada nanti
Viany malah bertanya yang macam macam padaku.
“Hihi… tapi untung deh kamu udah selesai ganti baju,” kata Viany yang lalu duduk manis di sebelahku.
Kali ini aku tak berani menanggapi perkataan Viany. Memangnya apa
yang akan dilakukan Viany kalau tadi aku sedang tidak memakai baju
ketika tirai bilikku ini dibuka Viany? Wajahku terasa panas, jantungku
berdebar keras. Aduh, apakah semua usahaku untuk menekan gairahku
sepanjang hari ini akan sia sia gara gara Viany?
“Liz, mereka tuh udah selesai belum?” tanya Viany yang menatapku
dengan jari telunjuknya yang diarahkan ke tembok di belakang kami
berdua.
Tentunya yang ditunjuk jari Viany tadi adalah mereka yang berada di
dalam kamar mandi yang ada di balik tembok di belakang kami berdua ini.
Apakah Viany berpikir kalau aku memang tahu tentang apa yang sedang
terjadi dalam kamar mandi sekarang ini? Aku memang sudah mendengar
tentang rahasia lain di sekolah baletku ini dari pak Agil, bahkan
tentang Viany sendiri yang juga harus menjadi korban kebejatan pak Agil.
Tapi aku sama sekali tak menyangka kalau Viany bertanya seperti
itu. Apakah itu berarti Viany juga tahu tentang perbuatan pak Agil
kepadaku dan juga kepada yang lain?
“Mm… maksudmu Vian?” aku balik bertanya dengan hati hati.
“Duh… Liza, nggak ada yang perlu kamu sembunyikan deh. Toh kita
udah sama sama tahu kan?” kata Viany sambil memegang pergelangan
tanganku dengan lembut.
Sama sama tahu?
Tampaknya dugaanku benar. Tapi senyuman lembut dari Viany ini
membuatku salah tingkah. Apalagi ketika Viany tiba tiba menyandarkan
kepalanya di atas pundak kiriku. Mana genggaman tangan Viany pada
pergelangan tanganku ini tak dilepas lagi.
Aku tak tahu pasti mengapa Viany memegang tanganku dengan cara
seperti ini. Apa karena Viany menganggapku sebagai teman senasib? Atau
karena alasan yang lain? Memikirkan alasan yang lain itu, tiba tiba aku
kembali merasa tegang.
Sekali ini yang kutakutkan adalah kalau sampai aku dan Viany
terlibat adegan lesbian, kami berdua pasti akan mengeluarkan suara
rintihan ataupun lenguhan. Dan kalau kemudian pak Agil ataupun pak Bakir
yang berada di kamar mandi itu mendengar suara kami berdua di sini,
baik aku maupun Viany pasti akan mendapat masalah.
“Vian, kamu mau cerita nggak, gimana kamu bisa sampai jatuh ke
tangan pak Agil?” aku bertanya pada Viany untuk mengurangi keteganganku.
Dengan membuat Viany bercerita, aku berharap bisa mengurangi
kemungkinan akan terjadinya hal yang macam macam di antara kami berdua.
Selain itu aku memang jadi ingin tahu bagaimana ceritanya hingga
teman sekolah baletku yang satu ini bisa sampai bernasib buruk seperti
diriku.
Viany diam sejenak sebelum mengangkat kepalanya sambil menatap
wajahku, lalu ia menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang.
“Eh… sorry Vian,” kataku dengan kuatir setelah melihat reaksi
Viany. “Kalau kamu nggak mau cerita ya nggak apa apa, aku nggak maksa
kok.”
“Nggak… nggak apa apa kok Liz,” kata Viany dengan senyumnya yang aku tahu sedikit dipaksakan.
Dan sesaat berikutnya dengan suara pelan Viany mulai menceritakan
semuanya. Di hari minggu awal bulan ini, kebetulan papa dan mama Viany
ada janji untuk bertemu dengan seseorang pada jam setengah lima sore.
Viany sendiri tak keberatan untuk diantarkan lebih pagi ke sekolah
balet, maka hari itu Viany sudah menunggu di teras sekolah balet ini
sejak jam empat sore.
Itulah awal malapetaka buat Viany di sekolah balet ini. Rupanya
sama sepertiku, Viany dijebak pak Agil untuk masuk ke dalam.
“Waktu aku sadar kalau pak Agil berniat buruk terhadapku, semua
sudah terlambat,” keluh Viany yang lalu kembali menyandarkan kepalanya
itu pada pundakku. “Aku sudah berusaha memohon dengan segala cara supaya
bajingan itu nggak memperkosaku. Tapi dia cuma ketawa dan terus
nelanjangin aku.”
Kini aku yang menghela nafas panjang. Apa yang telah menimpa Viany
ini mirip sekali dengan pengalamanku. Dan aku tahu kalau saat itu tak
ada pilihan lain buat Viany selain menuruti keinginan pak Agil.
Sama sepertiku waktu itu, Viany pasti juga mengerti kalau ia
mencoba melawan dengan cara menjerit minta tolong, itu hanya akan
mengundang beberapa pedagang asongan dan tukang becak di depan sana,
yang mungkin malah dengan senang hati bergabung bersama pak Agil untuk
ikut menggilir Viany.
Tiba tiba aku teringat dengan pak Bakir, si penjual batagor yang
sekarang ini sedang ikut bersenang senang di dalam kamar mandi. Apakah
ia juga sudah pernah merasakan nikmatnya tubuh Viany?
“Waktu itu semua baju luarku udah lepas, tinggal baju dalamku aja,”
tiba tiba Viany kembali meneruskan ceritanya. “Dan aku berusaha untuk
mempertahankan celana dalamku yang lagi ditarik tarik sama pak Agil
sambil terus memohon. Tapi pak Agil bilang gini, ‘Sudah deh non, kamu
nggak usah terus ngelawan! Eliza lho waktu itu pulangnya sampai nagih
lagi ke bapak… masa kamu nggak kepingin?’”
Rasanya sekarang ini aku ingin sekali menampar wajah tukang sapu
sialan itu. Seenaknya saja dia bicara. Apa dia nggak tau kalau penis
Wawan itu jauh lebih enak? Duh, mengapa malah penisnya Wawan yang
kupikirkan?
“Waktu itu, sangking kagetnya abis dengerin kata kata pak Agil, aku
sampai lupa menahan celana dalamku, yang terus ditarik pak Agil sampai
lepas. Akhirnya aku nggak bisa apa apa lagi…” suara Viany terdengar
semakin lemah dan mulai sedikit serak. “Dan bajingan itu… memperkosaku…
Sakit sekali rasanya Liz… virginku hilang gitu aja…”
Kini rasa haru dan iba pada Viany memenuhi hatiku. Aku memeluk Viany yang sudah mulai terisak menahan tangis.
“Cuma sama tukang sapu Liz… dia…” ucap Viany seperti berbisik
sangking sedihnya, dan aku amat merasakan nada tak rela dari kata kata
Viany tadi.
“Udah Vian… cukup… jangan cerita lagi…” aku berusaha menenangkan
Viany, tapi aku sendiri juga sudah tak mampu menahan air mataku yang
mulai meleleh melihat Viany yang tampak begitu menderita karena ia masih
sulit untuk menerima kenyataan yang memang teramat pahit ini.
“Liz… aku ini udah punya pacar… kalau nanti dia nggak mau lagi sama
aku, itu salah siapa Liz? Salah siapaa…? Kan bukan salahku Liiz…” kini
tangis pilu Viany sudah tak terbendung lagi, hingga aku cepat
menyembunyikan wajah Viany ke dadaku supaya tak ada yang bisa mendengar
suara isak tangis Viany.
“Bukan salahmu Vian… bukan salahmu…” aku berusaha menghibur Viany
selagi aku sendiri juga berusaha menahan dan menghentikan tangisku.
Dadaku terasa sesak akibat rasa marah yang amat sangat pada pak
Agil. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Apa sih yang
dipikirkan oleh bajingan itu? Apa dia tahu akan sampai sejauh mana
akibat perbuatan bejat yang dilakukannya terhadap Viany ini?
Lalu bagiamana dengan Cie Elvira? Apakah Cie Elvira tahu akan semua ini?
Kira kira dua atau tiga menit kemudian, Viany mendongakkan
wajahnya, dan ia menatapku dengan kedua matanya yang masih basah.
“Liz… sorry ya aku udah bikin kamu ikut nangis…” kata Viany, dan
kelihatannya ia sudah mulai mampu menguasai diri dari emosi yang sempat
melandanya itu.
“Nggak… nggak apa apa Vian,” aku menjawab sambil tersenyum dengan setulus hatiku.
Aku melepaskan Viany dari pelukanku, lalu mengambil sebungkus
tissue dari tasku. Aku mengambil dua tiga helai, dan sisanya kuberikan
pada Viany.
“Makasih ya Liza… kamu memang baik,” kata Viany yang kini mulai
bisa tersenyum, walaupun dengan mata yang masih merah akibat baru saja
menangis.
Aku hanya tersenyum sambil menyusuti sisa air mataku dengan tissue.
Viany juga melakukan hal yang sama, dan beberapa saat kemudian kami
berdua sama sama tenang kembali.
“Liz… aku nggak percaya kok sama omongan pak Agil soal kamu yang
sampai nagih lagi itu. Aku tahu kamu bukan cewek murahan seperti Vera
itu,” kata Viany pelan.
Aku termenung sejenak. Aku jadi teringat, waktu itu aku memang
sempat mempermalukan diriku sendiri, bahkan aku sampai menganggukkan
kepalaku ketika pak Agil bertanya apakah aku juga mau dimandikan oleh
pak Agil. Tapi hanya sampai sebatas itu. Aku tak sampai minta minta
untuk disetubuhi pak Agil seperti yang tadi telah dilakukan Vera di
kamar mandi itu.
“Makasih ya Vian,” aku menundukkan kepalaku sambil tersenyum.
Kini Viany kembali menyandarkan kepalanya pada pundakku.
Kelihatannya sikap Viany yang suka bermanja manja ini memang sudah
pembawaannya, tanpa ada maksud lain. Aku jadi malu sendiri mengingat
tadi aku sudah mengira Viany yang tidak tidak.
“Liz… nanti malam kamu disuruh nunggu nggak?” tiba tiba Viany bertanya padaku.
“Nunggu? Enggak tuh. Menunggu siapa Liz?” aku balik bertanya pada Viany.
Viany mendongakkan kepalanya. Kini Viany duduk tegak sambil menatapku dengan heran.
“Masa kamu nggak pernah disuruh pak Agil untuk tinggal dulu setelah
pulang, dan… terus…” Viany tak meneruskan pertanyaannya, dan wajahnya
yang cantik jelita itu merona merah.
Aku mulai mengerti maksud Viany. Berarti, entah sudah berapa kali
Viany disuruh pak Agil untuk tinggal setelah jam pulang sekolah balet,
dan nantinya setelah tempat ini sepi, pak Agil akan memaksa Viany untuk
melayani nafsu bejatnya terlebih dahulu sebelum memperbolehkan Viany
pulang.
Kini aku yang jadi merasa tak enak pada Viany. Tapi aku merasa
lebih tak enak lagi kalau aku berbohong pada Viany, maka aku memilih
untuk mengatakan apa adanya.
“Vian,” aku mulai menjelaskan pada Viany. “Selama ini aku nggak
pernah disuruh tinggal dulu sepulang les balet. Terus terang aja Vian,
aku pikir aku ini adalah korban terakhirnya pak Agil, soalnya sejak itu
pak Agil nggak pernah menggangguku lagi. Tapi tadi ini, dia sempat
menakutiku”
“Oh…?” kata Viany yang terlihat tak begitu percaya padaku.
“Iya Vian,” aku melanjutkan ceritaku. “Tadi aku kan datangnya
kepagian, tapi aku ngeliat mobil Cie Elvira udah ada, jadi aku masuk ke
dalam untuk mencari Cie Elvira. Waktu itulah pak Agil sempat
menggangguku sebentar, yaa… sekedar main cium dan raba gitu sih. Waktu
itu dia sempat cerita tentang kamu, juga Felina dan Mei Ling. Dia juga
ngasih tau soal lubang di dinding atas sini. Aku sempat ngintip
sebentar, dan aku nggak pernah menyangka, bapak penjual batagor di depan
itu ternyata…”
“Pak Bakir? Nggak usah heran deh Liz. Memang Vera udah langganan
sama dia,” Viany menimpali ceritaku tadi dengan nada sinis.
“Langganan?” tanyaku ragu.
“Iya Liz,” jawab Viany. “Minggu lalu waktu aku nggak boleh pulang
dulu, kan malamnya aku harus ngelayani pak Bakir. Dan dia cerita kalau
hampir tiap minggu dapat jatah dari Vera. Kalau melihat tingkah si Vera
sih, aku percaya deh sama cerita pak Bakir itu.”
“Terus, kamu udah berapa kali nggak dibolehin pulang dulu oleh pak
Agil, Vian?” tiba tiba aku jadi ingin tahu dan menanyakan hal itu pada
Viany.
“Sejak itu, aku baru dipaksa tinggal satu kali, tepatnya satu
minggu lalu. Tapi waktu itu aku nggak sendirian Liz. Felina, Mei Ling
dan Siska juga dipaksa untuk tinggal dulu,” jawab Viany.
Siska? Ya ampun, apa masih ada lagi di antara teman kelas baletku ini yang juga menjadi korban pak Agil?
-x-
VII. Rahasia Lain Di Sekolah Baletku
Tapi aku jadi berpikir, mengapa pak Agil begitu nekat memaksa
Viany, Mei Ling, Felina dan Siska untuk tinggal? Mana mungkin bandot itu
kuat ngeseks dengan mereka semua? Apalagi aku masih ingat dengan jelas
kejadian waktu itu, baru aku dan Cie Elvira yang cuma berdua saja, sudah
berhasil membuatnya terkapar dan minta minta ampun.
“Vian, mmm… masa pak Agil itu… katakanlah ditambah pak Bakir, apa
mereka berdua itu kuat ngadepin kalian berempat?” tanyaku pada Viany
walaupun sebenarnya aku merasa malu menanyakan hal seperti ini karena
aku jadi terlihat tahu akan batas kemampuan pak Agil dalam hal ngeseks.
“Oh, kamu nggak tau ya Liz? Kamu pernah liat kan, ada seorang
pengemis yang pergelangan tangan kanannya buntung, yang suka lewat di
depan sini? Kalau di sini udah pulang semua, pengemis itu ikut sama
tukang parkir, masuk ke dalam sini…” jawab Viany dan kata katanya itu
membuatku benar benar terkejut.
“Ya ampun? Pengemis itu? Vian… kamu… kamu udah pernah digituin sama dia?” aku bertanya dengan perasaan ngeri.
“Aku sih belum pernah digituin sama pengemis itu Liz, tapi yang
lain sudah. Kalau nggak salah, minggu lalu itu giliran Mei Ling yang
harus main sama pengemis itu. Kalau aku waktu itu dipaksa main dua kali.
Yang pertama sama pak Bakir, abis itu ganti tukang parkir itu yang
nggituin aku,” jawab Viany.
“Aduh Vian, kenapa tukang parkir itu juga? Jangan jangan tukang
becak di dekat sini itu…?” aku bertanya dengan tegang. Mengapa sekolah
baletku yang dulu aman aman saja, kini bisa mendatangkan mimpi yang
begitu buruk bagi murid murid sekolah balet ini?
“Selama ini, tukang becak itu nggak pernah ikut. Kalau tukang
parkir itu sih iya. Orang itu namanya Rizal. Dia itu yang paling
brengsek Liz. Sejak dia tahu kalau dia bisa gituin aku, dia malah narik
lima puluh ribu dari aku buat uang parkir,” kata Viany dengan kesal.
“Hah? Sampai segitu Vian?” aku amat terkejut dan kini aku jadi ikut
kesal. Lima puluh ribu hanya untuk parkir? Itu kan pemerasan?
“Iya. Aku sempat tanya sama Felina, ternyata Felina sendiri sudah
ditarik segitu sejak pak Rizal bisa nggituin Felina. Aku yakin Mei Ling
dan Siska juga diperas seperti aku dan Felina oleh tukang parkir sialan
itu,” jawab Viany.
Sama sepertiku, Viany juga sempat menghela nafas panjang, lalu Viany melanjutkan ceritanya.
“Pak Bakir sih masih… mendingan Liz. Malam itu dia malah bilang
kalau aku boleh ambil batagornya berapapun yang aku suka, gratis. Tapi
nggak deh. Aku nggak tau dengan Felina, Mei Ling atau Siska, tapi
kayaknya aku sudah nggak mungkin deh mau nyamperin rombong batagor pak
Bakir lagi,” kata Viany yang kini memainkan rambutnya yang indah itu
dengan jemari tangannya.
Dalam hatiku aku berpikir, ya tentu saja! Kalau aku jadi Viany, aku
juga nggak akan perduli dengan tawaran batagor gratis itu.Yang benar
saja, memangnya aku ini cewek macam apa sampai mau menukar tubuhku
dengan batagor?
Setelah mendengar cerita Viany, aku berpikir sebaiknya mulai
sekarang aku pun juga harus berada jauh jauh dari rombong batagor pak
Bakir. Tapi ada satu hal yang sejak tadi membuatku penasaran dan ingin
kutanyakan pada Viany.
“Vian, mmm… Cie Elvira?” tanyaku dengan hati hati.
“Iya Liz, aku udah tau kok tentang Cie Elvira dengan pak Agil,”
jawab Viany. “Tapi rasanya Cie Elvira nggak tahu tentang nasib kami
berempat ini. Maksudku, Felina, Mei Ling, Siska dan aku. Kalau Vera sih,
kata pak Agil udah lama sebelum Cie Elvira, mmm…”
Viany tak meneruskan kata katanya, kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu.
“Oh iya, aku jadi ingat Liz. Vera itu ngaco deh. Minggu lalu itu,
dia itu lho udah pulang. Tapi nggak tau kenapa, selagi si Vera itu balik
lagi ke sini,” kata Viany yang kini kembali terlihat kesal. “Jadinya
Vera kan ngeliat aku dan yang lainnya sedang digituin sama orang orang
itu. Dan kamu tau nggak? Dia itu bukannya nolongin, tapi malah nelepon
sopirnya dan disuruh masuk.”
“Hah? Dia…?” aku bertanya sambil menggigit bibir.
“Iya. Memangnya dia pikir waktu itu di dalam sini lagi ada pesta
seks apa?” Viany mengomel dengan sedikit berapi api. “Jadinya bagi dia
sih memang pesta seks, tapi bagi aku dan yang lain ya menyebalkan
sekali. Gara gara Vera, jadinya tambah lagi satu bajingan yang bisa
maksain nafsunya ke kita kita. Tanya aja sama Siska yang waktu itu
terpaksa harus gituan sama sopirnya Vera itu. Huh, kalau ingat itu
rasanya aku masih ingin menampar tuh anak Liz!”
“Ssst… Vian!” aku cepat berbisik dan menempelkan jari telunjukku ke bibirku yang kukatupkan.
Viany langsung menutup mulut dengan menggunakan tangan kirinya, dan
kedua matanya itu menatapku dengan terbelalak. Jadinya Viany malah
terlihat begitu lucu. Aku sampai tersenyum dan harus menggigit bibirku
untuk menahan diriku agar tak sampai tertawa geli melihat tingkah Viany
ini.
Tiba tiba aku mendengar suara pintu kamar ganti kami terbuka. Aku
memandang Viany dengan tegang. Masa tadi itu suara kami berdua sampai
terdengar ke kamar mandi di sebelah?
Viany sendiri juga terlihat tegang. Aku diam sejenak, namun aku
segera sadar bahwa tak ada gunanya aku bersembunyi di sini. Selain itu
aku merasa keadaan akan jadi lebih parah kalau siapapun orang yang
datang itu sempat melihatku di dalam sini berduaan dengan Viany.
Maka aku memberi isyarat pada Viany supaya tetap di sini, sedangkan
aku sendiri segera keluar dari bilik ini. Sesaat kemudian aku tertegun
sekaligus lega karena yang ada di depan pintu sekarang ini ternyata Cie
Elvira.
“Liza?” Cie Elvira menyapaku dan aku merasa ia terlihat seperti gugup.
“Halo Cie Vira,” aku balas menyapa Cie Elvira sambil tersenyum, sebuah senyuman lega.
Aku sempat memperhatikan keadaan Cie Elvira yang udah mengenakan
kostum baletnya itu. Keringat masih sedikit membasahi leher dan juga
wajahnya, hingga ada sebagian rambut yang menempel pada kening dan kedua
pipi Cie Elvira. Namun bagiku semua itu tak mengurangi kecantikan Cie
Elvira.
“Kapan kamu datang Liza?” tanya Cie Elvira.
Aku melihat jam tanganku, sekarang masih jam lima kurang seperempat.
“Baru aja Cie,” aku memilih berbohong. “Nggak sampai lima menit.”
Cie Elvira tersenyum tipis, lalu ia merapikan rambutnya yang
sedikit awut awutan itu di hadapan cermin. Aku sendiri juga ikut
merapikan dan mengikat rambutku seperti Cie Elvira.
“Liza, nanti kamu langsung pulang ya,” kata Cie Elvira selagi membenarkan kuncir rambutnya.
“Iya Cie,” jawabku singkat sambil memasang senyumku.
Setelah itu Cie Elvira keluar dari ruang ganti ini. Aku menarik
nafas lega, lalu aku kembali ke Viany yang masih berada di dalam bilik
tadi. Dan melihat ulah Viany, aku tersenyum geli dan menahan tawaku.
Kalau saja aku tidak takut akan kemungkinan terburuk yang bisa
terjadi, tentu aku akan sengaja mengagetkan Viany yang saat ini malah
sibuk mengintip kamar mandi lewat lubang di atas itu. Tapi aku tak mau
melakukannya, karena aku tahu akibatnya pasti akan sangat tidak lucu
buat aku dan Viany.
Maka aku hanya duduk di sebelah Viany yang segera sadar kalau aku sudah kembali, dan ia langsung duduk di sebelahku.
“Liz, kamu tau nggak?” bisik Viany sambil menggelengkan kepalanya.
“Tadi aku liat Vera baru aja selesai main sama pak Agil. Abis itu Vera
masih sempat sempatnya ngisepin burungnya pak Agil dan pak Bakir. Bener
bener deh tuh anak!”
“Ha? Memangnya mereka masih mau terus?” tanyaku dengan heran. “Bukannya sebentar lagi udah banyak orang?”
“Harusnya sih enggak Liz,” jawab Viany. “Tadi waktu kamu udah balik
ke sini, aku liat pak Agil dan pak Bakir itu sudah siap siap keluar
dari jendela kamar mandi.”
Aku dan Viany berhenti berbisik bisik ketika pintu kamar ganti ini
kembali terbuka. Sekali ini teman teman kami yang masuk, kelihatannya
mereka sudah mulai banyak yang datang, mungkin empat atau lima orang.
Dan seperti biasa, ruang ganti ini langsung menjadi gaduh dengan celoteh
teman temanku itu.
“Halo Vian. Eh… halo juga Eliza. Ih, sejak kapan kalian berdua ini
mesra amat seperti ini?” Felina yang tiba tiba sudah berada di hadapanku
dan Viany ini menyapa sekaligus menggoda kami berdua.
“Halo Felina,” aku balas menyapa Felina sambil tersenyum malu.
“Memangnya kenapa Fel? Iri ya?” Viany balik menggoda Felina.
“Sedikit sih,” jawab Felina dengan kalemnya, dan berikutnya kami bertiga tertawa geli.
“Aku ganti baju di sini ya,” tiba tiba Felina berkata sambil
menutupkan tirai di bilik ini, dan belum sempat aku dan Viany menjawab,
Felina sudah melepas semua pakaiannya di hadapan kami berdua ini begitu
saja.
Felina dan aku sama sama menginjak usia yang ke 17 di akhir tahun
lalu, ulang tahun kami terpaut hanya dua hari saja. Saat ini aku tak
bisa mengalihkan pandangan mataku dari Felina yang dengan cueknya
berganti baju di hadapanku dan Viany, dan Felina sama sekali tak
terlihat canggung.
![]() |
Felina |
Felina memiliki pembawaan yang kalem. Dan sama
seperti Viany, Felina ini memiliki kulit yang begitu putih. Ia memiliki
rambut yang panjang sampai ke siku tangannya. Rambut itu berwarna hitam
dengan sedikit highlight, membuat Felina tampak semakin cantik jelita.
Kedua payudara Felina itu yang tertutup bra berwarna putih susu itu
mungkin lebih besar sedikit dari milikku ini.
Ketika aku mulai mengira ngira tentang merk dari bra yang dikenakan
Felina, aku baru sadar kalau aku terlalu memperhatikan Felina. Maka aku
terpaksa mengalihkan pandanganku kepada Viany dengan wajah yang terasa
panas. Viany sendiri hanya tersenyum manis padaku, dan ia malah
menyandarkan kepalanya pada pundakku.
“Vian… nanti malam aku disuruh nungguin dulu. Kalau kamu?” tanya Felina pada Viany dengan suara pelan.
“Aku disuruh minggu depan, Fel. Nanti malam sih nggak,” jawab Viany
yang lalu balik bertanya pada Felina dengan suara yang sama pelannya,
“Kamu sendiri, minggu depan gimana?”
“Nggak tau deh Vian,” jawab Felina dengan nada pasrah. “Aku mesti
liat nanti, maunya si Agil itu gimana. Kalau nanti aku disuruh ikut lagi
untuk minggu depan, ya mau gimana lagi…?”
Aku mendengar semua itu, dan aku merasa heran.
“Eh, kalian ini kok mau nurutin orang itu begitu aja?” aku bertanya
ingin tahu. “Memangnya dia bisa apa kalau kalian nggak perduli dan
pulang aja?”
“Yah, kamu nggak tau ya Liz?” keluh Viany. “Bajingan itu, pertama
kali abis gituin aku, pulangnya dia maksain aku menulis kata kata ‘MILIK
VIANY – UNTUK AGIL’ pakai spidol hitam di bagian belakang celana
dalamku itu, sekalian dengan tanda tanganku juga. Terus, celana dalamku
itu disimpan sama pak Agil.”
“Nggak cuma punya Viany saja, celana dalamku juga dia rampas Liz,”
timpal Felina selagi Viany menghela nafas. “Dan aku juga disuruh menulis
namaku di sana seperti Viany.”
“Yang bikin aku nggak bisa apa apa Liz, pak Agil itu sudah mencatat
alamat rumahku. Kalau aku nggak nurutin kemauannya, aku takut celana
dalamku…” Viany tak meneruskan kata katanya.
Aku sudah mengerti lanjutan cerita Viany, yaitu celana dalam itu
diantar ke rumah. Tubuhku jadi sedikit menggigil mendengar cerita mereka
ini. Ngeri rasanya membayangkan kalau aku harus tunduk pada pak Agil
itu karena celana dalamku dijadikan sebagai sandera. Aku jadi teringat
bagaimana dulu pak Agil mengancamku untuk tinggal di kamar ganti ini
sepulang les balet setelah merampas celana dalamku.
Diam diam aku merasa lega, karena aku bisa meminta kembali celana
dalamku yang sempat dirampas pak Agil. Kalau tidak, sejak saat itu aku
pasti sudah mengalami nasib yang sama dengan teman temanku ini. Tapi
tentu saja aku berusaha menyembunyikan perasaanku yang terakhir ini dari
mereka berdua.
“Udah dulu ah,” tiba tiba Viany berdiri. “Kalau kita terus cerita
cerita di dalam sini, nanti malah nggak jadi balet deh. Yuk, udah
waktunya ke ruang latihan nih!”
Maka kami bertiga merapikan letak tas dan sepatu milik kami masing
masing sebelum keluar dari bilik ini. Entah dengan mereka berdua, yang
jelas semua cerita Viany dan Felina itu terus terbayang dalam pikiranku,
dan membuat perasaanku sekarang ini menjadi sedikit kacau.
-x-
VIII
Nuansa Erotis Di Perjalanan Pulang
Latihan balet hari ini berjalan seperti biasa. Dan hari ini tidak
ada gerakan baru, kami hanya disuruh menyempurnakan gerakan terakhir
yang kami pelajari dari Cie Elvira. Dengan diselingi istirahat beberapa
kali, tanpa terasa aku dan sebelas teman les baletku yang lain ini sudah
berlatih selama satu jam hingga tiba saatnya bagi kami semua untuk
pulang.
Tapi mungkin tidak bagi Felina. Aku kembali teringat tentang
rahasia lain di sekolah baletku ini. Aku tak menyangka, hanya dengan
merampas celana dalam Viany, Felina, Mei Ling dan Siska, pak Agil dengan
otak cabulnya itu mampu menciptakan mimpi buruk yang mengerikan hingga
keempat temanku tak bisa berbuat apa apa selain menuruti semua keinginan
pak Agil.
Kenyataan bahwa penjual batagor di depan itu yang entah sejak kapan
juga ikut ikutan menikmati tubuh teman temanku, apalagi ditambah dengan
cerita Viany tentang tukang parkir yang tak tahu diri itu dan juga
pengemis yang bertangan buntung tadi, semua itu sudah lebih dari cukup
untuk membuatku takut berlama lama di sekolah baletku ini.
Selain itu, aku memang harus segera pulang untuk membantu Cie Natalia
dalam urusan servis piano di rumah nanti.
Maka ketika aku berada di ruang ganti, aku tidak berganti baju,
hanya mengganti sepatu baletku dengan sepatu biasa. Aku bermaksud
langsung pulang, dan tidak seperti sore tadi, aku tak perlu risih
walaupun mengendarai mobil dengan mengenakan kostum balet, karena toh
tak akan ada yang bisa melihat jelas ke dalam mobilku dalam gelapnya
malam.
“Vian, Felina, aku pulang dulu ya,” aku berpamitan pada kedua temanku ini.
“Iya Liz,” kata Viany sambil tersenyum manis, sementara Felina
hanya menganggukkan kepalanya walaupun ia juga tersenyum padaku.
Aku segera keluar menuju mobilku. Saat membayar uang parkir, aku
membuka kaca jendela mobilku seperti biasa dan menyerahkan selembar uang
seribuan, lalu aku memasang wajah tersenyum ketika pak Rizal mengucap
terima kasih sebelum aku melajukan mobilku. Memang aku berusaha bersikap
sewajarnya di hadapan pak Rizal, walaupun aku sudah tahu tentang
perbuatan bejatnya itu pada Viany dan yang lainnya, supaya tukang parkir
itu tidak curiga yang macam macam padaku.
Tiba tiba aku teringat kalau tadi Cie Elvira menyuruhku untuk
langsung pulang. Itu berarti malam ini Cie Elvira akan pulang telat.
Aku mengerti bahwa setiap kali Cie Elvira pulang telat seperti ini,
berarti Cie Elvira baru bertengkar dengan mama mertuanya itu. Dan
masalahnya adalah selalu sama, yaitu tentang kapan Cie Elvira akan
mempunyai anak. Setiap kali hal itu terjadi, Cie Elvira selalu
melampiaskan kekesalannya, dengan cara yang aku tahu sebenarnya juga
menyakiti dirinya sendiri itu.
Tapi kalau Felina juga disuruh pak Agil untuk tinggal dulu,
bukankah itu berarti Felina akan bertemu dengan Cie Elvira? Kalau benar
seperti apa yang dikatakan Viany bahwa Cie Elvira tak tahu apa apa
tentang mereka, apa yang akan dilakukan Cie Elvira kalau melihat Felina
nanti? Apakah Cie Elvira mau dan bisa menyelamatkan Felina?
Sadar kalau aku masih menyetir mobil, aku memutuskan untuk lebih
memperhatikan jalan raya yang hari ini bisa dibilang cukup lancar.
Hampir sepuluh menit berlalu saat aku terhenti di sebuah traffic
light. Sekitar satu menit kemudian, lampu merah itu sudah berubah
menjadi lampu hijau. Dan aku baru mulai melajukan mobilku ketika dering
ringtone ponselku sedikit mengejutkanku.
Tak ingin mendapat marah dari pengemudi mobil di belakangku seperti kemarin, aku memilih untuk menepikan mobilku.
“Hai Liz,” kudengar suara Viany yang riang itu dari ponselku.
“Hai Vian, kamu udah pulang?” aku balas menyapa sekaligus bertanya pada Viany.
“Udah Liz. Tadi aku cuma sebentar menemani Felina, soalnya dia
suruh aku cepetan pulang. Aku pikir memang sebaiknya begitu sih. Tapi
abis bayar parkir, aku pura pura pulang, padahal aku muterin sekolah
balet, terus ini aku berhenti di seberang sini, agak jauh,” kata Viany.
“Terus, gimana Vian?” aku bertanya ingin tahu.
Sebetulnya tadi itu aku jadi sedikit heran, tapi sesaat berikutnya
aku merasa bisa mengira apa maunya Viany. Dan rasanya dengan bertanya
seperti tadi, aku pikir Viany akan merasa tidak canggung lagi untuk
terus bercerita padaku.
Dan memang Viany langsung melanjutkan ceritanya. Setelah Viany
sempat menunggu sekitar lima menit, ternyata bukan Cie Elvira yang
pukang, melainkan Felina. Seperti dugaanku tadi, malam ini Cie Elvira
memang pulang telat. Dan bukan hanya Cie Elvira saja, Vera juga ikut
ikutan pulang telat.
“Felina nggak jadi nunggu pak Agil, soalnya Cie Elvira pulang telat
Liz. Aku pernah diceritain Mei Ling, kalau Cie Elvira pulang telat, Mei
Ling bisa langsung pulang, soalnya pak Agil nggak berani berbuat macam
macam kalau ada Cie Elvira,” kata Viany.
“Ow,” aku baru mengerti ternyata pak Agil itu kucing kucingan
dengan Cie Elvira, dan hanya berani menyusahkan teman temanku itu kalau
Cie Elvira pulang cepat.
“Nah, tukang parkir sialan itu udah masuk. Liz, udahan dulu ya,”
Viany berpamitan padaku. “Tadi aku juga nunggu dia masuk, soalnya aku
takut dia bisa ngenalin mobilku, terus minggu depan dia tanya tanya sama
aku yang nggak nggak lagi.”
“Oh iya deh. Hati hati di jalan ya Vian,” kataku menutup pembicaraan kami ini.
“Iya. Kamu juga ya Liz. Daaah…” kata Viany dengan nada yang ceria seperti biasanya.
Aku tersenyum geli mendengar suara temanku ini. Entah siapa yang
lebih ceria antara Viany dan Jenny, tapi yang pasti bagiku sikap mereka
berdua itu sama sama jenaka. Dan aku sudah hampir menekan tombol end
call di ponselku ketika aku mendengar suara Viany yang memanggil
manggil.
“Iyaa… ada apa Vian?” aku bertanya sambil menahan geli karena suara Viany yang panik itu terdengar lucu sekali.
“Liz… itu… aku ngeliat pengemis itu! Yang tangannya buntung itu! Aku nggak berani jalanin mobil dulu Liz,” kata Viany.
“Hah? Vian, kamu cepetan kunci pintu mobilmu dulu! Terus dia di
mana? Kamu nggak apa apa kan Vian?” kini ganti aku yang panik.
“Tenang deh Liz, enggak apa apa kok. Pintu mobilku sih sudah
terkunci dari tadi Liz. Dan… orang itu jauh kok dari sini, dia itu ada
di depan sekolah balet. Duh… makasih ya Liz, kamu itu memang baik deh,
masih sempat sempatnya mikirin aku,” kata Viany dengan nada manja.
“Yee… aku kan ngeri kalau mbayangin kamu diapa apain sama pengemis itu Vian,” aku memprotes.
“Iyaa. Makanya itu, berarti kamu care sama aku kan?” Viany terus menggodaku.
“Aku… duh iya deh. Terus, orang itu ngapain Vian?” aku tak tahu
harus berkata apa, tapi aku pikir sebaiknya aku mengalihkan pembicaraan
kami kembali ke pengemis yang bertangan buntung itu sebelum Viany
kembali menggodaku.
“Pengemis itu? Tuh, dia masih pura pura minta minta di depan
sekolah balet. Bentar lagi pasti dia pergi lewat sebelah kiri, dan… oh
iya… aku belum bilangin kamu ya Liz. Selain pak Agil, teman temannya
yang lain itu masuk ke dalam sekolah balet lewat jendela di kamar mandi
itu Liz,” jawab Viany.
“Aduh…” aku hanya bisa mengguman sambil berpikir, mungkinkah semua
ini dimulai saat mereka mendengar lenguhan Cie Elvira yang sedang
digagahi oleh pak Agil di dalam kamar mandi? Atau jangan jangan pak Agil
sendiri yang memang merencanakan itu semua? Dan sejak kapan Cie Elvira
harus merelakan tubuhnya dinikmati oleh para lelaki bejat itu?
Membayangkan bagaimana Cie Elvira harus rela melayani pengemis
buntung yang berwajah tak karuan itu, tiba tiba gairahku bergolak dan
jantungku berdegup kencang. Apa yang kira kira dirasakan Cie Elvira saat
pengemis buntung itu menjarah tubuhnya? Bagaimana ya rasanya saat
bagian yang buntung dari tangan pengemis itu menyentuh tubuhku?
Tubuhku?
Mengapa jadi tubuhku?
Aku memejamkan mataku, tapi tangan buntung itu tak juga berhenti,
malahan mulai menyentuh dan meraba raba beberapa bagian tubuhku yang
lain. Getaran halus mulai menjalari tubuhku saat ujung tangan yang
buntung itu terus menyusuri seluruh kulit tubuhku.
“Liz…? Lizaa…?” tiba tiba suara Viany yang memanggil manggil aku dari ponselku membuyarkan lamunan erotisku ini.
“I… iya Vian…?” aku cepat menjawab panggilan Viany.
“Iih… kamu ini. Ngelamun siapa sih kok aku dicuekin dari tadi? Aku
pamit pulang Liiiiz…” Viany mengomel sambil pamit pulang lagi padaku.
“Duh… sorry ya Vian… iya deh, hati hati di jalan ya,” kataku sambil
berharap Viany segera menutup telepon ini sebelum aku mulai melantur.
“Iya… kamu juga ya Liz. Daah…” kata Viany dan sekali ini pembicaraan kami lewat telepon ini benar benar berakhir.
Perlahan aku memejamkan mataku kembali, dan aku melihat ujung
tangan buntung itu ternyata masih berada di sini, menggerayangi tubuhku
dengan nakalnya. Tubuhku mulai menggigil diterpa rasa ngeri yang
bercampur gairah ketika aku merasakan tekanan dari ujung tangan buntung
itu pada salah satu puting payudaraku, sementara remasan lembut pada
payudaraku yang satunya lagi ini membuatku makin tak berdaya dan
menyerah terhadap semua rangsangan yang mendera tubuhku ini.
Tapi selagi aku menikmati semua itu, kerasnya suara deru mesin
mobil yang lewat sedikit mengejutkanku. Ditambah dengan sekelebat sinar
lampu yang sempat menerpa wajahku ini, membuatku perlahan membuka
mataku. Sekarang tangan buntung itu menghilang, dan kini yang nampak di
mataku adalah kedua tanganku yang dengan nakalnya menggoda kedua
payudaraku sendiri.
“Mmmh…” aku merintih kecewa dan menurunkan kedua tanganku ini.
Gairahku masih begini tinggi, namun aku tak tahu harus berbuat apa.
Aku berusaha mengatur nafasku yang tak beraturan, namun rasanya
semuanya menjadi semakin sulit ketika entah kenapa aku jadi teringat
akan Cie Elvira.
Akibatnya saat ini pikiranku malah dipenuhi dengan bayangan tentang
berbagai kemungkinan adegan seks yang saat ini terjadi antara Cie
Elvira dan para pejantan itu. Namun aku tak berani memejamkan mataku,
karena aku tahu bayangan tangan yang buntung itu akan datang kembali
untuk menyeretku dalam lamunan erotis seperti tadi.
Semua itu membuat aku menjadi bingung, karena aku tak tahu apa yang
harus kuperbuat selagi aku terus diamuk gairahku yang semakin menjadi
ini.
Oh, kalau saja saat ini ada Wawan di sampingku, ia tak mungkin tega
membiarkan nona majikannya menderita seperti sekarang ini. Penisnya
yang amat keras itu pasti sudah menusuk dan mengaduk habis liang
vaginaku ini, untuk membuatku tenggelam dalam lautan orgasme.
“Ngghh…” aku melenguh lemah ketika aku merasakan tekanan beberapa
jari tangan pada bibir vaginaku yang masih terlindung celana dalam dan
juga kostum baletku ini.
Ketika aku menundukkan kepalaku untuk melihat apa yang terjadi, aku
hanya bisa pasrah melihat jari jari tanganku yang terus menari dan
menekan selangkanganku.
Perlahan rasa panas mulai menjalari seluruh tubuhku. Berikutnya aku
harus memejamkan mataku dan mendongakkan kepalaku hingga tersandar di
sandaran kepala jok mobilku saat aku harus menahan nikmat. Sebuah jari
tanganku itu berhasil menusuk selangkanganku hingga sedikit tenggelam
dalam liang vaginaku bersama celana dalam dan kostum baletku.
“Waan… mmmhh…” aku menggeliat lemah dan merintih.
Nafasku mulai memburu, tubuhku terus bergetar dan sesekali
menggeliat ketika aku merasakan sebuah jariku yang lain juga ikut
melesak masuk menemani jariku yang satunya. Tak ada yang bisa kulakukan
untuk menghentikan kenakalan kedua jari tanganku itu. Saat ini, tubuhku
ini seperti bukan milikku lagi, bahkan aku hanya bisa memandang heran
saat tanganku yang satunya bergerak sendiri, meraih ponselku yang
tergeletak di jok kiri depan mobilku ini, entah apa yang sedang
diperbuat oleh tanganku ini.
“Halo…?” tiba tiba aku mendengar suara yang cukup kukenal.
“Halo…?” suara itu kembali memanggilku, dan berikutnya aku sadar kalau itu adalah suara Sulikah, pembantu di rumahku.
Hah? Aku melihat ponselku, dan aku kembali terkejut. Mengapa aku
menelepon rumahku sendiri selagi aku dalam keadaan terbakar gairah
seperti ini?
Aku diam tak berani menjawab, bahkan aku menahan nafasku karena
rasa nikmat pada liang vaginaku yang masih sedikit tertusuk oleh kedua
jari tanganku ini membuatku ingin melenguh.
Dan tiba tiba wajahku terasa panas. Apakah tadi itu aku sudah
sebegitu inginnya untuk ngeseks, hingga di luar kesadaranku aku sampai
menelepon rumah dan mencari Wawan? Memang selama ini Wawan adalah
pejantanku yang paling mampu membuatku menjerit keenakan sewaktu aku
harus ngeseks. Dan aku tahu kalau sekarang ini Wawan benar benar berada
di sini, mungkin aku sudah memohonnya untuk menggagahiku, menyetubuhiku
sampai aku orgasme sejadi jadinya.
Duh, mengapa aku sampai jadi seperti ini?
Lalu, bagaimana dengan ponselku ini? Kumatikan, atau kujawab? Tapi
kalau kujawab, apa yang harus kukatakan atau kutanyakan pada Sulikah?
Setelah sempat meragu beberapa saat, akhirnya aku menggerakan jari
tanganku, memilih untuk menekan tombol end call di ponselku. Aku menarik
nafas panjang, perlahan kesadaranku mulai pulih, dan akhirnya aku
berhasil juga menghentikan kenakalan jari tangan dari tanganku yang
satunya ini.
Aku masih mengatur nafasku yang tak karuan ini sambil berusaha
untuk menekan gairahku, saat aku hampir menjerit kaget karena ponsel
yang masih kupegang ini berbunyi dan bergetar. Dari nadanya sih itu
adalah sms masuk, dan aku cepat cepat membacanya.
‘Eliza, Cie Cie berangkat sekarang. Kamu udah pulang kan? Cie
Cie udah taruh amplop untuk ongkos servis di atas piano, tolong ya
sayang… Sorry ya jadi ngerepotin kamu, thanks ^^’.
Aku cepat membalas sms itu, mengabarkan pada Cie Natalia kalau aku
memang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Mungkin aku akan terlambat
sedikit, tapi aku tak memberitahu Cie Natalia tentang kemungkinan ini,
supaya ia tidak merasa kuatir, toh tukang servis piano itu sendiri juga
belum tentu tepat waktu.
Lalu aku segera melajukan mobilku. Radio di mobil ini kunyalakan
dengan harapan bisa membantuku untuk mengalihkan pikiranku dari semua
bayangan yang menyiksaku sejak mendengarkan semua cerita Viany tadi.
Pasti akan tidak lucu kalau aku harus menyetir pulang ke rumah Cie
Natalia dalam keadaan terbakar gairah.
-x-
VIII
Tukang Servis Piano Itu Buta
Harapan tinggal harapan, entah kenapa aku tak berhasil mengalihkan
pikiranku dari bayangan tangan buntung itu. Hal itu sungguh amat
menyiksaku, terutama setiap kali aku harus menghentikan mobilku kalau
lampu merah pada traffic light menyala. Di saat seperti itu, aku bahkan
beberapa kali menggigit bibir sambil memejamkan mataku, menikmati
kenakalan ujung tangan buntung yang terus merayapi seluruh tubuhku dan
sesekali bahkan menggoda bibir vaginaku.
Tapi lamunan erotis itu tak bisa kunikmati sepenuhnya, karena aku
kuatir kalau kalau nyala lampu merah pada traffic light sudah berganti
lampu hijau. Aku tak ingin kendaraan di belakangku sampai membunyikan
klakson kalau kalau aku tidak segera menjalankan mobilku. Tampaknya hal
itu masih cukup untuk mencegahku terseret lebih jauh dalam lamunanku
ini.
Akhirnya aku sampai di depan rumah Cie Natalia dengan selamat,
walaupun di sepanjang perjalanan pulang ini aku harus menyetir dalam
keadaan terbakar gairah. Kebetulan aku melihat seorang bapak yang baru
saja masuk dari pintu gerbang rumah Cie Natalia. Dan mbak Lastri yang
melihat kedatanganku, langsung melebarkan pintu gerbang yang sudah
terbuka sedikit itu.
Maka aku terus melajukan mobilku ke dalam garasi dan sempat
melewati bapak itu. Sekilas aku melihat ia mengenakan baju batik dan
celana panjang berwarna coklat. Ia juga membawa sebuah tas berwarna
putih yang tergantung di pundak kanannya. Tas itu terlihat sudah agak
lusuh dan kumal.
Aku sudah cukup yakin kalau bapak itulah yang akan memperbaiki
piano Cie Natalia, dan aku merasa lega karena ini berarti aku belum
terlambat pulang. Tapi ketika aku sudah memarkir mobilku di dalam garasi
ini dengan rapi, bayangan tangan buntung itu sempat kembali melayang
layang dalam pikiranku.
Hal itu membuatku menggigit bibirku, perlahan kedua mataku
meredup, sementara nafasku kembali memburu. Tanpa kusuruh, jari tanganku
ini bergerak sendiri meraba bibir vaginaku yang masih terlindung celana
dalam dan kostum baletku ini. Oh, bagaimana ya rasanya kalau ujung
tangan buntung itu benar benar menusuk masuk ke dalam sini?
Tapi aku sadar kalau sebentar lagi aku harus berbicara pada bapak
tukang servis piano itu. Maka aku berusaha untuk menekan gairahku dengan
sebisaku, agar nanti aku tak berbuat sesuatu yang mungkin akan
mempermalukan diriku sendiri.
Dan tiba tiba aku teringat sesuatu yang membuatku sedikit terkejut
dan menyesal. Seharusnya sebelum pulang tadi, aku memakai baju gantiku
yang tadi. Kalau begini kan aku harus menemui bapak itu dalam keadaan
masih mengenakan kostum baletku seperti ini? Bagaimana kalau
penampilanku sekarang ini membuat gairah bapak itu terbakar, lalu ia
berbuat yang tidak tidak padaku?
Tapi bapak itu sudah berada di sini, dan sekarang ini tak ada
pilihan lain untukku. Maka aku terpaksa memberanikan diri untuk turun
dari mobilku.
“Malam pak. Bapak ini siapa ya?” aku langsung bertanya padanya setelah menutup pintu mobilku.
“Malam non,” jawab orang itu dengan sopan. “Nama bapak Sigit,
tukang servis piano panggilan. Bapak yang menyetel piano di sini sejak
tahun sembilan-puluhan.”
“Ow gitu. Kalau gitu mari pak, ikut saya ke ruangan piano,” aku mengajak pak Sigit sambil melangkah ke dalam.
“Eh… non, tolong pelan pelan,” kata tukang servis piano itu. “Bapak ini nggak bisa melihat.”
Kata kata itu membuatku terkesiap dan aku menghentikan langkahku.
Aku mulai memperhatikan keadaan pak Sigit, dan aku baru sadar kalau ia
mengenakan kaca mata hitam dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat
penunjuk jalan. Keadaannya itu membuatku merasa iba, tapi diam diam aku
juga merasa lega, karena itu berarti aku tak perlu kuatir lekuk tubuhku
yang pastinya tercetak jelas pada kostum baletku ini terlihat oleh pak
Sigit.
“Maaf ya pak, saya nggak tau,” aku berkata sambil mendekati pak
Sigit dan memegang tangan kirinya yang menganggur. “Mari pak, saya
bantuin ke dalam.”
“Terima kasih ya non. Boleh bapak tau siapa ya nama non yang baik hati ini?” tanya pak Sigit.
“Aduh, nggak segitunya kali pak. Boleh aja kok, nama saya Eliza,”
jawabku dengan sedikit senang mendengar pujian pak Sigit tadi.
Setelah kami sampai di dalam ruang piano, aku menyalakan lampu
ruangan ini dan terus membimbing pak Sigit sampai ke dekat piano yang
berada di tengah tengah ruangan ini, dan sebuah amplop putih yang ada di
atas piano seperti kata Cie Natalia di dalam SMS tadi. Aku sempat
memperhatikan piano milik Cie Natalia itu, sebuah piano dari merk
terkenal, dan masih terlihat mengkilat seperti baru.
“Ini pianonya, pak,” kataku sambil membimbing dan meletakkan tangan pak Sigit di atas piano.
“Terima kasih non Eliza,” kata pak Sigit.
“Pak Sigit mau minum apa?” tanyaku sambil mengambil dan memasukkan
amplop itu ke dalam tasku, dan aku juga menyalakan AC ruangan ini dari
remote yang juga ditaruh di atas kap piano ini.
“Apa saja non, pokoknya yang dingin dingin,” jawab pak Sigit.
“Kalau gitu saya ambilkan dulu pak,” kataku dan aku segera menuju ke dapur.
Ternyata di sana mbak Lastri memang sedang menyiapkan sebuah baki
dengan dua gelas sirup yang dingin. Dengan senang aku mengucapkan terima
kasih sekaligus menawarkan diri untuk membawakan baki minuman itu,
namun mbak Lastri tidak mengijinkan. Setelah beberapa kali aku memaksa,
barulah mbak Lastri mengiyakan. Lalu aku langsung kembali ke dalam ruang
piano tadi.
Saat aku kembali, ternyata pak Sigit sedang sibuk menekan nekan
tuts piano. Sepertinya ia sedang berkonsentrasi mendengarkan apakah ada
yang salah pada nada yang dihasilkan oleh setiap tuts piano yang
ditekannya. Aku sempat melihat dan memperhatikan, dari deretan tuts yang
ditekan bergantian secara berurutan, memang kurasakan ada beberapa nada
yang sumbang.
Diam diam aku jadi penasaran, apakah orang buta seperti pak Sigit ini benar benar bisa memperbaiki piano Cie Natalia?
Aku tak ingin menggangu pekerjaan pak Sigit, maka aku memilih untuk
menunggu sampai ia selesai dahulu, baru aku akan menawarkan minuman ini
padanya. Dengan perlahan aku menaruh baki minuman yang kubawa pada meja
kecil di ujung ruangan ini, dan tasku juga kuletakkan di sebelahnya.
Melihat sofa yang indah di samping meja itu, aku merasa senang.
Berarti aku bisa bersantai di sana selagi menunggu selesainya servis
piano ini. Lalu aku berjongkok di depan meja ini dan mengambil ponselku
yang berada di dalam tasku untuk menemaniku selama menunggu pak Sigit
selesai bekerja.
Tepat pada saat tanganku menyentuh ponselku, bunyi dering ringtone
ponselku yang cukup keras sekaligus getarannya membuatku sangat terkejut
hingga secara reflek aku menarik tanganku yang masih berada di dalam
tasku ini. Akibatnya tasku ikut tertarik dan menyenggol salah satu gelas
minuman yang ada di atas baki ini.
Beruntung aku masih cukup cepat menggerakkan tanganku yang kiri dan
berhasil menahan gelas minuman itu hingga tidak sampai jatuh dan pecah,
tetapi cukup banyak tumpahan air minuman dingin dari gelas itu yang
mengguyur baju balet yang kukenakan ini, hingga bagian depan dari baju
baletku ini basah kuyup. Bahkan aku merasa bagian depan celana dalamku
juga basah terkena tumpahan ini.
Aku mengeluh perlahan sambil menggigit bibirku, menahan rasa dingin
dari air minuman yang membasahi baju baletku ini. Aku tahu bahwa
sebaiknya aku cepat berganti baju kalau aku tak ingin mendapat sakit
flu, apalagi sebentar lagi AC di ruangan ini akan membuat hawa semakin
dingin.
Sayangnya itu berarti aku harus mandi dahulu kalau aku tidak mau
baju gantiku juga kotor dan lengket dengan air sirup. Dan itu juga
berarti aku harus meninggalkan pak Sigit yang sedang memperbaiki piano
itu untuk sekitar lima belas sampai dua puluh menit, padahal aku sudah
berjanji pada Cie Natalia untuk membantunya menunggui tukang servis
piano.
Maka dengan sedikit kesal aku terpaksa berusaha mengeringkan baju
baletku ini untuk sementara, dan aku mengambil sebungkus tissue yang
masih utuh dari dalam tasku. Namun tiba tiba saja terlintas sesuatu hal
di pikiranku yang menurutku adalah sebuah ide yang bagus, yaitu baju
baletku plus bra yang sudah basah kuyup ini sebaiknya kulepas, dan kulit
tubuhku yang basah kuseka pakai tissue ini hingga kering, lalu aku bisa
memakai baju gantiku yang ada di dalam tasku ini, tanpa bra juga tidak
apa apa. Tak ada yang perlu kukuatirkan tentang pak Sigit, toh ia buta
dan tak akan dapat melihatku.
Tapi tepat sebelum aku melepas bagian atas baju baletku, terlintas
satu hal lain yang membuat jantungku hampir berhenti berdetak dan
tenggorokanku serasa tercekat. Bagaimana kalau aku terlanjur berganti
baju di sini begitu saja, lalu ternyata pak Sigit itu sama sekali tidak
buta? Bukankah itu berarti aku seperti melakukan striptease di
hadapannya?
Memikirkan itu semua aku jadi ragu ragu untuk meneruskan niatku
berganti baju di sini. Aku berpikir cepat, dan aku memutuskan untuk
lebih baik bertanya pada Cie Natalia terlebih dulu. Maka aku mengambil
ponselku dan bertanya lewat SMS pada Cie Natalia, tentang apakah ia tahu
kalau pak Sigit memang buta.
Dengan harap harap cemas aku menunggu jawaban Cie Natalia. Semoga
suasana di pesta ultah teman Cie Natalia itu tidak terlalu hingar bingar
sehingga Cie Natalia masih bisa mendengar dering ringtone SMS masuk
dari ponselnya dan menjawab pertanyaanku tadi secepatnya, karena aku
sudah mulai tersiksa dengan rasa dingin.
“Non Eliza,” tiba tiba pak Sigit memanggilku setelah ia berhenti
menekan nekan tuts piano. “Bapak bisa minta tolong non untuk bantuin
bapak?”
“Saya? Bantuin gimana ya pak?” tanyaku dengan ragu.
“Non Eliza cuma perlu menekan tuts tuts ini kalau bapak minta,
mulai dari yang paling kanan. Nanti non ganti ke tuts di sebelah kirinya
setiap bapak bilang selesai. Bapak sendiri akan menyetel senar piano
ini dari belakang,” jawab pak Sigit.
“Mmm… sepertinya bisa sih. Saya coba bantuin ya pak,” kataku dan
aku segera beranjak ke arah piano sambil membawa ponselku, juga
sebungkus tissue yang nantinya mungkin akan kuperlukan.
Karena aku pikir bunyi dering ringtone ponselku mungkin bisa
mengganggu kerjanya pak Sigit, aku memutuskan untuk mengubah profile di
ponselku ke mode silent.
“Oh iya, saya hampir lupa. Apa bapak mau saya ambilkan minum dulu?”
aku menawarkan minuman yang masih ada satu gelas itu pada pak Sigit.
“Terima kasih non, tapi nanti saja, bapak belum haus,” tolak pak
Sigit. “Oh iya, sepertinya tadi itu ada gelas yang hampir jatuh, dan
juga ada air yang tumpah. Kalau dari bau sirup yang bapak cium sekarang
ini, sepertinya baju yang non Eliza pakai ini ketumpahan air minuman.
Mungkin non ingin ganti baju dulu sebelum balik ke sini dan bantuin
bapak?”
Aku terkejut mendengar kata kata pak Sigit itu dan hal ini makin membuatku curiga kalau sebenarnya ia hanya pura pura buta.
“Pak Sigit, maaf saya bertanya seperti ini. Pak Sigit kan nggak
bisa melihat? Gimana caranya bapak sampai bisa tahu kalau baju saya ini
ketumpahan minuman?” tanyaku dengan cepat.
“Buat orang buta seperti bapak ini,” jawab pak Sigit sambil membuka
kacamata hitamnya, “bunyi air yang tumpah ke kain tadi itu terdengar
jelas. Dan waktu non Eliza berdiri di dekat sini, bapak mencium harumnya
bau sirup. Jadi bapak tahu air minuman yang non bawa tadi itu tumpah di
bajunya non.”
Sekarang aku bisa melihat mata pak Sigit yang sejak tadi tertutup
kacamata hitam. Diam diam aku bergidik ngeri karena bola mata itu terus
bergerak tak menentu. Dan melihat bagian yang harusnya berwarna hitam
dari mata pak Sigit itu ternyata berwarna kelabu dan sedikit pudar, aku
mulai yakin kalau ia memang buta.
“Wah, kalau gitu pendengaran pak Sigit tajam sekali yah,” aku
memuji dengan kagum sebelum aku menjawab pertanyaan pak Sigit yang tadi.
“Oh iya pak Sigit, ini tumpahannya cuma sedikit kok, jadi saya nggak
perlu ganti baju sih.”
“Kalau begitu bapak mulai sekarang saja ya non?” kata pak Sigit yang sudah berdiri sambil membawa tasnya.
“Iya pak,” jawabku singkat dan aku duduk di kursi piano yang baru ditinggalkan pak Sigit ini.
Sebenarnya aku ingin mengganti bajuku, tapi aku sedikit berbohong
pada pak Sigit karena rasanya tak enak juga kalau aku sampai membuat pak
Sigit menunggu. Jadi aku berpikir soal ganti baju ini kulakukan nanti
saja sekalian setelah urusan servis piano ini selesai.
Lagipula, setelah aku yakin pak Sigit memang buta, aku bisa saja
sementara menggunakan kaos yang ada di dalam tasku sebagai baju gantiku
kalau aku mau. Dan tentu saja aku tak mungkin mengatakan pada pak Sigit
kalau aku berniat untuk berganti baju di sini.
Dengan hati hati aku menaruh ponselku di bagian atas piano yang
kapnya sudah terbuka ini, sedangkan bungkusan tissue ini kutaruh di
pinggir kursi piano ini. Pak Sigit sendiri mengeluarkan dua buah alat
dari dalam tasnya yang kumal itu, dan dengan membawa dua alat itu, ia
beranjak menuju ke bagian belakang piano.
Dan sesaat kemudian tangan kananku sudah sibuk menekan tuts tuts
piano ini sesuai permintaan pak Sigit, kadang ia minta aku menekan
dengan biasa, kadang keras. Hampir di setiap jeda sebelum aku diminta
menekan tuts lagi, selalu diselingi dengan suara senar yang
dikencangkan. Kadang aku juga mendengar suara ketukan. Duh, rumit juga
yah ^^”
Setelah proses penyetelan piano ini berlangsung sekitar lima menit,
tiba tiba aku melihat layar ponselku berkedip, dan aku cepat mengambil
ponselku. Ternyata ada SMS yang masuk dari Cie Natalia, dan aku langsung
membacanya.
Ternyata isinya adalah jawaban Cie Natalia untuk pertanyaanku tadi,
yaitu pak Sigit memang buta, dan sekalian Cie Natalia titip salam untuk
pak Sigit. Selain itu Cie Natalia juga ngucapin thanks karena aku sudah
repot repot menggantikannya jagain piano. Aku tersenyum dan membalas
SMS itu.
Namun jawaban Cie Natalia itu mengingatkanku kepada penyebab aku
menanyakan hal itu. Tiba tiba saja aku kembali merasakan dinginnya AC
yang sudah cukup lama menyala ini, dan membuat tumpahan dari air minuman
yang sangat dingin pada baju baletku ini terasa semakin dingin.
-x-
IX
Deritaku Selama Piano Itu Diservis
Maka aku teringat kembali pada ideku tadi. Jadi, bagaimana ya?
Apakah aku langsung berganti baju di sini saja selagi pak Sigit menyetel
piano ini? Atau sebaiknya aku menunggu sampai servis piano ini selesai
dan pak Sigit pulang?
Kalau aku memilih yang pertama, paling tidak aku mengenakan pakaian kering dan rasa dingin ini tak akan terus menyiksaku.
Dan kalau aku memilih yang kedua, dengan kondisi tubuhku yang masih
belum pulih sepenuhnya dari kelelahan akibat terlalu sering orgasme
ini, aku mungkin sekali akan terkena sakit flu yang pasti akan lama
sembuhnya, padahal sebentar lagi aku harus menghadapi ujian kenaikan
kelas. Gimana nih?
Setelah beberapa saat aku bimbang di antara dua pilihan ini,
akhirnya aku memutuskan untuk memilih yang pertama. Tapi entah kenapa
walaupun aku tahu pak Sigit itu buta, dan ia bahkan sibuk dengan bagian
dalam piano ini, tetap saja aku merasa jantungku berdegup kencang saat
aku mulai membuka baju baletku ini.
Rasa dingin yang makin menyiksa ini membuatku tak punya pilihan
lain. Setiap kali pak Sigit sibuk menyetel senar, aku melanjutkan
usahaku untuk menarik lepas baju baletku ini, hingga akhirnya tinggal
bra saja yang melekat pada setengah tubuhku bagian atas ini, karena baju
baletku ini sudah jatuh sampai ke pinggangku.
Eh… pak Sigit memang tak akan bisa melihatku dengan kedua matanya
yang buta itu. Tapi tadi itu, ia bisa tahu bajuku ketumpahan air minuman
hanya dengan mendengar saja. Lalu, apakah ia juga bisa mendengar kalau
aku sudah membuka baju baletku yang ketat ini?
Dengan tubuhku yang sudah dalam keadaan setengah telanjang,
memikirkan semua itu membuatku merasa tegang. Bagaimana kalau pak Sigit
ternyata juga bisa mengenali suara terlepasnya baju? Perlahan aku
menggigit bibirku dan tiba tiba aku merasa malu sekali. Kalau benar
seperti dugaanku, bukankah itu berarti aku sama saja seperti sedang
melakukan striptease di hadapannya sekarang ini?
“Tekan lagi non,” tiba tiba aku mendengar suara pak Sigit.
“Eh, i… iya pak,” aku menjawab di tengah kegugupanku.
Sambil menekan tuts piano yang terakhir kutekan sebelum aku
berhasil melepas bagian atas baju baletku tadi, aku terus memikirkan
situasi sekarang ini. Rasaya suara pak Sigit ketika menyuruhku menekan
tuts piano tadi terdengar wajar wajar saja. Dan proses penyetelan piano
ini terus berlangsung tanpa ada hal yang aneh dari pak Sigit.
Ah, mungkin aku terlalu curiga yang tidak tidak. Sepertinya aman
saja bagiku untuk berganti baju di sini walaupun ada pak Sigit. Maka
selagi pak Sigit kembali sibuk menyetel senar piano, aku berdiri dari
kursi piano ini dengan perlahan untuk menarik lepas rok baletku, rok
yang sedikit transparan ini. Dan rok ini kutaruh di atas kursi piano.
Masih dalam keadaan berdiri, aku sempat harus menekan tuts piano
lagi sebelum akhirnya aku berhasil melepaskan baju baletku yang lalu
kutaruh di atas rok baletku tadi. Semua itu kulakukan dengan hati hati
dan kuusahakan tanpa suara, dan kini aku hanya tinggal mengenakan bra,
celana dalam dan stocking saja.
Ow, harusnya sekarang ini aku dan tubuhku merupakan pemandangan
indah bagi pak Sigit (duh, narsisnya kumat deh). Dan entah apa yang akan
terjadi padaku kalau saja pak Sigit bisa melihat aksi striptease yang
kulakukan ini. Kalau saja yang berada di hadapanku sekarang ini adalah
Wawan cs, maka tak akan butuh waktu lama sebelum tubuhku ini diterkam
dan dimangsa habis oleh mereka.
Lalu bagaimana dengan pak Sigit yang sedang sibuk menyetel piano
ini? Ah, dia kan juga lelaki, sama seperti ketiga pejantanku itu. Kalau
benar pak Sigit bisa melihat apa yang kulakukan sekarang ini, servis
piano ini akan lebih lama selesainya karena ia pasti lebih memilih untuk
sibuk denganku.
Memikirkan semua itu, aku merasa geli dan menahan senyumku, namun
jantungku tetap berdebar dengan kencang. Bagaimanapun juga, memikirkan
tubuhku yang hanya terbalut pakaian dalam seperti ini di hadapan seorang
lelaki, membuatku sedikit merasa risih bercampur ngeri.
Tiba tiba rasa dingin yang sempat kulupakan itu kembali lagi,
bahkan kini terasa lebih menusuk, terutama di kulit dada dan perutku
yang sempat tersiram tumpahan air minuman tadi. Sebisanya aku menyeka
bagian tubuhku yang basah ini dengan tissue yang tadi sempat kubawa
sebelum aku membantu pak Sigit.
Setelah menempuh semua kesulitan ini, akhirnya aku berhasil
mengeringkan tubuhku, dan semua tissue yang telah kupakai itu kutaruh di
atas tumpukan kostum baletku. Namun aku justru merasa lebih kedinginan.
Aku baru sadar, penyebabnya adalah AC yang membuat hawa di ruangan ini
menjadi semakin dingin, ditambah dengan tubuhku yang hanya mengenakan
pakaian dalam seperti ini.
“Pak Sigit, tolong berhenti sebentar yah,” kataku pada pak Sigit. “Saya mau m… minum.”
Dan aku tersenyum lega karena aku merasa alasanku yang tiba tiba
terpikir ini tepat sekali. Kan tidak mungkin aku mengatakan pada pak
Sigit kalau aku ingin memakai kaosku karena aku baru melepaskan kostum
baletku ini?
“Oh iya iya. Silakan non Eliza,” jawab pak Sigit dan ia menghentikan penyetelan senar yang sedang dilakukannya itu.
“Bapak mau saya ambilkan minum juga?” aku sekalian menawarkan minuman tadi pada pak Sigit.
“Oh, nanti saja non. Tanggung, ini sudah tinggal 8 senar lagi. Dan bapak belum haus,” lagi lagi pak Sigit menolak.
Aku berpikir sejenak. Delapan tuts, kalau setiap tuts rata rata
satu menit atau lebih, berarti masih sekitar sepuluh menit lagi. Maka
aku tetap memilih untuk memakai kaos gantiku tadi daripada terus
menggigil kedinginan sampai selesainya servis piano nanti.
“Kalau gitu saya minum dulu sebentar ya pak,” kataku lagi.
Pak Sigit mengiyakan saja, dan setelah mengambil tumpukan kostum
baletku yang kutaruh di kursi piano ini, aku segera menuju ke meja
tempat dimana tasku sedang duduk manis menungguku. Aku sempat menoleh ke
arah pak Sigit, entah kenapa tiba tiba aku merasa takut kalau ia
mengintipku.
Tapi gara gara itu aku jadi melihat ponselku berkedip, hingga aku
cepat menaruh tumpukan kostum baletku ini di samping tasku, lalu dengan
masih dalam keadaan hampir telanjang bulat seperti ini, aku melangkah
kembali ke piano untuk mengambil ponselku.
Dan ternyata ada sebuah SMS masuk, dari Cie Stefanny? Aku cepat membuka SMS itu.
‘Eliza, sorry ya, besok Cie Cie nggak bisa ngelesin kamu.
Soalnya Cie Cie capek sekali, rasanya perlu istirahat. Tapi hari Kamis
nanti, kamu langsung les dua kali, buat gantiin yang besok. Nggak apa
apa ya sayang? Abisnya kamu juga sih, ngenalin Cie Cie ke Jenny dan
Sherly. Dua anak itu… duh, mereka itu nggak kalah nakal deh sama kamu.’
Aku memejamkan mataku, mencoba mengatur nafasku yang memburu akibat
membaca SMS dari Cie Stefanny itu. Jenny, Sherly, kalian apain aja Cie
Stefannyku ini sampai kecapekan seperti itu? Dan, mengapa aku kalian
tinggalkan sendiri seperti ini?
Tiba tiba semua adegan mesra antara aku dan Cie Stefanny di malam
hari itu melayang dalam anganku. Juga tentang kegilaan yang kami lakukan
bersama Jenny dan Sherly pada keesokan harinya hingga ketiga pejantanku
itu terkapar lemas.
Akibatnya, nafasku jadi makin memburu. Sekujur tubuhku serasa bergetar halus dan gairahku naik dengan cepat.
Aku bergidik ngeri karena tiba tiba saja aku menyadari tangan
kananku sudah meraba dan meremasi payudaraku sendiri, walaupun dengan
lembut. Aku membelalakkan kedua mataku sambil menatap ke arah pak Sigit.
Duh, untung pak Sigit tak bisa melihat apa yang sedang kulakukan
sekarang ini. Tapi ketika aku berusaha menghentikan kenakalan tanganku,
entah kenapa tanganku yang satunya ini seperti tak mau kalah, dan mulai
meraba bibir vaginaku yang serasa makin berdenyut saja.
Sekuat tenaga aku menahan diriku agar tidak mendesah, apalagi
merintih. Aku benar benar tersiksa karena gairahku makin menjadi, hingga
di dalam hati aku memohon pada kedua tanganku ini untuk menghentikan
kenakalan mereka. Namun keduanya seperti tak mau mendengar, bahkan
seolah malah saling berlomba untuk menggoda tubuhku. Perlahan tapi
pasti, rasa panas mulai menjalari sekujur tubuhku ini.
“Non Eliza, katanya tadi mau minum?” tiba tiba suara pak Sigit
mengejutkanku, membuat kenakalan kedua tanganku ini terhenti.
“Eh… enggak jadi pak,” jawabku dengan tegang, dan tiba tiba saja
aku berubah pikiran. “Rasanya lebih baik sekalian nanti aja, cuma kurang
delapan tuts kan pak?”
“Iya non. Kalau gitu bapak lanjutkan ya?” tanya pak Sigit lagi.
“Iya pak,” jawabku sambil kembali duduk di kursi piano dan menaruh tangan kananku di deretan tuts piano.
Sambil kembali membantu pak Sigit menyetel piano ini, aku membalas
SMS Cie Stefanny tadi. Dengan susah payah aku menuliskan jawabanku di
ponselku ini karena aku harus menekan semua gairahku akibat kenangan
erotis bersama Cie Stefanny yang sempat melayang dalam anganku tadi.
Aku mengiyakan tentang masalah les yang diundur, jadi hari Kamis
nanti aku akan les dua kali, tapi aku tak mengatakan apa apa tentang
rasa penasaranku akan kegilaan yang dilakukan kedua temanku pada Cie
Stefanny. Aku hanya mengatakan kalau aku udah kangen sama Cie Stefannyku
tersayang ini, dan meminta padanya untuk menjaga diri dan nggak terlalu
capek, jadi nggak sampai sakit.
“Tekan… tekan… ya, selesai,” kata pak Sigit mengakhiri servis piano ini.
Hampir bersamaan dengan itu, aku melihat ponselku berkedip. Ternyata ada SMS yang masuk dari Cie Stefanny lagi.
“Sama sama, pak,” jawabku singkat, sambil membuka SMS itu.
‘Thanks ya sayang. Cie Cie juga kangen sama kamu, murid les Cie
Cie yang paling pintar, paling cantik, paling baik, dan paling nakal
:p’
Aku tersenyum sambil menggigit bibirku saat membaca SMS Cie
Stefanny itu. Senang sekali rasanya mendapat semua pujian dari Cie
Stefanny itu, dan kata kata paling nakal dalam SMS itu membuatku
tersenyum geli.
Suara denting peralatan milik pak Sigit membuyarkan lamunanku.
Ternyata pak Sigit sedang menyimpan semua peralatannya yang tadi
digunakan untuk menyetel piano ini ke dalam tas yang kumal itu. Hal itu
menyadarkanku bahwa servis piano ini sudah selesai.
“Non Eliza, silakan dicoba pianonya,” kata pak Sigit yang sudah berdiri sambil membawa tasnya.
Hah? Mencoba piano? Sekarang? Dalam keadaan hanya mengenakan
pakaian dalam seperti ini? Tapi apa alasanku untuk menolak permintaan
pak Sigit ini?
“Eh… tapi pak, saya udah lama nggak main piano,” aku mencoba mengelak.
“Ah, non Eliza jangan merendah,” kata pak Sigit memaksaku. “Dari
cara non menekan tuts piano tadi, bapak yakin kok kalau non ini pandai
main piano.”
“Duh, makasih deh pujiannya pak,” jawabku dengan sedikit senang. “Tapi, apa bapak nggak mau minum dulu?”
Aku masih berusaha mencari kesempatan supaya paling tidak aku bisa
memakai kaos yang ada di dalam tasku itu selagi aku harus mencoba piano.
Rasanya tidak lucu kan kalau aku harus bermain piano dengan penampilan
yang amat sexy seperti ini di hadapan pak Sigit?
“Bapak sih masih belum haus,” jawab pak Sigit. “Tapi non Eliza tadi
kan nggak jadi minum ya? Kalau gitu silakan non minum dulu.”
“Iya pak. Kalau gitu, saya minum sebentar ya,” jawabku cepat dengan rasa lega.
Tepat pada saat itu, aku sempat memperhatikan ponselku yang kembali
berkedip. Maka tanpa menunggu jawaban pak Sigit, aku segera beranjak
menuju ke arah tasku sambil membawa ponselku ini. Ternyata ada SMS dari
Cie Natalia.
‘Eliza, kamu mau nggak ikut Cie Cie karaoke? Daripada kamu
sendirian di rumah, sayang. Kalau kamu mau, Cie Cie bisa jemput kamu
dulu. Servis pianonya udah selesai kan?’
Aku menghela nafas sambil melihat ke arah jam dinding. Rasanya
nggak enak juga kalau aku ikut Cie Natalia pergi. Aku kan nggak kenal
dengan teman teman Cie Natalia? Lagipula, sekarang sudah jam delapan
malam. Kalau mereka baru akan ke karaoke sekarang, lalu jam berapa
mereka baru pulang? Aku tak mau tidur terlalu malam dengan kondisi
tubuhku yang masih didera rasa capek seperti ini.
Memang aku akan sendirian lagi, tapi tentu saja hal itu bukan
merupakan masalah besar bagiku. Maka aku cepat membalas SMS Cie Natalia
ini, memberitahunya kalau servis piano ini mungkin masih agak lama baru
selesai, dan aku sendiri sudah mulai mengantuk, jadi aku nggak usah
dijemput.
Lalu aku meneguk minumanku, dari gelas yang sebagian isinya sempat
tumpah ke baju baletku tadi, hingga membuatku berpenampilan sexy seperti
sekarang ini. Rasa segar melegakan tenggorokanku yang sempat terasa
kering. Sesaat kemudian lagi lagi ponselku berkedip.
‘Duh, sorry ya Eliza, kamu jadi sendirian lagi deh. Ya udah,
nanti kalau kamu udah benar benar mengantuk, kamu tidur aja dulu seperti
kemarin. Thanks ya, kamu udah mau repot bantuin Cie Cie. Besok Cie Cie
traktir kamu apa aja yang kamu mau, sayang.’
Membaca SMS Cie Natalia ini, aku menggigit bibirku dan nafasku
kembali tak beraturan. Aku masih ingat sekali tentang kejadian tadi
malam, dan hal itu membuat jantungku berdegup kencang. Dengan susah
payah aku berjuang menahan deru nafasku, karena aku kuatir kalau pak
Sigit mendengar nafasku yang makin memburu ini, lalu ia jadi bertanya
yang macam macam padaku.
Namun semua kejadian tadi malam itu tetap melayang dalam pikiranku.
Lalu, kalau nanti aku tidur lebih awal seperti kemarin, apakah kejadian
tadi malam itu akan terulang kembali?
Membayangkan semua itu, perlahan tapi pasti aku kembali terbakar
oleh gairahku sendiri. Aku memejamkan mataku, kedua tanganku ini
kusilangkan di depan dadaku. Aku tak perduli dengan traktiran yang
dijanjikan oleh Cie Natalia tadi, karena saat ini aku hanya ingin
dipeluk mesra oleh Cie Natalia.
Tapi sentuhan tanganku pada dadaku ini, membuatku makin tersiksa.
Ketika aku merasakan kulit tanganku bergesekan dengan bra yang masih
menutup kedua payudaraku ini, aku sudah tak tahu apa yang sebaiknya
kulakukan untuk meredam gairahku yang serasa hampir meledak ini.
Di tengah rasa dingin yang cukup menyiksa ini, aku ingin sekali
mendapatkan kehangatan, entah dari Cie Natalia ataupun Cie Yulita yang
mencumbuiku seperti malam tadi. Atau dari Cie Stefanny yang mau membalas
cintaku. Atau dari dua kekasihku itu, Jenny dan Sherly yang begitu
menyayangiku.
Atau mungkin tiga pejantan yang ada di rumahku itu, pak Arifin,
Suwito dan terutama Wawan yang selalu membuat tubuhku menggeliat
keenakan di bawah tindihannya. Atau pak Sigit, yang memelukku dari
belakang sambil meremasi kedua payudaraku ini dengan lembut, saat aku
mencoba piano yang baru diservis olehnya itu.
Eh? Mengapa jadi pak Sigit?
-x-
X
Akibat Dari Air Minum Yang Tumpah
Aku terkejut saat menyadari apa yang sempat kupikirkan tadi tentang
pak Sigit. Perlahan aku membuka mataku, dan aku menemukan pak Sigit
yang saat ini sudah berada di samping piano, dan dengan sabar
menungguku.
Dalam keadaan terbakar gairah seperti ini, aku tak tahu harus
berbuat apa. Aku terus memandang ke arah pak Sigit. Tiba tiba, kedua
kakiku ini bergerak sendiri, melangkah tanpa perintahku, dan aku hanya
pasrah saja ketika kedua kakiku ini mengantar tubuhku yang setengah
telanjang ke hadapan pak Sigit yang masih berdiri diam di samping piano.
“Pak Sigit… saya sudah selesai minum,” aku berkata dengan suara
pelan, dan aku terkejut sendiri menyadari kenekatanku sekarang ini.
“Nah, kalau non Eliza tidak keberatan, coba non mainkan satu atau dua lagu,” kata pak Sigit.
“Mm… saya coba mainkan satu lagu aja ya pak,” kataku menawar.
“Nggak apa apa, terserah non mau main berapa lagu. Mari, bapak ingin dengar,” kata pak Sigit.
Dengan sedikit ragu, aku duduk di kursi piano. Setelah sempat
memikirkan beberapa lagu, akhirnya aku memutuskan untuk memainkan sebuah
instrumen lagu yang dulu sering kumainkan ketika aku masih ikut les
piano, yaitu lagu “Ave Maria”, yang digubah oleh Bach dan Gounod, dan
dipopulerkan oleh seorang pemain piano ternama, Richard Clayderman.
Entah apa aku memainkan lagu ini dengan baik, karena aku merasa tak
bisa berkonsentrasi penuh selama jemariku menari di atas tuts piano.
Selain aku terganggu oleh rasa dingin, pak Sigit yang mondar mandir di
belakangku itu membuatku kembali teringat dengan anganku tadi.
Dan saat ini, ia kan sudah berdiri di belakangku. Lalu, apa yang ia
tunggu? Mengapa ia tak segera memeluk tubuhku yang sesekali menggigil
kedinginan ini, dan kapan ia akan meremasi kedua payudaraku dengan
lembut? Apa ia sama sekali tak tergoda dengan penampilanku saat ini yang
begitu sexy? Apa nanti ia tak akan menyesali pilihannya untuk
melewatkan rejeki yang ada di hadapannya ini begitu saja?
Aku menggigit bibirku, dan sesekali aku menoleh ke arah pak Sigit
dengan tatapan memohon. Namun aku sadar bahwa ia tak akan memenuhi
harapanku, karena ia memang tak bisa melihat semua ini. Maka dengan
sebersit rasa kecewa, aku memilih berkonsentrasi dengan permainan
pianoku, membiarkan pak Sigit menikmati alunan musik yang kumainkan ini.
Ternyata suara piano ini memang sudah tidak aneh dan sumbang
seperti tadi. Bahkan dentingannya terdengar jernih. Akhirnya aku selesai
memainkan instrumen lagu ini. Ada sedikit rasa bangga yang menyusup
dalam hatiku karena aku merasa masih bisa bermain piano dengan baik,
padahal aku sudah berhenti les piano sejak lulus SMP dahulu.
“Benar kan seperti yang saya katakan, non Eliza memang pandai
bermain piano,” kata pak Sigit yang sudah berada di samping kananku ini
dengan suara pelan.
“Makasih pak,” aku kembali merasa senang mendapat pujian pak Sigit.
Setelah itu kami berdua diam beberapa saat, sebelum aku teringat
untuk kembali menawarkan minuman, sekalian membayarkan ongkos servis
piano yang sudah dititipkan oleh Cie Natalia tadi.
“Oh iya, mari pak, silakan minum dulu,” kataku pada pak Sigit. “Saya ambilkan ya pak?”
“Iya non, terima kasih,” jawab pak Sigit
Aku segera berdiri dan melangkah ke arah meja tadi. Gelas yang isi
minumannya masih utuh itu kuambil untuk kuberikan pada pak Sigit. Saat
itu aku kembali sadar dengan keadaanku. Entah kekacauan seperti apa yang
akan terjadi, kalau misalkan pak Sigit ini tidak buta, dan melihatku
yang dalam keadaan nyaris telanjang ini dengan santainya menawarkan
minuman padanya.
“Aduh,” aku nyaris menjerit karena terkejut setengah mati. “Maaf pak Sigit… saya nggak sengaja.”
Entah apa yang tadi sedang kulihat, tiba tiba gelas yang kubawa ini
membentur dada pak Sigit, hingga air minuman itu membasahi bajunya,
bahkan sampai ke celananya. Untung aku memegang gelas dengan cukup kuat
hingga gelas itu tidak sampai terjatuh dan pecah. Tapi aku kesal sekali,
kenapa aku hari ini begitu ceroboh? Masa dalam satu jam ini saja aku
sudah menumpahkan air minum untuk kedua kalinya?
“Nggak apa apa non. Non sendiri gimana?” tanya pak Sigit.
“Saya… saya nggak apa apa,” jawabku dengan sedikit tergagap. “Maaf
pak, saya nggak sengaja. Saya bantu keringkan sedikit ya pak.”
“Oh, nggak usah non, nggak apa apa. Cuma gini aja kok,” kata pak Sigit.
“Tapi bajunya pak Sigit jadi basah gini,” kataku dengan rasa
bersalah, dan tanpa memperdulikan pak Sigit, aku mulai menyeka bagian
yang basah dari bajunya itu.
“Aduh, jadi ngerepotkan non Eliza,” kata pak Sigit. “Terima kasih ya non yang baik.”
Aku tersenyum mendengar kata kata pak Sigit. Ia selalu memujiku,
membuatku merasa sedikit malu bercampur senang. Aku terus menyeka
bajunya pak Sigit ini, setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk
meringankan rasa bersalahku.
“Sudah non Eliza,” kata pak Sigit dan ia memegang kedua pergelangan
tanganku yang sibuk menyeka bajunya yang masih basah itu. “Bapak jadi
nggak enak.”
“Tapi pak…” aku masih mencoba menyeka baju pak Sigit, namun aku
sedikit terkesiap merasakan kuatnya cengkeraman tangan pak Sigit pada
kedua pergelangan tanganku ini.
“Sudah, terima kasih non Eliza,” kata pak Sigit. “Aduh, tangan non
ini, halusnya. Eh… maaf non… bapak sampai lancang pegang tangan non…
maaf ya non.”
Saat itu juga pak Sigit melepaskan pegangannya pada kedua
pergelangan tanganku. Ia terlihat tegang dan kikuk. Aku tersenyum kecil,
ada sebersit rasa senang juga dalam hatiku mendengar pujian pak Sigit
tentang halusnya tanganku ini.
“Nggak apa apa deh pak. Masa pegang tangan gitu aja udah lancang?”
kataku sambil kembali menyeka baju pak Sigit. “Saya bantu keringkan
sedikit lagi ya.”
Sekali ini pak Sigit hanya diam saja, tidak menolak lagi. Aku terus
menyeka sampai aku merasa baju itu sudah tidak sebasah tadi. Namun aku
melihat celana pak Sigit itu juga basah. Maka aku berjongkok dan mulai
menyeka bagian yang basah dari celana itu.
Beberapa saat kemudian, aku merasa melihat di bagian tengah celana
itu seperti ada yang bergerak dan mendesak dari dalam. Wajahku terasa
panas, karena aku tahu apa yang sedang terjadi. Aku tahu apa yang
bergerak di dalam situ.
Reflek aku membuang muka, mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
Tapi kemudian aku sadar bahwa aku tak perlu melakukan hal itu, karena
toh pak Sigit tak tahu apa yang baru saja kulihat ini.
Maka aku mencoba untuk bersikap biasa saja. Namun aku jadi ingin
tahu, mengapa tiba tiba penis pak Sigit itu meronta bangun? Sesaat
kemudian, kerasnya cengkeraman pak Sigit pada kedua pergelangan tanganku
tadi malah terbayang dalam pikiranku. Dan, ia mengaku telah lancang
memegang tanganku.
Aku menggigit bibirku sambil tersenyum kecil. Pak Sigit, ternyata
sebenarnya ia menginginkanku. Tapi ia tak berani berkata ataupun berbuat
yang macam macam padaku.
Rasanya aneh juga. Maksudku, kalau dibandingkan dengan semua
pejantan yang pernah menikmati tubuhku. Yang kualami selama ini, setiap
ada pejantan yang menginginkan tubuhku, mereka tidak akan sungkan untuk
langsung menerkam diriku, menggagahiku, bahkan memperkosaku.
Dan entah dari mana datangnya, tiba tiba sebuah ide yang sangat nakal tercetus dalam benakku.
“Pak Sigit, saya bantuin keringkan celana dalamnya bapak ya,” kataku pelan.
Tanpa menunggu jawaban, aku mulai membuka kepala sabuk yang
melingkar di celana pak Sigit, lalu aku membuka kancing dan resleting
celana pak Sigit. Perlahan tapi pasti, aku mulai diamuk gairahku,
mungkin karena baru pertama kali ini aku menelanjangi seorang pria
dengan maksud untuk menggodanya.
Tapi aku berusaha untuk tetap tenang. Setelah semuanya terbuka, aku
menurunkan celana panjang pak Sigit. Dan tidak ada yang menarik bagiku
dari celana dalam pak Sigit yang masih terpasang di selangkangannya itu,
selain tonjolan yang cukup besar pada bagian depannya.
Sambil menggigit bibirku, aku meneruskan kenakalanku ini.
“Oh…” kudengar pak Sigit merintih perlahan ketika aku menyeka tonjolan di celana dalamnya itu dengan tissue.
“Aduh, maaf ya pak. Sakit ya?” tanyaku pura pura kuatir.
“Eh… enggak non… anu…” pak Sigit hanya mengguman tak jelas.
Aku menahan tawa melihat reaksi pak Sigit. Saat ini, penis pak
Sigit itu pasti sudah ereksi sejadi jadinya, karena aku merasa tonjolan
itu bahkan sedikit lebih besar dibandingkan dengan tadi saat aku baru
membuka celana panjangnya.
Namun tiba tiba aku jadi sedikit penasaran. Memangnya, sebesar apa ya penisnya pak Sigit itu?
“Pak Sigit, yang di dalam sini ini juga basah ya?” tanyaku sambil
membelai tonjolan pada celana dalam pak Sigit itu dengan lembut. “Mmm…
kalau gitu, saya bantu keringkan dulu ya pak?”
“Eh… non… i… e…” pak Sigit hanya gelagapan tanpa menjawab.
Entah pak Sigit hendak berkata apa , tapi aku tak perduli. Seperti
tadi, tanpa menunggu jawaban pak Sigit, aku mulai melucuti celana
dalamnya itu. Aku mengaitkan kedua jari telunjukku di ujung kiri dan
kanan, lalu celana dalam itu kutarik ke bawah dengan perlahan, hingga
benda nakal yang sejak tadi terus bergerak dan membuatku penasaran itu
mulai terlihat olehku.
Aku terus melucuti celana dalam pak Sigit, hingga kini celana dalam
dan celana panjang pak Sigit itu tergeletak di lantai, melingkar di
kedua pergelangan kaki pak Sigit.
Ternyata penis itu besar juga. Mungkin bahkan lebih besar sedikit
dari punya Wawan. Melihat penis pak Sigit yang teracung ke arah wajahku
ini, nafasku kembali memburu. Aku merasa penis itu seperti mengancamku,
memaksaku untuk memberikan servis oralku, atau ia akan mengaduk aduk
liang vaginaku hingga aku menggeliat dan melenguh keenakan.
Namun ancaman penis itu sama sekali tak terdengar menakutkan
buatku. Sekarang ini aku malah ingin menggoda pemiliknya. Sesuai
“janjiku” tadi, aku mengambil tissue dan menyeka rambut kemaluan pak
Sigit yang ternyata juga sedikit basah. Setelah bagian itu kurasa sudah
cukup kering, barulah aku memberikan perhatianku pada penis yang sempat
kucuekin itu.
Bagian pertama yang kuseka dari penis itu adalah kepalanya. Saat
itu aku baru menyadari, ternyata penis itu benar benar tegang. Aku
mencoba menekan penis itu ke bawah sedikit, tapi penis itu langsung
kembali mengacung ke posisi semula saat aku melepaskan tanganku, diikuti
suara keluhan pak Sigit yang membuat aku mendongakkan kepala.
Melihat keadaan pak Sigit, aku kembali merasa geli hingga aku harus
menahan tawaku. Bagaimana tidak, baru kali ini aku melihat ada pejantan
yang kelihatan gelisah dan tegang ketika aku sibuk dengan senjata
andalannya.
“Pak, ini kok jadi besar gini sih?” tanyaku sambil terus menyeka ujung kepala penis itu dengan tissue.
“Uh… anu non… itu…” pak Sigit tak menjawab dengan jelas.
Aku kembali memandang penis itu. Ukuran penis itu memang besar,
tapi apakah juga keras seperti punya Wawan? Dengan perlahan namun penuh
rasa ingin tahu, aku menggenggamkan tanganku pada batang penis itu.
Denyutan urat urat penis yang kurasakan itu membuat jantungku
berdegup semakin kecang, apalagi ketika aku merasa penis pak Sigit itu
makin mengeras saja. Dan saat ini, kerasnya batang penis itu rasanya
hampir sekeras milik Wawan. Entah bagaimana rasanya kalau liang vaginaku
yang mungil ini diaduk aduk oleh penis pak Sigit itu, pasti rasanya
enak sekali.
Tapi, bagaimana caranya supaya hal itu terjadi? Masa aku yang
meminta minta pada pak Sigit untuk menggagahiku, seperti yang tadi
dilakukan oleh Vera terhadap pak Bakir? Rasanya aku belum setega itu
untuk menghancurkan harga diriku sampai tak bersisa di hadapan pak
Sigit.
“Aah…” pak Sigit kembali mengerang.
Aku memejamkan mataku, dan itulah kesalahanku. Semua bayangan
tentang penis itu malah tergambar dengan jelas di hadapanku, membuatku
makin tenggelam dalam gairah. Dan ketika aku membuka kedua mataku, aku
tak mau melepaskan pandanganku dari penis itu. Aku… aku menginginkan
penis itu!
“Pak Sigit, burung ini boleh saya bersihkan nggak?” tanyaku sambil membelai penis pak Sigit.
“Boleh non!” seru pak Sigit cepat. “Boleh… boleh…”
Ih, semangat sekali menjawabnya?! Ingin rasanya aku menggoda pak
Sigit tentang hal itu, tapi aku merasa kasihan kalau ia sampai merasa
malu dan suasana erotis ini jadi rusak.
Maka tanpa berkata apa apa lagi, aku mulai membelai penis itu
beberapa kali, lalu kuseka dengan tissue yang masih baru. Berikutnya,
dengan sedikit menahan malu, aku memberanikan diriku untuk memajukan
wajahku dan mendekatkan bibirku pada kepala penis pak Sigit itu.
Hmm… bau sirup ^^
Aku sempat mendongak untuk menatap pak Sigit. Kepalanya bergerak
gelisah dan raut wajahnya itu terlihat menunggu dengan penuh harap. Aku
tak tega membuat pak Sigit menunggu lebih lama lagi, perlahan aku
membuka bibirku sedikit, lalu aku mengecup kepala penis itu.
“Oh… oooh…” erang pak Sigit.
Aku memejamkan mataku, dan dari sekedar mengecup, kini aku mulai
mencucup kepala penis itu, sementara pemiliknya makin sibuk mengerang
dan merintih. Lalu aku menggunakan lidahku untuk memanjakan penis pak
Sigit. Ujung lidahku yang sudah menyentuh kepala penis pak Sigit itu
kugerakkan memutar dengan perlahan, kusapukan ke seluruh bagian kepala
penis itu sampai beberapa kali.
“Ohh… oooooh…” pak Sigit mengerang semakin panjang sambil membelai rambutku. “Makasih non… makasih banyaak… oooh…”
Mendengar ucapan terima kasih di antara erangan dan rintihan pak
Sigit, sebenarnya aku jadi merasa malu sekali. Tak pernah terbayang
olehku, bagaimana seorang gadis terpelajar seperti diriku, dengan tak
tahu malu memberikan servis oral kepada seorang pria tua yang bahkan
baru kukenal satu dua jam yang lalu ini, yang kulakukan begitu saja,
tanpa diminta ataupun dipaksa olehnya.
Ada sedikit rasa menyesal saat aku menyadari bahwa aku telah
mempermalukan diriku sendiri seperti sekarang ini. Tapi semua sudah
terlanjur, nasi sudah menjadi bubur. Maka tanpa menjawab apa apa, aku
malah memajukan kepalaku, hingga sedikit demi sedikit batang penis itu
makin tertelan dalam mulutku.
“Oooh… aduh… enaknya non…” kini penikmat servis oralku ini mulai meracau.
Aku memilih untuk tak perduli dengan segala reaksi pak Sigit.
Bahkan aku mulai menghisap batang penis itu beberapa kali, lalu aku
memaju mundurkan kepalaku, mulai dari dengan gerakan yang perlahan
sampai dengan sedikit cepat seperti ini, hingga penis itu mengaduk
rongga mulutku. Sesekali aku menghentikan gerakan kepalaku ini,
memberikan kesempatan pada penis itu untuk merasakan nikmatnya kuluman
mulutku.
Setelah beberapa saat, dengan perlahan aku menarik kepalaku ke
belakang sampai penis yang terbenam dalam mulutku ini tinggal
setengahnya, dan bagian yang masih berada dalam mulutku ini kembali
kumanjakan dengan lidahku.
Ketika mulutku terasa penuh oleh air ludahku sendiri yang tercampur
dengan sisa sirup tadi, dan mungkin juga tercampur dengan sedikit getah
penis pak Sigit, aku menelan semua cairan itu karena aku tak ingin
sampai tersedak. Setelah itu aku kembali menarik kepalaku ke belakang,
dan kini tinggal kepala penis itu saja yang masih terbenam dalam
mulutku.
Aku sempat memberikan beberapa hisapan dan cucupan pada kepala
penis itu, lalu aku mengatupkan bibirku dengan rapat. Dengan perlahan
aku menggerakkan tubuhku ke belakang, hingga penis yang masih terjepit
oleh bibirku itu sedikit demi sedikit terlepas seluruhnya dari
kulumanku.
Sebuah keluhan yang penuh dengan rasa kecewa pun terdengar. Aku
membuka kedua mataku sambil mengatur nafasku yang sedikit tersengal ini.
Ketika aku menatap pak Sigit, aku merasa ia terlihat seperti orang yang
sedang kehilangan sesuatu. Tapi aku meneruskan niatku untuk sedikit
jual mahal.
“Pak Sigit, burungnya udah bersih,” kataku pelan. “Saya bantuin pakai celananya ya pak?”
“Non Eliza yang baik… bapak boleh minta tolong nggak?” tanya pak Sigit dengan suara bergetar.
Suara itu, kini aku merasakan suara pak Sigit diwarnai nafsu yang
menggelegak, hingga jantungku berdebar kencang karena aku sudah tahu
“pertolongan” seperti apa yang diinginkan oleh pak Sigit dariku.
“Minta tolong apa pak?” aku bertanya balik dengan suara pelan.
“Tolong non… kasihan burungnya bapak,” kata pak Sigit, masih dengan suara bergetar seperti tadi.
“Mmm… gimana cara nolongin burung yang kasihan itu pak?” tanyaku nakal walaupun wajahku jadi terasa panas.
“Cara… non… bapak ingin… main sama non,” pak Sigit menjawab terbata bata.
Wajahku jadi terasa semakin panas. Tentu saja aku tahu dengan jelas apa maksud kata “main” dari dikatakan pak Sigit itu.
“Main? Pak Sigit mau main apa?” tanyaku pura pura tak mengerti.
“Tapi ini kan udah malam pak, lain kali aja yah? Saya udah capek, ini
juga baru pulang dari les balet…”
“Oh, non Eliza capek ya? Mau nggak non bapak pijitin?” tanya pak Sigit dengan cepat.
“Aduh, makasih pak, nggak usah repot repot deh,” aku menolak dengan
ragu. “Saya cuma capek biasa kok. Abis istirahat dan tidur, besok juga
hilang capeknya.”
“Tapi non, bapak juga bisa mijit badan untuk hilangkan capek dan
pegal. Kalau non mau, bapak pijitin dulu non. Nanti sebelum non tidur,
capeknya pasti sudah hilang. Mau ya non?” pak Sigit menawarkan dengan
nada penuh harap.
-x-
XI
Blind Date Yang Panas
Aku diam dan memikirkan tawaran pak Sigit itu. Sepertinya aku
tertarik juga untuk merasakan servis pijatan pak Sigit, yang katanya
bisa menghilangkan capek dan pegal pada tubuhku. Sekarang ini Cie
Natalia dan teman temannya itu mungkin baru sampai ke tempat karaoke,
dan paling sedikit mereka akan berkaraoke selama satu jam.
Jadi, mungkin masih aman untuk menikmati pijatan pak Sigit sampai satu jam ke depan.
“Gimana non?” pak Sigit menginginkan jawabanku.
“Mmm… berapa tarif satu jamnya pak?” aku bertanya balik.
“Nggak usah non. Bapak cuma kepingin itu… Mau ya non?” tanya pak
Sigit dengan suara memelas hingga aku merasa tak tega untuk
mempermainkannya lebih lama lagi.
“Iya deh pak… aww…” aku hampir menjerit kaget karena pak Sigit
langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya, dan saat itu juga ia
memajukan mukanya untuk mencari bibirku.
Kejadian itu berlangsung terlalu cepat, hingga aku jadi sedikit panik dan tak tahu apakah aku harus mengelak atau pasrah.
“Mmmhh…” aku merintih tertahan ketika bibirku sudah terpagut.
Dalam hati aku mengeluh. Gawat deh, sepertinya tinggal tunggu waktu
saja sebelum pak Sigit mengetahui keadaanku, tentang tubuhku yang hanya
mengenakan bra, celana dalam dan stocking saja seperti ini.
Pagutan pada bibirku ini hanya berlangsung sebentar, karena sesaat
kemudian pak Sigit sudah mencumbui sekujur wajahku. Sementara itu aku
merasa pelukan kedua tangan pak Sigit pada pinggangku ini semakin erat,
seolah ia takut aku akan mencoba melarikan diri darinya.
“Mmmhh… pak… katanya mau mijitin Eliza??” aku memprotes di tengah rintihanku.
“Maaf non… bapak sudah kepingin sekali…” bisik pak Sigit di telinga
kananku yang memang kebetulan sedang menjadi korban cumbuannya.
“Ooh…” sesaat kemudian aku mengeluh pasrah karena seluruh daun telinga kananku sudah berada dalam kuluman mulut pak Sigit.
Pandangan mataku mulai meredup seiring dengan makin memburunya
nafasku. Saat ini aku sudah menyerah pada nikmatnya sensasi yang
kurasakan dari cumbuan pak Sigit. Getaran halus menjalari sekujur
leherku. Kedua tanganku tergantung lemas, tenagaku lenyap entah ke mana.
Sesaat kemudian pak Sigit mengendurkan pelukannya pada pinggangku, hingga aku merasa sedikit lebih lega sewaktu bernafas.
“Hmm… rambutnya non Eliza ini… harumnya…” desah pak Sigit sambil menciumi rambutku.
Aku diam saja membiarkan pak Sigit yang malah asyik dengan
rambutku. Kedua tangan pak Sigit itu membelai seluruh rambutku, dan
setelah beberapa saat, aku merasakan ikat rambutku dipegang pegang
dengan beberapa ujung jarinya.
“Non… bapak lepas ikat rambutnya ya?” tanya pak Sigit.
“Kenapa pak?” aku bertanya heran.
“Bapak suka sekali sama rambutnya non Eliza. Sudah halus, lembut,
harum lagi. Bapak jadi ingin merasakan dan membayangkan gimana indahnya
rambut non pas lagi digerai,” pak Sigit menjelaskan alasannya dengan
panjang lebar. “Boleh ya non?”
“Iya deh,” kataku sambil tersenyum senang. “Pak Sigit yang mau ngelepasin, atau saya aja?”
“Non aja ya? Kalau bapak, takutnya nanti non kerasa sakit kalau sampai ada rambut non yang ikut ketarik,” jawab pak Sigit.
Aku mengangkat kedua tanganku ini ke belakang kepalaku, dan selagi
aku mulai melepas ikat rambutku, tiba tiba kedua tangan pak Sigit yang
melingkar di pinggangku ini merayap naik dengan perlahan ke atas
punggungku, sampai akhirnya kedua tangan itu menemukan tali bra yang
melingkar di sana.
“Non Eliza… non nggak pakai baju?” tanya pak Sigit dengan nafas yang memburu.
“Iya pak,” jawabku pelan, sementara jantungku berdegup kencang.
“Kenapa non?” tanya pak Sigit lagi, sedang kedua tangannya itu
mengikuti lingkar tali bra yang kukenakan ini, merayap ke arah dadaku.
Mendengar pertanyaan pak Sigit itu, wajahku jadi terasa panas, dan
aku hanya bisa mendesah sambil menggeliat pelan ketika kedua payudaraku
yang akhirnya ditemukan oleh tangan pak Sigit ini mulai mendapat remasan
lembut.
“Tadi baju Eliza kan ketumpahan sirup, emmh…” aku menjawab tersendat di antara rintihanku. “Terus jadi basah, dan dingin…”
“Terus?” desak pak Sigit.
“Terus Eliza lepas aja sekalian, aaw…” aku merintih sambil
menggeliat kesakitan ketika pak Sigit tiba tiba meremas kedua payudaraku
dengan cukup keras.
“Ada apa non?” tanya pak Sigit sambil tersenyum lebar.
“Pak Sigit jahat,” aku mengomel manja.
“Maaf ya non. Gimana nggak gemas, bapak sudah dari tadi merasa
aneh, soalnya waktu terakhir bapak ada di deket non, bukan cuma bau
sirup saja sudah berkurang banyak, tapi bapak juga nggak mencium
harumnya bau baju non Eliza tadi,” kata pak Sigit.
“Gemas sih gemas… tapi jangan keras keras dong, sakit pak,” aku
kembali mengomel walaupun dengan suara pelan karena aku merasa malu
sekali.
Pak Sigit tertawa mendengar omelanku ini, dan ia membelai payudaraku dengan lembut.
“Sejak tadi bapak sebenarnya sudah pingin tahu,” sambung pak Sigit. “Apa benar non Eliza berani buka baju di depan bapak?”
Wajahku terasa panas, dan aku tak berani berkata apa apa.
Pak Sigit terus membelai payudaraku dengan lembut. Saat ini aku
merasa begitu sexy, dengan adanya tangan pak Sigit yang terus menikmati
empuknya kedua payudaraku yang masih tertutup bra ini selagi kedua
tanganku masih sibuk melepaskan ikat rambutku.
Sesaat kemudian rambut panjangku ini jatuh tergerai ke belakang
punggungku. Tapi pak Sigit masih saja asyik meremasi kedua payudaraku,
bahkan kini aku merasa remasan demi remasan yang kuterima ini dilakukan
olehnya dengan penuh nafsu.
Apakah pak Sigit memang lebih suka bermain dengan kedua payudaraku
ini daripada dengan rambutku, atau ia tak tahu kalau aku sudah
melepaskan ikat rambutku sesuai dengan permintaanya tadi?
Maka aku memutuskan untuk memberitahu pak Sigit tentang rambutku
ini dengan cara yang kurasa cukup menggoda. Kedua tanganku ini
kulingkarkan di belakang lehernya, lalu aku sedikit menundukkan kepalaku
hingga sebagian rambutku jatuh tergerai di depan dadaku dan membelai
tangan pak Sigit.
Tapi pak Sigit tak bereaksi seperti yang kuharapkan, ia masih saja asyik memainkan kedua payudaraku ini.
“Pak… ikat rambut yang tadi itu udah Eliza lepas,” kataku pelan.
“Hmm…” pak Sigit hanya mengguman.
Walaupun begitu, tangan kanannya pak Sigit yang tadinya asyik
meremasi payudara kiriku ini segera beralih melingkar ke belakang
pinggangku. Ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya, lalu selagi tangan
kirinya tetap mememasi payudara kananku, tangan kanannya yang mendekap
tubuhku itu mulai membelai rambutku yang sudah tergerai ini dengan
lembut. Aku hanya menggeliat pasrah membiarkan tubuhku dijarah pak
Sigit, dan dengan perlahan aku menyandarkan kepalaku di pundak kirinya.
“Rambutnya non Eliza ini benar benar halus,” puji pak Sigit. “Bapak yakin, non Eliza ini pasti anak perempuan yang cantik.”
“Ah pak Sigit ini… dari tadi muji Eliza terus deh,” kataku dengan rasa senang yang sepertinya tak bisa kututupi.
Rasanya kami ini seperti sedang berkencan saja, bahkan seperti
sebuah hot blind date saja alias kencan buta yang panas. Aku seperti
datang menemui orang yang sama sekali tak pernah kukenal, sedangkan
sampai sekarang pak Sigit bahkan tak tahu aku ini berwujud seperti apa.
Dan, siapapun pasti tahu, bahwa dalam keadaan seperti ini, kencan ini
pasti akan berlanjut ke hubungan seks.
Mendengar omelanku tadi, pak Sigit hanya tertawa, lalu kedua
tangannya yang tadinya sibuk sendiri sendiri itu, dengan kompaknya sama
sama merayap turun sampai ke samping pinggangku, lalu merayap lagi ke
belakang, meraba bongkahan sepasang pantatku yang masih terbungkus
celana dalam dan stockingku ini.
“Non… rasanya, celana yang non pakai ini ketat sekali ya?” tanya
pak Sigit dengan heran. “Bahannya juga tipis dan halus sekali, seperti…
stocking! Apa non hanya pakai stocking?”
“Iya pak, ini memang stocking…” jawabku dengan sedikit malu. “Tapi… Eliza masih pakai celana dalam kok.”
“Oh Tuhan… kalau saja bapak masih bisa melihat…” keluh pak Sigit
selagi kedua tangannya itu mulai meraba raba kedua pahaku. “Apa warnanya
stocking ini?”
“Warna kulit pak… jadi nggak terlalu kentara kalau Eliza lagi pakai
stocking… ssshh…” jawabanku terhenti karena aku harus merintih akibat
ulah pak Sigit yang tetap sibuk dengan kedua pahaku.
Pak Sigit tak berkata apa apa lagi, tiba tiba ia sudah merayapkan
tangannya ke bagian atas tubuhku, kembali ke belakang punggungku. Sesaat
kemudian aku merasakan pak Sigit mencoba membuka kaitan tali bra yang
kukenakan ini. Jantungku berdebar kencang menyadari diriku akan
ditelanjangi oleh pak Sigit, namun walau sudah berusaha cukup lama,
ternyata ia tak segera berhasil melepaskan kaitan itu, hingga aku
tersenyum geli.
“Pak, Eliza bukain deh,” kataku pelan.
“Sambil ciuman sama bapak ya non,” kata pak Sigit yang lalu segera
merayapkan tangannya ke atas mencari kedua pipiku, lalu ia mengarahkan
kepalaku hingga wajah kami saling berhadapan, dan aku belum sempat
menjawab ketika pak Sigit sudah memagut bibirku dengan ganas.
“Mmmh…” aku merintih tertahan sambil memejamkan mataku.
Dalam keadaan terbakar gairah, aku membalas pagutan pak Sigit yang
sudah kembali memeluk pinggangku. Selagi kami saling berpagut, aku tak
lupa untuk melepaskan kaitan tali bra di belakang punggungku ini, dan
aku sengaja menyentuhkan bra ini ke tangan pak Sigit dengan perlahan
sebelum kujatuhkan ke lantai.
Hasilnya, pak Sigit langsung menarik tubuhku dan mendekap erat,
sementara pagutannya pada bibirku ini jadi semakin ganas. Lidah pak
Sigit melesak masuk ke dalam mulutku, mengait dan membelit lidahku, lalu
lidah itu tega meninggalkan lidahku sendirian begitu saja. Tanpa bisa
kutahan, lidahku sudah terjulur untuk mencari kehangatan di dalam mulut
pak Sigit
Tapi akibatnya lidahku malah tertangkap di dalam sana. Pak Sigit
mencucup dan menyedot lidahku kuat kuat tanpa belas kasihan. Bahkan aku
merasa cukup banyak air ludahku terseruput oleh pak Sigit hingga aku
sedikit gelagapan.
Diperlakukan seperti itu, beberapa saat kemudian nafasku mulai
sesak. Aku tak bisa mendorong dada pak Sigit, karena tubuh kami melekat
seperti ini. Maka aku berusaha menekan nekan kedua lengan pak Sigit,
sebelum akhirnya ia sadar dan melepaskan pagutannya pada bibirku.
Aku sampai terbatuk batuk karena kehabisan nafas, dan selagi aku
berusaha mengatur nafasku yang tersengal sengal ini, aku kembali
menyandarkan kepalaku pada pundak kiri pak Sigit.
“Non… bapak lepasin stockingnya ya?” desah pak Sigit sambil menghirupi rambutku.
“Mmm…” aku mengguman pelan sambil menganggukkan kepalaku.
Pak Sigit melepaskan tubuhku dari pelukannya, lalu berjongkok dan
mulai mencoba menarik turun stockingku ini. Sebenarnya aku sedikit takut
kalau pak Sigit akan merobek stockingku, tapi karena hal itu ternyata
dilakukannya dengan perlahan dan hati hati, aku diam saja walaupun
jantungku terus berdebar kencang menyadari aku akan segera telanjang
bulat di hadapan pak Sigit.
Beberapa saat kemudian, hanya celana dalamku saja yang masih
melekat pada tubuhku. Dan pak Sigit sudah mulai meraba raba seluruh
bagian celana dalamku ini, seolah ia sedang berusaha menggambarkan
tentang bentuk celana dalam yang kukenakan ini.
Tapi akibatnya aku harus menggigit bibir, karena semua rabaan itu
membuat gairahku terasa makin menyiksa. Apalagi ketika jari jari tangan
pak Sigit itu mulai menari nari pada bagian depan celana dalamku.
Getaran halus menjalari seluruh tubuhku, dan aku merasakan denyutan yang
nikmat di dalam liang vaginaku ini. Kedua pahaku kurapatkan hingga jari
tangan pak Sigit terjepit di antara pahaku.
“Pak Sigit…” aku merengek ketika aku udah tak tahan dengan siksaan ini.
“Iya non?” tanya pak Sigit dengan lagak pilon.
“Nggh…” aku melenguh tanpa menjawab karena pak Sigit justru menekan
nekan, menggoda bibir vaginaku yang berada di balik celana dalamku ini.
“Kenapa non?” pak Sigit mengulangi pertanyaannya.
“Ngg… nggak apa apa kok,” jawabku dengan mendongkol, namun nafasku makin memburu dan pandangan mataku jadi semakin redup.
“Kalau gitu, ini bapak buka aja ya non?” tanya pak Sigit sambil menarik narik celana dalamku.
“Mmm…” aku malas menjawab, karena toh apapun yang jadi jawabanku, hasilnya akan sama saja.
Sesaat kemudian pak Sigit segera melucuti satu satunya pakaian
dalam yang masih melekat pada tubuhku ini. Kini aku sudah telanjang
bulat, dan tiba tiba pak Sigit menubrukku dan membaringkan tubuhku ke
lantai.
“Pak, sebentar dong,” aku memprotes. “Masa bapak tega biarin Eliza
tidur di lantai yang dingin gini? Nanti Eliza kan sakit?”
“Jadi gimana non?” tanya pak Sigit yang kelihatan sudah tak sabar lagi.
“Ya di situ aja,” kataku sambil menunjuk sofa itu. “Di sofa kan masih lebih baik.”
“Waduh, non Eliza lupa ya? Bapak kan nggak bisa lihat?” pak Sigit balik memprotes.
“Eh iya. Maap, lupa,” kataku dengan sedikit merasa bersalah. “Ya
udah, abis ini Eliza anterin pak Sigit ke sana. Tapi tolong bantuin
Eliza bangun dong?”
“Beres non,” kata pak Sigit sambil mengulurkan tangannya, dan
begitu aku menyambut tangan itu, ia segera menarikku hingga aku berdiri
di hadapannya.
Lalu dengan masih berpegangan tangan, aku melangkah mundur dan
membimbing pak Sigit menuju ke sofa. Tiba tiba aku teringat baju pak
Sigit yang tadi ketumpahan air minum. Tentu baju itu masih sedikit
basah.
“Pak, bajunya nggak dilepas saja?” tanyaku setelah kami sudah sampai di depan sofa.
“Oh iya non… iya iya,” kata pak Sigit.
Selagi pak Sigit buru buru melepas kemeja batiknya, aku duduk di
sofa itu dan berbaring telentang, menyajikan tubuhku yang sudah
telanjang bulat ini pada pak Sigit.
-x-
XII
Sengsara (Menjadi Budak Seks) Membawa Nikmat
Tanpa menunggu lama, pak Sigit yang kini juga telanjang bulat itu
naik ke sofa untuk mencari tubuhku. Begitu menemukanku, Pak Sigit
langsung menyerbu dan menindihku. Aku hanya bisa merintih manja selagi
cumbuan pak Sigit menghujani wajahku, sementara sepasang payudaraku yang
malang ini kembali menjadi sasaran remasan kedua tangannya itu.
Setelah menggumuliku sebentar, pak Sigit meraih pergelangan kaki
kananku, lalu ia menaikkan kaki kananku ini ke sandaran sofa. Berikutnya
pak Sigit memajukan badannya sambil menaruh kaki kiriku di samping
pinggangnya, hingga bibir vaginaku kini sudah berhadapan dengan kepala
penis pak Sigit.
Aku menggigit bibir saat pak Sigit dengan nafsu yang berkobar mulai
menggesek gesekkan ujung senjatanya itu pada bibir vaginaku.
“Non… kok udah basah kayak gini?” guman pak Sigit.
“Mmm… nggak tau deh…” jawabku dengan wajah yang terasa panas, dan
aku malu sekali karena aku merasa seperti diingatkan bahwa sejak dari
sekolah les balet tadi, aku terus menerus terbakar gairah.
“Bapak masukin sekarang ya?” tanya pak Sigit lagi.
Belum juga aku menjawab, aku merasakan kepala penis itu mulai
membelah bibir vaginaku yang tadinya masih terkatup rapat. Jantungku
berdegup semakin kencang. Aku merasakan kedua pahaku dan otot perutku di
bagian bawah ini sampai sedikit mengejang saat batang penis berukuran
raksasa itu mulai memaksa untuk mengisi liang vaginaku.
“Aaw… ngghh…” aku merintih dan melenguh nikmat.
“Aduuh… seretnya nooon…” pak Sigit meracau tak karuan saat penisnya sudah tenggelam dalam liang vaginaku.
Dengan liang vaginaku yang sudah terpaku oleh penis yang begitu
keras itu, aku hanya bisa diam menunggu waktu sebelum didera nikmat
orgasme. Pak Sigit sendiri sempat mendiamkanku beberapa saat sebelum ia
mulai menggerakkan pinggulnya untuk memompa liang vaginaku yang saat ini
sebenarnya sedang terasa begitu penuh.
“Mmmh…” aku merintih dan menggeliat keenakan di bawah tindihan pak Sigit.
Selagi kami bersetubuh aku sempat memperhatikan wajah pak Sigit
yang kira kira berusia empat puluhan ini. Dan aku mulai mengomel dalam
hatiku. Duh, orang ini, mengapa juga ia melepas kacamatanya? Walaupun
juga terlihat jelek, rasanya masih mendingan waktu ia memakai kacamata
hitam daripada sekarang. Sudah begitu, matanya itu bergerak liar seperti
jelalatan, hingga membuatku makin bergidik ngeri.
Dan aku nyaris menjerit ketika tiba tiba wajah itu sudah begitu
dekat dengan wajahku, mencari bibirku. Karena aku tak mungkin bisa
menghindar, aku memejamkan mataku kuat kuat. Jantungku berdegup kencang
saat aku merasakan pagutan pada bibirku.
Sementara itu, tusukan penis pak Sigit pada liang vaginaku makin
menghebat. Rasa panas sudah menjalar ke seluruh tubuhku, bahkan rasa
ngeri yang sempat menghinggapiku tadi itu sudah lenyap dan berganti
dengan gairah yang makin memuncak. Apalagi kemudian pak Sigit menambah
semua sensasi yang menyiksaku ini dengan memberikan remasan pada
payudara kiriku.
Maka dengan penuh gairah, aku membalas pagutan pak Sigit itu dengan
sepenuh hatiku. Aku tak keberatan saat lidah pak Sigit mulai membanjir
memasuki mulutku, bahkan hal itu serasa menambah nikmat yang kurasakan
saat berpagut bibir dengannya.
“Mmmh… ngghhh…” aku merintih dan melenguh keenakan karena saat ini
Pak Sigit sendiri makin bersemangat menghunjam hunjamkan penisnya ke
dalam liang vaginaku ini hingga terasa begitu ngilu dan nikmat sekali
Beberapa saat kemudian liang vaginaku berdenyut tak karuan, dan
sangking enaknya aku mulai menggelepar hingga pagutan pada bibirku
terlepas. Tubuhku mengejang hebat, kedua kakiku melejang tak karuan.
Perutku sampai terangkat saat tubuhku tersentak sentak diterjang badai
orgasme.
“Aaah… angghkk…” aku mendongak tak kuasa menahan nikmat, aku
meremaskan telapak tangan kananku ini sekenanya ke sofa, sedangkan
telapak tangan kiriku ini kutekankan di bagian bawah perutku.
Sesaat kemudian tubuhku seperti kehilangan tenaga, dan aku cuma
bisa terbaring pasrah dengan tubuh yang sesekali tersentak saat pak
Sigit masih terus menggenjot liang vaginaku.
“Kenapa non?” tanya pak Sigit di antara dengusan nafasnya yang memburu.
“Mmm… enak…” aku mengguman pelan.
“Nanti bapak keluarin di dalam sini ya non?” tanya pak Sigit dengan bernafsu. “Pasti lebih enak lagi.”.
“Terserah…” aku tidak membantah.
Dengan penuh semangat pak Sigit terus menggagahiku, hingga aku
kembali tersiksa oleh rasa ngilu yang begitu nikmat pada liang vaginaku
ini. Walaupun nafasku kembali tersengal sengal akibat gairahku terus
terbakar, tapi saat ini aku sudah terlalu lemas untuk menggeliat
keenakan.
“Non, gantian bapak yang tiduran ya?” tiba tiba pak Sigit bertanya dan ia menghentikan gerakannya.
“Mmmh… Eliza udah capek pak,” aku merintih pelan mencoba menolak.
“Nanti kan bapak pijitin,” pak Sigit memaksa.
Dengan malas aku mencoba berdiri, tapi aku lupa sama sekali kalau
penis pak Sigit masih bersarang di dalam liang vaginaku. Akibatnya saat
aku sudah hampir dalam posisi duduk, liang vaginaku teraduk dengan
sukses, hingga aku melenguh keenakan dan kembali roboh ke sofa.
“Pak… lepasin dulu dong burungnya,” aku mengomel pada pak Sigit dalam keadaaan terangsang.
“Waduh, tadi bapak kira non nggak mau,” kata pak Sigit membela diri. “Sebentar non.”
“Ngghh…” aku kembali melenguh saat kepala penis itu tertarik keluar
dengan perlahan dan akhirnya lepas dari liang vaginaku..
“Kenapa non?” tanya pak Sigit yang menyeringai lebar, sepertinya ia senang telah menaklukanku seperti ini.
“Nggak… nggak apa apa,” aku menjawab dengan hati yang mendongkol.
Aku kembali mencoba berdiri, lalu pak Sigit yang mungkin merasakan
kalau aku sudah meninggalkan sofa, dengan santainya menggantikan
posisiku dan berbaring telentang di atas sofa itu.
“Ayo non,” kata pak Sigit yang menungguku dengan penisnya yang tegak mengacung.
Diperlakukan seperti layaknya seorang budak seks seperti ini, entah
kenapa gairahku malah semakin terbakar. Tanpa menjawab ataupun
membantah, aku naik ke sofa dan bersiap untuk menunggangi penis pak
Sigit itu, walaupun tubuhku sudah terasa seperti remuk.
“Iya… gitu… aah…” pak Sigit merintih dan meracau saat aku memasangkan kepala penisnya itu pada liang vaginaku.
“Ngghh…” ganti aku yang melenguh nikmat selagi pak Sigit terus
merintih, saat aku menurunkan badanku dan memaksa liang vaginaku untuk
menelan penis itu.
Pak Sigit tak membiarkanku diam berlama lama, karena sesaat
kemudian satu sentakan dari tubuhnya membuat kedua mataku terbeliak
karena liang vaginaku serasa dipaku dari bawah. Aku kembali melenguh dan
kepalaku terdongak pasrah, seiring dengan tertekuknya punggungku ke
belakang.
Namun kedua tanganku ini ditangkap dan ditarik oleh pak Sigit ke
arahnya. Maka tubuhku kembali maju ke depan hinga rebah dan menindih
tubuhnya. Dan pak Sigit tak membiarkan bibirku menganggur, ia segera
mendekap tubuhku dan mencari bibirku lagi. Saat ini kalaupun aku ingin,
tak ada yang bisa kulakukan untuk mengelak, dan akhirnya pak Sigit
berhasil menemukan bibirku.
“Mmmh… mmmhhk…” aku merintih dan melenguh karena pak Sigit sudah
memagut bibirku sambil mulai menggerakkan pinggulnya dan memompa liang
vaginaku.
Tak ada yang bisa kulakukan selain menggeliat pasrah saat tubuhku
tersentak sentak dipermainkan pak Sigit. Rintihanku yang tertahan ini
membuat gairahku makin bergolak, apalagi sekarang ini liang vaginaku
terasa enak sekali.
Semua itu masih ditambah dengan ganasnya pagutan bibir pak Sigit.
Lidahnya menyeruak masuk ke dalam mulutku, dan ia menyedot semua air
ludahku dengan sekuat kuatnya. Pandanganku sudah meredup, kedua tanganku
tergeletak lemas di samping kepala pak Sigit.
Saat ini pak Sigit sepertinya benar benar ingin menikmati diriku
sepenuhnya. Ia memeluk pinggangku dan menghunjam hunjamkan penisnya
sepenuh tenaga, sambil meminum habis air ludahku. Akhirnya aku
memejamkan mataku, pasrah membiarkan diriku menjadi mainan pak Sigit.
Pelan tapi pasti, nafasku jadi semakin tak beraturan. Dipompa habis
habisan seperti itu, liang vaginaku berdenyut tak karuan, dan dengan
cepat aku kembali menyerah dilanda orgasme.
“Aah… aduh paaak…” aku menjerit keenakan karena pak Sigit terus
memompa liang vaginaku tanpa belas kasihan. Ia seperti tak perduli
betapa aku sedang menggeliat tak karuan karena tubuhku luluh lantak
diterjang badai orgasme.
“Nggghh…” aku hanya bisa melenguh lenguh, ketika cairan cintaku
serasa terus membanjir. Tubuhku mengejang ngejang susul menyusul,
sedangkan kedua betisku melejang tak karuan. Hampir semenit aku tersiksa
dalam kenikmatan ini, sebelum akhirnya tubuhku ambruk menindih pak
Sigit.
Saat ini aku sudah malas untuk mengatakan sesuatu. Nafasku tinggal
satu satu, dan seluruh sambungan tulang di tubuhku ini serasa terlepas.
Keringatku sudah membanjir deras, aku bahkan sudah tak merasakan
dinginnya AC di ruangan ini.
“Capek ya non?” tanya pak Sigit.
“Mmm…” aku hanya mengguman pelan.
“Bapak terusin ya,” tanya pak Sigit lagi.
“Terserah…” aku menjawab dengan lemah.
Dan pak Sigit kembali menggerak gerakkan pinggulnya. Dalam hati aku
bertanya tanya, apakah pak Sigit ini memang seperti Wawan yang bisa
memaksaku orgasme berulang ulang sebelum ia sendiri mencapai
kepuasannya?
Yang jelas penis itu tetap keras seperti tadi, dan akibatnya
gairahku yang memang belum turun ini kembali terbakar. Aku merintih dan
melenguh, namun aku sudah tak bisa berbuat apa apa lagi untuk menikmati
semua ini. Tak ada tenaga yang bisa kupakai untuk sekedar meremaskan
jemari tanganku pada sofa ini, apalagi untuk menggeliat keenakan seperti
tadi.
Dengusan nafas pak Sigit makin jelas terdengar. Ow, akhirnya… aku
merasa sedikit lega karena aku sudah merasa capek sekali, dan aku
berharap pak Sigit sudah berejakulasi sebelum aku harus orgasme lagi.
Tapi celakanya, pak Sigit makin bersemangat menggenjot liang vaginaku.
Sodokan demi sodokan yang kurasakan pada liang vaginaku ini makin
menghebat seiring dengan dengusan nafas pak Sigit yang makin tak karuan.
“Aaah… aduh paak…”
“Kenapa nooon… ooooh…”
“Nggggh… enaak… rasanya masuk semuaa… ngghhh…”
“Suka ya noon… errgh…”
“Iyaah…”
Setelah sempat saling meracau, tiba tiba pak Sigit mengangkat
dadanya hingga tubuhku yang menindihnya ini juga sedikit terangkat.
Akibatnya penis pak Sigit melesak semakin dalam seakan hendak mencari
dinding rahimku.
“Paak…” aku hanya bisa merintih sangking enaknya.
Jawaban pak Sigit hanyalah dengusan dan geraman, selagi ia
melakukan gerakan seperti sit up. Aku semakin menderita, karena hunjaman
demi hunjaman penis pak Sigit pada liang vaginaku ini jadi semakin
terasa nikmat.
“Ngggh… ampun paaak…” aku meracau di antara lenguhanku.
Dan seperti tadi, pak Sigit hanya menjawab dengan dengusan dan
geramannya. Pandanganku mulai meredup, rasa panas kembali menjalari
tubuhku. Aku menyandarkan kepalaku di pundak kiri pak Sigit dengan
pasrah. Aku merasakan air ludahku mengalir dari sudut kiri bibirku,
perlahan membasahi bagian daguku.
Dalam keadaan hancur hancuran seperti ini, aku masih disiksa dengan
rasa ngilu yang amat nikmat pada liang vaginaku. Akhirnya aku
mendapatkan orgasme lagi untuk yang ke sekian kalinya. Aku hanya bisa
merintih dan melenguh, selagi tubuhku tersentak sentak dalam pelukan pak
Sigit. Seluruh otot perutku terasa mengejang, dan kedua betisku terus
melejang tak karuan.
“Aduh… memeknya non Elizaa… enaknyaa…” racau pak Sigit. “Burung bapak seperti diurut urut di dalam sini”
“Nggghh…” aku hanya bisa melenguh keenakan.
Tiba tiba pak Sigit menghentikan gerakan sit up yang sejak tadi
dilakukannya itu, saat penisnya terhunjam begitu dalam pada liang
vaginaku.
“Eeerrgh… nooon… bapak keluarin… di dalam yaaah…”
“Iyaa paak…”
“Kalau non hamil…”
“Biar ajaaah…”
“Huu… huoooh…” pak Sigit melolong panjang, tubuhnya berkelojotan,
dan aku merasakan cairan hangat menyemprot liang vaginaku sampai
beberapa kali.
Setelah tertekuk beberapa saat, tubuhku ambruk menindih pak Sigit.
Aku menyembunyikan wajahku di pundak kanan pak Sigit, sementara kedua
tanganku tergeletak lemas di samping kiri dan kanan begitu saja. Kini
tinggal desah nafas kami berdua yang bersahut sahutan memenuhi ruangan
ini.
“Udah keluar non…” kata pak Sigit dengan suara lemas
“Mmm…” aku mengguman tanpa daya, karena tenagaku serasa tersedot
habis, bahkan aku terlalu lemas untuk sekedar melepaskan penis pak Sigit
yang masih asyik mengisi liang vaginaku ini.
-x-
XIII
Nikmatnya Pijat Plus Plus
Sudah sekitar setengah jam ini aku harus rela menjadi budak seks
pak Sigit. Rasa capek yang hari ini sempat berkurang, kini kembali
mendera tubuhku, terutama pada bagian betisku yang kembali terasa begitu
pegal. Aku jadi teringat dengan tawaran pijat pak Sigit yang tadi.
“Pak Sigit… ayo tanggung jawab!” aku menagih janji pak Sigit yang
kini memeluk tubuhku dan sibuk membelai rambutku. “Tadi pak Sigit bilang
mau mijitin Eliza untuk ngilangin capek. Tapi sekarang Eliza malah jadi
capek gini gara gara pak Sigit.”
“Oalah, tak kiro tanggung jawab ngawinin non mari metu nang njero
maeng,” kata pak Sigit sambil tertawa. “Tiwas bapak wis seneng non.”
“Yee… maunya!” aku mencibir sambil terus berusaha mengatur nafasku.
(Untuk yang tak mengerti, pak Sigit mengatakan bahwa dia
mengira tanggung jawab yang kumaksud adalah mengawiniku, karena tadi ia
sudah mengeluarkan spermanya di dalam liang vaginaku. Dan dia sudah
terlanjur senang : p)
“Oh iya, non Eliza punya minyak tawon?” tanya pak Sigit.
“Nggak punya sih,” jawabku heran. “Memangnya buat apa pak?”
“Supaya lebih licin waktu mijat non,” jawab pak Sigit. “Jadi
kulitnya non nggak sampai sakit kalau kena gesek jari tangan bapak.”
Tiba tiba aku teringat dengan Vaseline body lotion yang ada di dalam tasku.
“Mmm… Eliza punya body lotion,” kataku pelan. “Kalau pakai itu boleh nggak?”
“Kalau bisa bikin kulit non licin, boleh saja non,” jawab pak Sigit.
“Eliza ambilin bentar ya,” kataku pelan.
Aku mengangkat tubuhku yang masih menindih pak Sigit ini, hingga
penis yang sudah lunak dan makin mengecil itu terlepas dari jepitan
liang vaginaku. Dan hal itu membuatku menggigit bibir menahan nikmat.
Dengan sedikit tertatih, aku melangkah ke arah tasku, untuk mengambil
sebotol Vaseline body lotion berukuran kecil, yang memang selalu kutaruh
di dalam situ.
“Ini pak,” kataku sambil memberikan botol Vaselineku yang tutupnya sudah kubuka.
“Oke non, ayo bapak pijitin,” kata pak Sigit. “Non Eliza tidur di sofa dulu, tengkurap ya.”
Dengan mengumpulkan sisa tenagaku, aku melangkah ke sofa untuk
berbaring tengkurap di atasnya, setelah itu aku mencari posisi yang
paling nyaman.
“Pak Sigit,” kataku pelan. “Tolong pijitin betis Eliza dulu yah?”
“Beres non,” jawab pak Sigit. “Tapi sekalian saja, bapak mulai dari telapak kaki dulu ya?”
“Mmm… terserah deh,” jawabku pasrah.
Sesaat kemudian pak Sigit mulai memijit telapak kaki kananku. Aku
mendesis pelan karena rasanya sedikit sakit. Tapi setelah hampir lima
menit, entah aku yang mulai terbiasa atau pak Sigit mengurangi tekanan
dari pijitan tangannya, perlahan aku mulai bisa menikmati pijatan pak
Sigit. Mungkin juga karena pak Sigit sudah mulai menggunakan Vaseline
untuk melicinkan kulit tubuhku yang akan dipijit.
Dan harus kuakui, pijitan pak Sigit membuat rasa pegal yang mendera betisku kananku itu sudah berkurang banyak.
“Enak kan non?” tanya pak Sigit.
“Iya…” jawabku pelan sambil tetap memejamkan mataku.
Pak Sigit meneruskan pijitan itu sampai ke belakang pahaku, dan
makin terbuai saja. Rasanya memang nikmat sekali, membuatku ingin kaki
kiriku juga mendapat pijitan seperti ini sekarang juga. Dan seperti tahu
akan harapanku, tak lama setelah itu pak Sigit beralih ke telapak kaki
kiriku. Sama seperti tadi, dari awalnya aku merasa sedikit sakit, lama
lama pijitan itu terasa nikmat.
Dan aku berpikir pijitan ini akan berlangsung wajar saja, sampai
ketika pak Sigit selesai memijit paha kiriku dan beralih ke sepasang
bongkahan pantatku. Ketika pjitan sampai ke arah bawah di antara kedua
pahaku, aku tahu pak Sigit sengaja menyentuhkan jari jarinya sampai
beberapa kali pada bibir vaginaku.
“Mmmh…” aku merintih pelan.
“Kenapa non?” tanya pak Sigit sambil menghentikan pijitannya.
“Jangan be…” aku tercekat sejenak. “Jangan begitu pak.”
Hampir saja aku berkata jangan berhenti.
“Begitu gimana ya non?” tanya pak Sigit yang kini malah meneruskan kenakalannya.
“Sssh…” aku mendesah. “Ya itu pak…”
“Ini kenapa non? Enak?” tanya pak Sigit yang terus menggoda bibir vaginaku.
“Iya… tapi…” aku terkejut dengan jawabanku tadi dan wajahku terasa panas sekali.
Pak Sigit tertawa panjang, dan aku mulai menderita akibat sentuhan sentuhan nakal pada bibir vaginaku itu.
“Mmmhh…” tiba tiba aku merintih panjang karena salah satu jari pak
Sigit dengan perlahan melesak masuk mengisi liang vaginaku, dan dengan
cepat gairahku terbakar lagi ketika jari yang nakal itu mengaduk aduk
vaginaku sampai kembali terasa ngilu.
“Lho pak… katanya… ngghh… mau mijitin??” aku memprotes di antara lenguhanku.
“Ya ini kan lagi mijitin, non,” jawab pak Sigit dan tangan satunya mulai memijit belakang pinggangku.
“Tapi… itu…” aku merengek tak tahu harus berkata apa. “Aaah…”
Jari pak Sigit menusuk begitu dalam, lalu mengaduk dengan tanpa
belas kasihan. Aku merintih keenakan, kedua tanganku kugenggamkan pada
dudukan tangan di sofa ini. Rasa ngilu yang mendera liang vaginaku makin
menjadi jadi, dan aku mulai menggeliat keenakan, ketika jari tangan itu
tiba tiba meninggalkan liang vaginaku begitu saja.
“Ooh…” aku mengeluh kecewa, tapi pak Sigit pura pura tidak tahu dan
ia meneruskan pijitannya pada belakang pinggangku, padahal nafasku
masih tersengal sengal akibat ulah jari tangannya itu tadi.
Aku jadi teringat dengan perlakuan pak Basyir padaku sewaktu di
villa dulu. Dengan menahan rasa kecewa yang bercampur dengan gairah, aku
membiarkan pak Sigit terus memijit tubuhku. Sulit sekali memadamkan
gairahku ini, terutama ketika pak Sigit memijit bagian pinggir
punggungku.
Aku tahu pak Sigit memang beberapa kali dengan sengaja menyentuhkan
ujung jari jari tangannya pada payudaraku. Namun kali ini aku tak
berkata apa apa, karena aku tak mau membuat pak Sigit malah makin
bersemangat menggodaku seperti tadi. Aku hanya bisa menggigit bibir
menahan gairahku dan kembali meremaskan kedua telapak tanganku sekenanya
pada sofa ini.
“Ayo non, berbaring telentang,” kata pak Sigit setelah cukup lama memijit punggungku.
Jantungku berdegup kencang. Tadi waktu masih tengkurap saja, pak
Sigit sudah mencuri curi kesempatan untuk membuatku terangsang, apalagi
kalau aku harus telentang. Aku tahu kalau sebentar lagi tubuhku akan
dijarah habis oleh pak Sigit, tapi aku tak membantah, dan perlahan aku
membalik badanku, hingga sekarang aku sudah tidur telentang di sofa ini.
Setelah aku tidak bergerak gerak lagi, pak Sgiit mulai mencari
kakiku. Ia menemukan pergelangan kaki kiriku, dan tangannya terus
merayap ke telapak kakiku. Sesaat kemudian aku mulai merasakan pijitan
di telapak kaki kiriku itu, dan seperti tadi, pijitan itu terus merayap
hingga ke paha kiriku ini.
Ketika kedua pahaku sudah selesai dipijit, jantungku berdegup
kencang. Kenakalan apa lagi yang akan dilakukan pak Sigit terhadap
tubuhku?
Ternyata dugaanku meleset, karena pak Sigit malah mencari tangan
kananku. Lalu ia memijit dengan lembut, mulai dari lengan atas sampai ke
lengan bawah.
“Tangannya non Eliza ini halus sekali ya,” kata pak Sigit sambil membelai punggung telapak tanganku.
“Masa sih pak?” kataku sambil tersenyum kecil.
“Iya non. Bapak yakin yang punya ini pasti nona yang cantik sekali,” kata pak Sigit lagi.
“Gombal deh,” kataku dengan menahan geli. “Memang ada hubungannya?”
“Ya ada non,” jawab pak Sigit sambil meraba wajahku. “Kulit muka
non ini juga sehalus tangannya non ini, jadi bapak nggak mungkin salah!”
“Ah… bapak bisa aja,” kataku dengan hati senang walaupun aku tahu pak Sigit sedang menggombal.
Berikutnya pak Sigit ganti memijit seluruh tangan kiriku. Aku benar
benar terbuai, rasanya nyaman sekali. Kalau saja aku memikirkan keadaan
tubuhku yang telanjang bulat seperti ini, aku pasti menuruti rasa
kantukku dan tidur begitu saja.
Setelah kedua tanganku selesai, pak Sigit mulai memijit kedua
pundakku hingga ke leher. Beberapa kali aku merintih nyaman, menikmati
pijitan pak Sigit ini. Namun ketika pijitan itu beralih ke bagian
dadaku, keadaanku kembali kacau karena terbakar gairah.
“Eh… sssh… mmmhh…” aku mulai sibuk mendesah dan merintih.
Kedua payudaraku yang malang ini kembali menjadi mainan pak Sigit.
Rasanya hanya sebentar saja ia benar benar memijit, lalu berikutnya aku
hanya merasakan rabaan dan belaian lembut pada kedua payudaraku ini
Sudah gitu, nih orang pakai senyum senyum lagi, membuat hatiku makin
mendongkol.
Tapi entah kenapa aku tak tega juga untuk menegur pak Sigit.
Mungkin karena aku merasa iba dengan keadaan matanya yang buta. Maka aku
hanya diam saja, membiarkan pak Sigit yang sekarang ini duduk di
samping kiriku untuk berbuat sesuka hatinya pada kedua payudaraku ini.
Ketika pak Sigit mulai menurunkan kepalanya, aku sudah tahu apa
yang akan ia perbuat. Jantungku berdegup kencang dan nafasku mulai
memburu. Kedua mataku kupejamkan dan jemari tanganku kuremaskan pada
sofa ini.
“Ssshh…” aku mendesah nikmat ketika ia sudah berhasil menemukan puting payudara kiriku ini dan memagut dengan ganas.
“Eh… sakit pak…” aku merintih ketika tiba tiba pak Sigit beberapa
kali meremaskan tangan kanannya kuat kuat pada payudara kiriku selagi ia
mencucup putingku ini.
“Maaf non, bapak lagi pingin nyusu,” kata pak Sigit. “Kok nggak
bisa keluar ya susunya non? Padahal bapak pingin sekali minum susunya
non Eliza.”
“Ngghh…” aku melenguh dan menggeliat pelan. “Ya mana bisa pak… Eliza kan belum punya bayi… aduuh…”
“Masa nggak bisa sih non?” tanya pak Sigit dengan nada tak percaya, dan ia kembali mencucup puting payudaraku kuat kuat.
“Aaaww…” aku merintih lemah.
“Kalau gitu bapak coba satunya aja,” kata pak Sigit.
“Eh… pak… jangan… ooooh…” aku kembali merintih ketika ganti puting
payudara kananku yang menjadi korban pagutan bibir pak Sigit.
Setelah hampir setengah menit pak Sigit mencoba meminum susu dari
puting payudara kananku ini, dan tentu saja tak berhasil, barulah ia
menyerah.
“Wah, kok nggak bisa ya?” keluh pak Sigit.
“Ya nggak bisa lah pak,” aku menggerutu dengan hati mendongkol.
“Kan tadi Eliza udah bilang kalau belum punya bayi. Lagian, memangnya
Eliza ini sapi ya pakai diperas seperti itu??”
“Aduh maaf ya non,” kata pak Sigit. “Abisnya bapak tadi kepingin sekali.”
Baru saja minta maaf, pak Sigit sudah kembali mengulum puting
payudara kiriku. Bahkan ia membelai dan meremasi payudara kananku ini
dengan kedua tangannya. Sekali ini aku hanya bisa memejamkan mataku,
merintih dan menggeliat pasrah.
Ketika akhirnya pak Sigit puas menjadikan kedua payudaraku ini
sebagai mainannya, ia beralih memijat perutku dengan lembut. Rasanya
nyaman sekali, hingga walaupun gairahku belum sepenuhnya reda akibat
ulah pak Sigit tadi, kini aku kembali mengantuk. Aku terus memejamkan
mataku dan merintih perlahan, menikmati pijatan pak Sigit.
Tapi lagi lagi hal itu cuma berlangsung sebentar. Ketika pijatan
itu mengarah makin ke bawah perutku, aku mulai sibuk mendesah, karena
bibir vaginaku sudah menjadi korban kenakalan jemari pak Sigit.
“Mmhh…” aku merintih perlahan. “Pak… tadi kan udah…”
“Udah apa non?” jawab pak Sigit dan ia malah makin bersemangat menggoda bibir vaginaku dengan jari jarinya itu.
Aku menggeliat pelan, rasa panas kembali menjalari seluruh tubuhku.
Dan ketika jemari itu mengintip liang vaginaku beberapa kali, jantungku
berdegup kencang, karena aku sudah tahu apa yang akan terjadi pada
liang vaginaku ini.
Dan memang beberapa saat kemudian, salah satu jari tangan pak Sigit tenggelam ke dalam liang vaginaku.
“Aduh… pak… kok dimasukin lagi sih…” aku merengek.
“Abisnya hangat hangat enak non,” jawab pak Sigit.
“Ngaco ah… aaah…” aku tak bisa mengomel lebih lama karena jari jari itu mulai bergerak mengaduk liang vaginaku.
Makin lama gerakan jari pak Sigit di dalam sana menjadi semakin liar, membuatku menggelepar dan menggeliat keenakan.
“Pak… udaah…” aku meracau di tengah penderitaanku ini.
Dan jawaban yang kuterima dari pak Sigit membuat kedua mataku
terbeliak. Tanpa belas kasihan pak Sigit malah memasukkan satu jarinya
yang lain, hingga liang vaginaku harus menelan dua jari tangannya
sekaligus. Kedua kakiku mengejang sesaat, aku hanya bisa menggeleng
gelengkan kepalaku kuat kuat saat dua jari itu mulai mengaduk aduk liang
vaginaku.
“Ngggh… ampun paak…” aku melenguh keenakan saat cairan cintaku harus kembali membanjir.
Dengusan nafas pak Sigit mengiringi orgasme yang menderaku. Ia
begitu bersemangat mengaduk aduk liang vaginaku. Akibatnya tubuhku
mengejang tak karuan, dan aku hanya bisa melenguh keenakan karena didera
orgasme yang datang susul menyusul. Seluruh tubuhku terus tersentak
hebat, dan tenggorokanku serasa tercekat hingga aku sulit sekali
bernafas.
Aku makin tersiksa karena otot perutku ini mengejang dan mengejang.
Keringat membasahi sekujur tubuhku. Entah sudah berapa banyak cairan
cinta yang mengalir keluar dari liang vaginaku yang terasa ngilu tak
karuan ini.
“Nggh…” aku melenguh lemah dan tubuhku tergeletak pasrah ketika
akhirnya pak Sigit menghentikan adukan kedua jarinya pada liang vaginaku
ini.
Nafasku tersengal sengal tak karuan. Denyutan demi denyutan otot
liang vaginaku masih begitu terasa. Sesekali tubuhku tersentak kecil
menikmati sisa orgasmeku. Rasanya lemas sekali, sambungan tulang tulang
di tubuhku ini sepertinya sudah terlepas semuanya. Jemari kedua tanganku
ini kuremaskan sebisaku pada sofa ini.
-x-
XIV
Pembantaian Terakhir
Dengusan nafas kami berdua masih cukup keras, ketika tiba tiba aku mendengar suara pak Sigit yang memanggilku.
“Non Eliza?”
“Mmm…”
“Itu… burung bapak bangun lagi.”
“Burung itu kok nakal sekali sih pak?”
“Nggak tau non, tapi bapak jadi kepingin sekali main sama non Eliza lagi.”
“Duh, lagi?”
“Iya non, satu kali iniii aja. Toh abis ini bapak kan belum tentu bisa ketemu non lagi?”
Aku menghela nafas panjang dan membuka mataku untuk melihat penis
pak Sigit itu. Ternyata penis itu memang sudah kembali tegak mengacung.
Tiba tiba liang vaginaku terasa ngilu ketika aku membayangkan penis itu
akan kembali mengisi liang vaginaku ini.
“Mmmh…” aku merintih pelan. “Iya deh.”
Setelah menjawab permintaan pak Sigit, aku pikir ia akan segera
menindih tubuhku dan menggenjot liang vaginaku dengan penuh nafsu. Tapi
ternyata dugaanku salah. Pak Sigit memang naik ke sofa dan menindih
tubuhku, namun ia hanya menempelkan kepala penisnya pada bibir vaginaku,
sementara ia mencari wajahku, lalu mencumbuiku dengan mesra.
Diperlakukan dengan lembut seperti ini, aku jadi merasa senang.
Maka aku memeluk punggung pak Sigit dan balas mencumbu wajahnya dengan
sepenuh hatiku. Gairahku naik dengan cepat dan jantungku berdegup
kencang, apalagi saat aku merasakan kepala penis pak Sigit itu bermanja
manja pada bibir vaginaku.
Makin lama, aku merasa pak Sigit makin bernafsu mencumbui wajahku.
Bahkan kemudian ia mencari bibirku, lalu memagut dengan ganas. Aku
sedikit gelagapan, namun berikutnya aku bisa menguasai diri, bahkan aku
mulai balas memagut bibir pak Sigit.
“Mmmh… mmmm…” aku merintih dalam keadaan terbakar gairah.
Tiba tiba pak Sigit menghentikan pagutannya. Lalu ia menarik tubuhku hingga aku terduduk di hadapannya.
“Non Eliza, bapak haus,” kata pak Sigit.
“Eh? Pak Sigit mau minum?” tanyaku ragu. Air minum di kedua gelas yang kubawa tadi itu kan sudah habis.
“Iya non,” jawab pak Sigit. “Mau minum air ludahnya non. Boleh nggak non?”
Mendengar permintaan pak Sigit ini, perasaanku benar benar
tersengat. Aku menundukkan wajahku sejenak, namun kemudian dengan penuh
gairah aku memeluk tubuh pak Sigit dan menindihnya. Lalu aku memagut
bibir pak Sigit dan melesakkan lidahku ke dalam mulutnya.
Jantungku berdegup kencang sekali saat pak Sigit yang balas memeluk
tubuhku ini mulai mengulum lidahku. Aku merasa semua air ludah di
lidahku ini diseruput habis olehnya. Ciuman ini benar benar panas dan
gairahku makin terbakar saja.
“Mmmhh…” aku merintih manja ketika akhirnya pagutan kami terlepas,
dan aku menyembunyikan kepalaku di pundak kiri pak Sigit.
“Non Eliza,” pak Sigit memanggilku.
“Iya…” desahku pelan dengan pandangan yang makin meredup.
“Bapak masih haus,” kata pak Sigit mesra. “Pingin minum lagi. Tapi sambil main ya non?”
Tanpa menjawab, dengan tenaga yang tersisa, aku mengangkat
pinggulku sedikit dan menggerakkan tangan kiriku ke tengah tubuhku dan
pak Sigit, mencari penisnya yang sudah merindukan liang vaginaku ini.
Setelah aku menemukannya, aku memasangkan kepala penis itu pada bibir
vaginaku.
“Ngggh…” aku melenguh nikmat ketika pinggulku ini kuturunkan hingga penis pak Sigit kembali mengisi liang vaginaku.
“Ooooh…” rintih pak Sigit. “Enaknya noon…”
Dan aku tidak melupakan permintaan pak Sigit. Sesaat kemudian aku
mengangkat wajahku yang sejak tadi kusandarkan di pundaknya, lalu bibir
kami kembali saling berpagut. Dengan penuh penyerahan, aku melolohkan
air ludahku ke dalam mulut pak Sigit selagi ia mulai menggenjot liang
vaginaku.
Rintihan dan desahan kami berdua saling bersahutan memenuhi ruangan
ini. Kami bersetubuh dengan panas, gerakan kami berdua makin liar. Dan
aku melenguh tertahan saat pak Sigit kembali menyiksaku dengan gerakan
sit up seperti tadi. Hunjaman penis yang berukuran raksasa itu jadi
semakin terasa, membuatku menggeliat keenakan dalam pelukan pak Sigit.
“Mmmhhh… anggghhkk…” punggungku sampai terdongak ketika aku melenguh sejadi jadinya.
“Enak ya non? Heenggh!” geram pak Sigit.
“Iya… enak…” aku meracau dengan tubuh yang terus menggeliat.
“Kenapa… kok enak non… eeergh…” geram pak Sigit yang mempererat
pelukannya pada pinggangku sambil menghunjamkan penisnya dengan begitu
dalam pada liang vaginaku ini.
“Aaawww… soalnya burung itu… masuk semuah…” aku terus meracau tak
karuan menikmati rasa ngilu yang makin menjadi pada liang vaginaku ini.
Tiba tiba pak Sigit memeluk punggungku, lalu ia beranjak duduk
hingga aku juga duduk di hadapannya dengan penisnya yang masih menusuk
liang vaginaku. Gerakan pak Sigit itu membuat liang vaginaku teraduk
penisnya yang terus berdenyut itu, hingga tubuhku bergetar hebat. Aku
memejamkan mataku menikmati semua itu, dan aku terlalu malas untuk
mengatupkan bibirku yang masih ternganga ini walaupun aku merasakan air
ludahku mulai mengalir dari ujung kiri bibirku.
Dalam posisi duduk seperti ini, pak Sigit menggoyangkan pinggulnya
maju mundur, hingga kepalaku terdongak ke belakang saat rasa nikmat yang
amat sangat itu mendera liang vaginaku. Aku tak bisa ke mana mana,
karena pelukan pak Sigit begitu erat, tapi aku memang tak berniat untuk
melepaskan diri, dan dalam keadaan terbakar gairah aku malah balas
menggoyangkan pinggulku, hingga liang vaginaku makin teraduk aduk oleh
penis pak Sigit.
“Ngggh… ngggghh…” aku melenguh panjang saat aku harus kembali
takluk pada terjangan badai orgasme untuk yang ke sekian kalinya ini.
Tubuhku menggeliat hebat. Kepalaku terkulai ke depan, tersandar di
pundak kiri pak Sigit. Jemariku kuremaskan pada kulit punggung pak
Sigit. Nafasku tersengal tak karuan. Kini aku mulai kelelahan, rasanya
aku sudah capek sekali dan mengantuk. Aku tak juga mengatupkan bibirku
walaupun aku merasa air ludahku kembali mengalir dari ujung bibir
kananku, rasanya saat ini aku begitu lemas untuk melakukan apapun.
Belum juga orgasmeku reda, pak Sigit memajukan badannya dan
menindih tubuhku. Aku menggeliat lemah karena penis pak Sigit yang sejak
tadi tertanam dalam liang vaginaku ini kembali bergerak mengaduk dan
memompa. Aku merintih ldan menggeliat perlahan, namun makin lama rasa
ngilu pada liang vaginaku ini semakin menyiksaku.
“Aaaah… paaaak… aduuuh…” akhirnya aku kembali meracau dan sekali ini aku harus menjerit keenakan. “Nggghhh… ampun paaak…”
Tubuhku menggeliat dan mengejang hebat, kedua kakiku melejang
lejang tak karuan. Cairan cintaku serasa membanjir begitu banyak. Aku
merasa mataku terbuka, tapi aku tak melihat apa apa. Dan aku masih terus
dihajar badai orgasme ini ketika pak Sigit mulai mendengus tak karuan.
“Heengggh… enaknya noon…” pak Sigit juga mulai meracau.
Aku sudah tak bisa menanggapi, tubuhku terus tersentak dan nafasku tersengal sengal.
“Eerrghh.. huaaaah…” geram pak Sigit selagi tubuhnya berkelojotan,
dan aku kembali merasakan semburan cairan hangat dalam liang vaginaku.
Aku tergeletak lemas di sofa dalam keadaan ditindih pak Sigit,
dengan penisnya yang masih mengisi liang vaginaku. Tubuh kami berdua
basah oleh keringat, walaupun sebenarnya AC ruangan ini dingin sekali.
Sementara itu pak Sigit terus mencumbui wajahku, dan aku hanya
memejamkan mataku sambil berusaha mengatur nafasku.
-x-
XIV
Ketika Tukang Servis Piano Itu Pulang
Setelah istirahat beberapa saat lamanya, akhirnya aku merasa tenagaku sedikit pulih.
“Pak Sigit, berat ah,” kataku sambil mencoba mendorong tubuh pak Sigit yang masih enak enakan menindihku.
“Oh iya, maaf non,” kata pak Sigit. “Abis enakan tidur di badannya non daripada di sofa.”
“Yee… Eliza kan bukan kasur,” aku memprotes. “Ayo pak… turun dong.”
Pak Sigit tertawa, lalu ia melepaskan tindihannya hingga penis itu
juga ikut tertarik lepas dari liang vaginaku, membuatku sempat mendesis
lirih. Lalu ia turun dan duduk di sampingku.
“Pak, liat nih, Eliza capek lagi gara gara bapak,” aku mengeluh
pelan. “Tolong pijitin kaki Eliza lagi ya? Tapi jangan pakai gituan lagi
pak.”
“Iya non, cuma pijit saja kok,” kata pak Sigit. “Bapak janji.”
Sambil memijit kakiku, pak Sigit mulai mengajak aku mengobrol.
“Non Eliza, kalau piano ini sudah waktunya diservis lagi, non mau nggak, datang lagi untuk nemenin bapak?”
“Mmm… nggak janji deh pak. Lagian, waktu itu kan belum tentu rumah Cie Natalia ini kosong lagi seperti sekarang?”
“Kalau gitu, saya bisa ketemu sama non Eliza lagi nggak?”
“Nggak tau juga sih. Memangnya kenapa pak?”
“Bapak pasti kangen sama non Eliza.”
Aku diam tak tahu harus menjawab apa mendengar kata kata pak Sigit
yang terakhir ini. Pak Sigit sendiri juga diam sambil meneruskan
pijitannya pada kedua betisku. Sekitar lima menit kemudian, rasa pegal
pada betisku sudah berkurang banyak.
“Udah pak, pegalnya udah hilang. Terima kasih,” kataku pada pak Sigit.
“Iya non,” kata pak Sigit dengan nada sedih.
“Kok sedih gitu sih pak?” tanyaku sambil beranjak duduk, dan dengan iba aku memandang pak Sigit.
“Sungguh bapak berharap bisa ketemu non lagi,” jawab pak Sigit.
“Dari semua langganan bapak, cuma non Eliza yang memperlakukan bapak
sebaik ini.”
Aku sedikit terharu mendengar kata kata pak Sigit. Dan aku langsung
membantu pak Sigit yang meraba raba lantai mencari pakaiannya. Ketika
aku memakaikan celana dalam pak Sigit, aku melihat sisa cairan putih di
ujung kepala penis pak Sigit, sedangkan batang penisnya itu basah
mengkilat, pasti oleh cairan cintaku. Dan tiba tiba saja gairahku
kembali bangkit hingga nafasku jadi sedikit memburu.
“Pak Sigit,” aku berkata pelan sambil membelai penis pak Sigit. “Eliza boleh bersihkan burung ini sebelum bapak pulang?”
“Boleh non Eliza,” jawab pak Sigit cepat. “Terima kasih non yang baik.”
Tanpa berkata apa apa lagi aku memajukan wajahku hingga kepala
penis itu berada dalam kuluman mulutku. Penis itu sudah tak sekeras
tadi. Perlahan aku menggunakan lidahku untuk menjilat bagian ujungnya,
lalu aku mencucup kepala penis itu dan menyeruput semua sisa sperma pak
Sigit yang tadi disemprotkan ke dalam liang vaginaku.
“Oooh…” pak Sigit mulai meracau. “Katanya jangan pakai gituan… oooh… terus noon…”
Mendengar racauan itu, aku menahan geli. Tapi aku terus
membersihkan kepala penis itu dengan lidahku. Setelah kurasa cukup, aku
memajukan wajahku lagi, lalu mengulum cairan cintaku sendiri yang
membasahi penis itu. Batang penis itu kujilat memutar, hingga pemiliknya
berkelojotan. Reflek aku memeluk kedua paha pak Sigit dengan kedua
tanganku, karena aku tak ingin penis itu sampai lepas dari kulumanku
sebelum aku selesai membersihkan semua cairan cintaku yang menempel di
sana.
“Aduuh… aduh nooon… eeergghh…” pak Sigit menggeram keenakan menikmati servis oralku ini.
Aku terus menghisap penis itu sampai kurasa sudah bersih dari semua
cairan cintaku, lalu dengan mengatupkan bibirku erat erat, aku menarik
kepalaku menjauh, hingga akhirnya penis itu terlepas seluruhnya dari
kuluman mulutku. Melihat penis itu terkulai lemas, aku hampir tak kuat
menahan geli.
“Ooooh… oooh…” rintih pak Sigit.
“Iya iya, udah selesai kok pak,” kataku sambil mengelap penis pak Sigit dengan tissue.
“Lagi juga nggak apa apa non,” kata pak Sigit.
“Ih, udah bersih kok,” jawabku sambil membelai penis itu terakhir
kali, sebelum aku membantu pak Sigit memakai semua pakaiannya.
Setelah itu, aku membantu mengambilkan tas dan tongkat milik pak
Sigit. Ketika aku memberikan kedua barang itu, tiba tiba aku teringat
sesuatu.
“Pak Sigit, abis ini bapak pulang naik apa?” tanyaku ingin tahu.
“Ada tukang becak yang masih tetangga bapak, yang biasa jemput
bapak dengan becaknya. Dia selalu menjemput bapak kira kira satu
setengah jam setelah antar bapak datang ke tempat langganan,” jawab pak
Sigit.
“Ooo…” aku mengguman pelan
Dan tiba tiba saja jantungku berdebar kencang. Aku ingat kalau
sampai sekarang aku tidak mengunci pintu ruang piano ini. Kalau saja
tadi tukang becak yang menunggu pak Sigit itu sampai masuk ke dalam
sini, lalu melihat aku sedang ngeseks dengan pak Sigit, entah bencana
seperti apa yang akan menimpa diriku.
“Ya sudah, bapak pulang dulu ya non,” pak Sigit berpamitan padaku, menyadarkanku dari lamunanku.
“Iya… eh pak, tunggu sebentar,” aku menahan tangan pak Sigit.
“Eliza anterin bapak ke depan, tapi Eliza pakai baju dulu ya.”
“Oh iya. Makasih non yang baik,” kata pak Sigit.
Aku tersenyum kecil. Yang pertama kucari di lantai adalah celana
dalamku. Aku mengenakan benda mungil itu, lalu aku membuka tasku untuk
mengambil kaos ganti dan celana jeansku yang ada di dalam sana, tapi
perhatianku tertuju pada amplop putih, titipan Cie Natalia tadi.
Dan teringat dengan Cie Natalia, tiba tiba aku merasa ngeri sekali.
Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi kalau sampai tadi itu Cie
Natalia tiba tiba masuk ke dalam sini dan melihat aku sedang ngeseks
dengan pak Sigit. Duh, aku harus cepat berpakaian nih.
“Aduh, maaf pak… Eliza sampai lupa. Ini pak, ongkos servis piano
yang dititipkan Cie Natalia,” kataku sambil memberikan amplop itu pada
pak Sigit.
“Oh iya… bapak sendiri juga lupa. Habisnya, bapak mikirin non
terus. Terima kasih ya non Eliza,” kata pak Sigit yang lalu memasukkan
amplop itu ke dalam tasnya.
“Sama sama pak,” jawabku sambil mengenakan kaos ganti dan celana jeansku itu dengan sedikit terburu buru.
Setelah aku berpakaian dengan pantas, aku mengumpulkan bra dan
kostum baletku yang sedikit basah itu, juga stockingku yang ikut
berserakan di lantai dan ikat rambutku yang tadinya sempat kulepas itu,
lalu aku menyimpan semuanya ke dalam tasku. Tak lupa aku sekalian
memasukkan ponselku itu ke dalam tasku.
“Mari pak, Eliza anterin keluar,” kataku pada pak Sigit.
“Non Eliza, boleh nggak bapak minta cium sekali saja sebelum pulang?” tanya pak Sigit penuh harap.
“Iya deh, boleh,” kataku dengan menahan geli. “Tapi sekali aja ya pak?”
Aku melingkarkan tanganku ke belakang leher pak Sigit sambil
menyerahkan bibirku padanya. Pak Sigit mencium bibirku dengan penuh
perasaan, hingga aku memejamkan mata menikmati kemesraan dan hangatnya
ciuman pak Sigit itu.
“Makasih non,” kata pak Sigit. “Makasih.”
Aku menundukkan kepalaku tanpa menjawab. Tangan kiri pak Sigit itu
kugandeng, dan ia kutuntun sampai keluar ke pintu gerbang. Di sana, mbak
Lastri sedang menunggu di pintu gerbang yang terbuka sedikit itu,
kelihatannya ia sedang mengobrol dengan seseorang.
Setelah aku melangkah hingga cukup dekat dengan mbak Lastri, aku
baru bisa melihat bahwa mbak Lastri sedang berbicara dengan seorang
tukang becak. Tampaknya ia adalah tetangga pak Sigit yang sudah menunggu
di sini untuk menjemput.
Jantungku kembali berdegup kencang. Saat ini aku merasa sedikit
tegang karena teringat dengan kedua payudaraku yang tidak tertutup oleh
bra. Aku berharap pak Sigit yang baru saja menikmati tubuhku ini tidak
sampai hati untuk berbuat macam macam di hadapan tukang becak itu,
apalagi sekarang ini ada mbak Lastri. Belum lagi kalau Cie Natalia tiba
tiba muncul.
Setelah sedikit basa basi dan pak Sigit akhirnya pulang, aku merasa
lega dan segera masuk ke dalam rumah, menuju ke kamar Cie Natalia. Aku
menyiapkan handuk, satu stel baju tidur dan tentu saja bra dan celana
dalamku, lalu aku masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Cie
Natalia.
Dengan cepat aku mandi keramas sepuasku, membersihkan tubuhku dari
semua sisa keringat dan Vaseline yang melekat pada tubuhku. Tentu saja
aku tak lupa membersihkan liang vaginaku yang tadi sempat terisi sperma
pak Sigit sampai dua kali, sebelum akhirnya aku mengeringkan rambutku
dan juga sekujur tubuhku dengan handuk yang kubawa tadi.
Diam diam aku bersyukur karena aku tadi pagi aku tidak lupa minum
pil anti hamil. Setelah selesai, aku mengenakan semuanya, bra, celana
dalam, dan juga baju tidurku. Saat ini kakiku sudah tak terasa begitu
pegal. Mungkin karena pijatan pak Sigit sebelum pulang tadi benar benar
manjur.
Tiba tiba aku teringat, ruang piano tadi. Terutama sofa yang
menjadi saksi bisu adegan panas antara diriku dengan pak Sigit di dalam
ruang piano tadi. Bagaimana kalau mbak Lastri sekarang ini masuk ke
ruang piano untuk mengambil baki dan gelas minuman yang masih ada di
sana, lalu ia melihat sisa sisa tanda persetubuhanku dengan pak Sigit
yang mungkin tertinggal di sofa itu?
Memikirkan hal itu, aku cepat mengambil sekotak tissue dan sebotol
spray pewangi ruangan yang ada di meja Cie Natalia itu, lalu dengan
jantung berdebar aku melangkah dengan sedikit cepat menuju ke ruang
piano. Ketika aku menyalakan lampu, jantungku serasa berhenti berdetak,
karena baki minuman dan gelas gelasnya itu sudah tidak ada lagi.
Yang pertama kuperhatikan adalah sofa itu. Jangan sampai sofa itu
ternoda oleh ceceran sperma ataupun cairan cintaku. Untung sofa itu
berbau Vaseline, jadi aku rasa mbak Lastri tak akan curiga yang tidak
tidak.
Setelah aku memastikan tak ada sisa ataupun tanda dari
persetubuhanku dengan pak Sigit, aku menyemprotkan pewangi ke tengah
ruangan ini. Lalu aku mematikan lampu dan keluar dari sini, untuk
kembali ke kamar Cie Natalia.
Selagi melangkah ke sana, tiba tiba aku teringat tawaran Dedi. Ia
mengatakan kalau ayahnya adalah tukang pijat tuna netra yang ahli
menghilangkan rasa pegal dan capek. Dan aku baru saja merasakan dipijat
oleh pak Sigit yang juga seorang tuna netra, rasanya memang nyaman
sekali.
Tampaknya waktu itu Dedi memang tidak berbohong padaku. Setelah
menutup kembali pintu kamar Cie Natalia, aku mengembalikan pewangi
ruangan ini sambil terus melamun. Mungkin kelak aku akan mencoba untuk
pijat di tempat ayahnya Dedi.
Tapi tiba tiba aku berubah pikiran. Yang benar saja! Dengan pak
Sigit yang cuma satu orang pun, tadi aku sampai orgasme berkali kali
saat mendapatkan servis pijat plus plus. Lalu apa yang akan terjadi
padaku kalau sampai aku nekat menerima tawaran Dedi untuk dipijit oleh
ayahnya yang juga seorang tuna netra itu?
Aku sangat yakin, Dedi tak akan diam saja melihat aku menikmati
pijitan ayahnya. Mungkin sekali ia akan menggagahiku selagi ayahnya
memijit payudaraku, lalu ganti ayahnya yang menggenjotkan penisnya pada
liang vaginaku selagi Dedi memaksaku membersihkan penisnya dengan
mulutku.
Memikirkan semua itu, tiba tiba liang vaginaku terasa berdenyut
denyut. Dan pikiranku makin kacau ketika aku membayangkan bahwa mungkin
saja aku akan dipaksa oleh mereka untuk menginap. Bisa bisa aku mati
orgasme akibat digilir oleh mereka ayah dan anak itu sampai berkali kali
sepanjang malam.
Tiba tiba ketika aku merasakan sentuhan jari tangan pada
selangkanganku. Aku segera melihat ke bawah, dan mendapati jari tanganku
yang mulai menggoda bibir vaginaku ini, membuatkuku segera tersadar
dari lamunan erotisku ini.
Duh, mengapa juga aku teringat sama si kurang ajar itu? Aku
mengomeli diriku sendiri dan berusaha memikirkan hal yang lain, sambil
memasukkan semua baju gantiku ke keranjang baju kotor. Lalu aku
memastikan tas sekolahku sudah siap untuk besok.
Aku sempat melihat jam dinding, sekarang sudah jam setengah sepuluh
lebih sedikit. Aku tak lupa mengambil ponselku yang masih berada di
dalam tasku, untuk mengganti profilnya ke mode general, dan saat itu aku
baru tahu ada SMS yang masuk beberapa menit yang lalu.
‘Eliza, hari ini kamu udah istirahat dengan baik kan? Jangan
terlalu capek ya, nanti kamu bisa sakit lagi, apalagi sebentar lagi kan
ada ujian.’
Dengan hati yang berbunga bunga, aku cepat membalas SMS dari Andy,
memberitahunya kalau aku seharian ini sudah beristirahat dengan baik.
Aku juga sudah merasa lebih segar. Tak lupa aku mengucapkan thanks di
akhir balasanku.
Mendapat perhatian Andy seperti ini, aku merasa bahagia hingga aku
tersenyum senyum sendiri. Tapi tiba tiba hatiku meronta pilu karena aku
merasa telah membohongi Andy. Kedua mataku membasah dan aku hampir
menangis.
Baru beberapa jam yang lalu, saat aku dengan tak tahu malu telah
menggoda seorang tukang servis piano yang buta, mulai dari bertelanjang
tubuh di hadapannya, lalu memberikan servis oral padanya hingga nafsunya
bangkit terhadapku, dan melayani keinginannya untuk ngeseks denganku.
Aku masih ingat bagaimana aku sempat meracau tak karuan menikmati
persetubuhan kami hingga orgasme sampai berkali kali di dalam
pelukannya. Dan yang paling parah dari semua itu, aku bahkan menerima
tawaran pak Sigit untuk menukar tubuhku sebagai imbalan untuk servis
pijat plus plusnya.
Lalu, apa bedanya aku dengan pelacur? Apakah aku masih layak untuk
mendapatkan semua perhatian Andy? Apakah aku masih layak untuk menjadi
kekasihnya? Apakah aku pantas untuk bermimpi menjadi istrinya? Bukankah
Andy berhak untuk mendapatkan perempuan yang mampu mempersembahkan
kesucian tubuhnya pada Andy di malam pertamanya sebagai pengantin?
Memikirkan semua itu, aku semakin terbenam dalam kesedihanku.
Perlahan air mataku mulai jatuh membasahi kedua pipiku. Apalagi ketika
ada lagi SMS yang masuk dari Andy, yang mengucapkan selamat tidur
padaku.
Perhatian Andy yang harusnya membahagiakan diriku ini malah membuat
hatiku semakin sakit. Aku membalas SMS itu dalam isak tangisku, setelah
itu aku merebahkan diri di atas ranjang Cie Natalia dan menyembunyikan
tubuhku ke dalam bed cover.
“Andy… I’m sorry,” keluhku dalam hati, dan tangisku pun makin menjadi.
Aku memejamkan mataku, namun wajah Andy yang tersenyum malu malu
saat melihatku malah tergambar semakin jelas dalam pikiranku. Aku sadar
bahwa aku tidak pantas menjadi kekasih Andy, tapi aku tak tahu harus
bagaimana kalau aku sampai kehilangan dia. Maka aku hanya bisa menangis
sedih, menyesali keadaanku sekarang ini.
Entah sudah berapa lama aku menangis hingga akhirnya aku merasa
lelah dan mengantuk. Dalam kesedihanku ini, perlahan aku mulai tak ingat
apa apa lagi dan aku sudah tertidur pulas, mengistirahatkan tubuh dan
pikiranku dari hari yang melelahkan ini, setidaknya supaya aku cukup
kuat untuk menjalani hari esok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar